Search

Days in Our Lives,,,

hari hari belajar kami,,,

Category

Bunda

Notes Bunda: “Bahagia Menurutku,,,”

(Ditengah menulis dan mereview proses home education kami,, lina mau curhat sedikiiiit,, dan tetap adalah bagian dari proses “tumbuh”)

Akhir akhir ini lina seriiing berfikir, terutama waktu Abang membahas tentang hal untuk memiliki rumah,,

Sampai saat ini kami memang belum memiliki rumah sendiri, dan masih menyewa rumah untuk tempat menitipkan barang sepanjang lina dan azzam menemani perjalanan kerja Abang,,

Ada banyak pertimbangan dalam memiliki rumah,, Sebenernya mungkin relatif memungkinkan untuk kami mencicil rumah, atau membeli langsung walau dengan tipe RS-6 (rumah sangat sederhana sehingga selonjor saja susah)… tapi lina pribadi menolak, kenapa,,? Kalau mencicil rumah menurut lina berarti Abang seolah olah dipaksa harus bekerja untuk mencukupi biaya mencicil rumah tersebut, padahal menurut lina Abang bukan suami seperti “sapi perah”,,

Dan apabila rumah sudah ada, maka rasanya sayang untuk meninggalkan rumah, apalagi dalam waktu yang lama (seperti perjalanan kerja Abang kali ini yang sampai 2 tahun lebih) dalam keadaan kosong,, Kemungkinan akan ada pertimbangan untuk (lina dan azzam) menempati rumah tersebut, dan Abang akan pulang minimal sepekan sekali,,,

Membayangkan Abang pulang kerumah sepekan sekali,, hhmmmhh sungguh tidak membahagiakan,, Continue reading “Notes Bunda: “Bahagia Menurutku,,,””

Hari Ini Setahun Yang Lalu,,,

Hari ini setahun yang lalu,,,

11 Jumaadits Tsani 1432 H11 Jumaadits Tsani 1433 H

Setahun setelah pulangmu pada Robbul Khaaliq,, Masih tetap tengadah tangan tangan ini mendoa untukmu,, Walaupun doa sederhana yang terlantun dari lisan kecil Azzam,, Kami berharap doa doa ini bisa menemanimu dan menghiburmu,,

Tak ada lagi jarak antara kita, karena Alloh menghubungkan dengan jalinan yang begitu indah,, Jauuh terpisah tetapi dekat,, Kami tahu engkau menanti tiap tiap kami berdoa, dan kami sadar hanya dengan doalah kami bisa membalas dan berterimakasih padamu,,

Atas seluruh restu,, atas ridhomu,,

Karena jika tidak, maka tak mungkin pintu langit terbuka bagi kami,, Karena jika tidak, tak akan pernah ridho Alloh tercurah pada kami,,

Kami tumbuh bapak, kami tumbuh dalam bahagia,, yang kami sadar tidak mungkin Alloh izinkan kami bahagia jika tak ridho hatimu pada kami,,

Semoga bahagia kami membahagiakanmu,,

Sungguh tak akan cukup doa doa kami membalas seluruh ikhlasmu,,

Kami berjanji, Atas Kehendak Alloh, kami akan terus berdoa, mengangkat tangan tangan kami, menemani sendirimu, memohon pada Alloh agar tak sedikitpun malaikat penghukum menyentuhmu,,

Jika tak ada lagi pintu pintu rumah didunia ini yang bisa kami ketuk untuk bisa melihat wajahmu, Continue reading “Hari Ini Setahun Yang Lalu,,,”

Kemana Harus Mencari Qudwah,,,?

Belajar dari keluarga Uswah Hasanah,, Rasulullah Muhammad saw.(QS Al Ahzab:21) dan Ibrahim as.(QS Al Mumtahanah:4)
Dua uswah hasanah yang shalawat pada mereka kita lantunkan setiap hari dalam sholat sholat kita,,

Dibalik shalawat kita terdapat pelajaran parenting yang luar biasa,, yang mungkin lupa kita pelajari,, karena kita sibuk mencari model model parenting dari para tersohor,,

Kekuatan pendidikan yang dilakukan Ibrahim as. terletak pada do’a do’a Ayah yang tak pernah putus dan ketawakalan Bunda yang luar biasa,, Sederhana,,

Tetapi tidak sesederhana ketika membaca, menghayati, menyelami dan mempelajari doa doa yang terlantun dari lisan Ayah panutan, Ibrahim as. yang diabadikan dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 35 sampai 41,,

Dan tidak sesederhana gambaran ketawakalan bunda mulia Ibunda Ismail, yang tergambar dalam Hadits sahih Bukhari no 3113,, ketika beliau berkata “,, Alloh tidak akan menyia nyiakan kami,,”

Sungguh ini waktunya kembali kepada kekuatan doa doa, qiyamullail dan lembutnya Istighfar,,

Betapa Alloh telah memaparkan dalam QS Al Kahfi : 82 tentang pentingnya kesholehan seorang ayah,, Continue reading “Kemana Harus Mencari Qudwah,,,?”

Inilah Pilihan Kami,,,

Sampai tulisan ini di-upload, kami memang mungkin masih terhitung baru dalam menjalani metode homeschooling (kira kira 4 tahun -seumur Azzam-),,

Tapi kami belajar tentang “serba serbi” homeschooling sudah sejak sebelum Azzam lahir,, (bahkan untuk bunda, sudah dari semenjak sebelum menikah,, he,, he,,) dan sampai sekarang pun kami masih tetap dalam proses belajar,,

Bunda pertama kali terfikir melirik metode Homeschooling diawali dari keprihatinan melihat beberapa teman yang kebetulan waktu itu setelah menikah (belum sempat berinteraksi lebih dekat dengan suaminya) keburu punya anak ke 1 disusul anak ke 2 dan ke 3 dalam waktu yang sangat dekat,, Yang ternyata kondisi itu terasa agak menjadi beban,, Sampailah bunda merasa perlu belajar membantu dengan cara “berteman” (baca; membantu mendidik, karena bertemu berkala) dengan anak (teman bunda) yang besar agar si ibu bisa mengurus dan merawat anak yang lain dengan baik (waktu itu saling bantu membantunya dikerjakan beberapa orang yang masih lajang,, -termasuk bunda-,, he he,,)

Dari titik itulah bunda merasa bahwa memang ibu adalah madrasah bagi anak anaknya,, Kesiapan seorang ibu untuk mengemban amanah menjadi “Ibu” akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak anaknya,, Dan hal ini tidak akan bisa terganti walaupun keluarga itu menitipkan anak anaknya ke Sekolah Terbaik jenis apapun,,, Bahwa nilai keluarga, energi keluarga itu akan diserap langsung oleh anak, dan tanggung jawab mendidik anak tidak bisa diserahkan pada orang lain atau pada sekolah/lembaga sehebat apun,,

Bunda belajar tentang Homeschooling dimulai dari membaca buku,, (lupa judul bukunya,, he he,, sekarang udah inget, judulnya “Ibuku Guruku” he he 21/10) yang dilanjut dengan browsing sana sini terkait Homeschooling (disela-sela waktu ngantor dulu,,)

Alhamdulillah Alloh pertemukan bunda dengan suami yang bisa dengan cukup cepat menyamakan frekuensi berfikir yang dengan telaten mendengar luapan pemikiran, ide dan cita cita seputar per homeschoolingan (padahal waktu itu belum punya anak,, he,,he,,),, Hmm ini namanya karunia belahan jiwa (bahasa kerennya; soulmate) dari Alloh,,

Dan sampailah kami dengan sepakat bahwa kelak jika Alloh menitipkan kami amanah mengasuh anak kami akan mengambil tanggung jawab mendidiknya ditangan kami sendiri,, (tidak dengan menitipkannya pada sekolah, kecuali jika buah hati kami memutuskan untuk memilih lain yang menurutnya baik untuk kehidupannya,,)

Kami kemudian lebih suka menyebutnya sebagai Home Education atau Home Based Learning,, Pendidikan atau proses belajar berbasis rumah,, karena bagi kami Schooling atau Education terdengar sangat berasosiasi dengan ijazah, atau alat untuk mengukur seseorang, padahal seseorang itu tidak bisa diukur hanya dengan selembar Ijazah,,

Sepanjang proses perjalanan (yang sampai saat inipun masih berproses), kami bersama sama merangkai nilai untuk keluarga kami,, (Karena kami muslim, kami berusaha sekuat mungkin berpatokan pada Qur’an yang mulia,,)

Adanya Azzam (yang merupakan hadiah terindah dari Alloh) lebih membuka mata hati kami, dan juga membuka jalan kami untuk bisa belajar lebih banyak lagi kebaikan,,

Kami hanya ingin bisa berproses bersama,, Kami ingin mengalirkan energi belajar pada Azzam,, Tidak terkotakkan oleh kelas tempat belajar, oleh waktu belajar, oleh kurikulum belajar, ataupun lembaran Ijazah,,

Kami hanya ingin menanamkan semagat belajar berlandaskan kecintaan pada Alloh,, Karena kami sadar kami tidak pernah bisa menebak seperti apa nanti Azzam akan menghadapi dunianya,, Menjadi seperti apapun Azzam nanti, berprofesi apapun Azzam nanti, bagi kami yang terpenting untuk ditanamkan adalah bahwa Azzam (pun kami dua orang tuanya) seorang Mu’min qobla kulli syaiin (sebelum semua predikat ataupun profesi yang lain) dan menanam nilai ini tidak bisa dengan menitipkannya pada orang atau sebuah lembaga pendidikan,,

Menanam nilai kecintaan pada Alloh adalah tanggung jawab kami, kedua orang tuanya,,

Sebab bagi seorang mu’min (menurut keyakinan kami) kesuksesan bukanlah diukur dari apa pekerjaannya nanti, lulusan mana, kekayaan, jabatan atau apapun,,

Menurut kami, kesuksesan “cukuplah” bisa memaksimalkan diri untuk bermanfaat bagi banyak orang (apapun profesinya) dan seburuk apapun ketika kita harus berhadapan dengan ujian dunia (pangkat, harta, tahta, dan wanita -untuk laki laki- ) kami tahu kemana harus menghadapkan wajah dan hati kami dan mengembalikan semua urusan kami yaitu pada Alloh ta’ala,, Karena kami yakin akan ada kehidupan yang abadi setelah kematian nanti,,

Banyak pertanyaan yang dilontarkan teman teman terkait pilihan kami meng-homeschoolingkan Azzam,,

1. Kenapa Homeschooling,,?

2. Apa itu Homeschooling,,?

3. Bagaimana menjalankan Homeschooling,,? (maksudnya menggunakan kurikulum apa dan bagaimana mengajarnya,,?)

4. Dimulai sejak usia berapa Homeschooling,,?

5. Bagaimana nanti ujian dan cara mendapat Ijazah dan legalitas,,?

6. Apa harus memanggil guru kerumah (karena dirasa kapasitas orang tua tidak mencukupi untuk menjadi guru),,?

7. Berapa biaya yang harus dikeluarkan,,?

8. Bagaimanakah anak homeschooling bersosialisasi,,?

9. Bagaimana anak homeschooling bisa menghadapi “kerasnya dunia” sementara mereka (dianggap) tidak pernah keluar dari rumah dan berhadapan dengan “kerasnya dunia”,,?

dan masih banyak pertanyaan yang terlontar dari teman teman (yang mungkin kami juga menjawabnya masih dengan mengutip pengalaman keluarga homeschooler lain karena kami memang belum melaluinya,, karena Azzam pun belum masuk usia sekolah,,,)

Sampai hari ini kami mencoba menjawabnya satu persatu (masih lebih banyak jawaban lisan mungkin,,) karena memang insyaAlloh kami (yang sampai hari ini masih terus belajar), telah melewati pertanyaan pertanyaan itu dan mencari jawab bagi diri kami sendiri,,, Mudah mudahan dengan Izin Alloh, kami bisa menjawab dalam bentuk tertulis,, (walaupun sudah banyak web dan blog para homeschooler yang menjabarkan, insyaalloh kami akan menjawab versi tulisan kami,,)

Diatas semua upaya, kami mengawali langkah kami dengan doa dan memohon penjagaan dari Alloh,, Karena pada Alloh-lah bermuara seluruh kebaikan dan Alloh-lah pemilik diri diri kami,,

Robbanaa bukakan pintu pintu belajar bagi kami,, dan dekatkan kami pada ma’rifah kepadaMu,,

“Robbanaa atmimlanaa nuuronaa waghfirlanaa, innaka “alaa kulli syaiin qodiir,,”  ”Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Aamiin yaa robbal ‘alamiin,,,

Dicintai Dengan Sadar,,,

Dicintai sesungguhnya adalah konsekuensi logis dari mencintai,, karena dengan mencintai kita akan dicintai,, Tapi ternyata tidak mudah memahami dan menyadari dua kata mencintai dan dicintai,,

Pada setiap kayuhan biduk,, rasa dari 2 kata itu mungkin mengalami  pasang dan surut,, yang menjadi pengikatnya adalah rasa tenang ketika berdampingan,, Ya,, ketenangan jiwa yang mengikat satu sama lain,,

Setiap kayuhan biduk akan membuat rasa dari dua kata itu berpilin,,, Ya,, berpilin dan mengikat dua orang yang berpasangan,, sehingga yang satu akan menjadi cerminan bagi yang lain,, kalimat yang keluar dari satu orang tidak lagi hanya hasil dari jiwa orang itu tapi dia sudah menjadi cerminan dari pilinan jiwa,,

Begitu kami mungkin belajar memaknai kebersamaan,, Kami satu sama lain sesungguhnya telah saling berpilin,, setiap kata yang keluar dari kami adalah sesungguhnya cerminan dari kebersamaan jiwa kami,, Ya,, jiwa kami telah saling meng-influence,, jiwa kami saling mengenal dan mempengaruhi,, Pilinan jiwa kamilah yang membuat kami tumbuh,,

Pilinan itu masih terus berproses,, memanjang dan memanjang sampai kami bisa memaknai kalimat
“sesungguhnya pasangan itu adalah pakaian bagi pasangannya,,”

Seperti kalimat indah dalam Qur’an Surah  Al-Baqarah : 187, ”…mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka…”

Bukan,, bukan sekedar menutupi aib,, bukan sekedar untuk menjadi perhiasan,, tapi lebih dari itu,, Sampai apa apa yang tertampak pada diri kami adalah cerminan bahwa kami satu sama lain saling berpilin dan membangun,, Meng-influence satu sama lain dengan panduan Qur’an yang Mulia,,

Robbi,, terimakasih atas seluruh rasa dicinta,, setelah sekian lama terasa sulit mempercayai,, dan tak adil rasanya jika tak jua percaya,,

Lindungi  pilinan jiwa kami Alloh,, Berkahi seluruh proses tumbuh kembangnya,, Semoga ketenangan,ketentraman dan rahmah itu ternaung dalam kasih sayang Mu,,

Bila sulit bagi kami siapa yang lebih mencintai ataupun dicintai, duhai Alloh,, Satu pinta, hidupkan kami bersama sama dan panggil kami bersama sama,, Aamiin yaa robbal ‘alamiin,,

Antara Jajan dan Beli Buku,,,

Tulisan ini ditulis karena bunda kangen sama tetangga tetangga di Depok,,
Satu hari ada beberapa tetangga main kerumah,, Anak anaknya main sama Azzam dan para ibu ngobrol ngalor ngidul (didepan rumah memang ada space kecil yang sering dipakai anak anak tetangga main),,

Sampai satu kesempatan beberapa ibu masuk dan melongok rak buku yang memang ada diruang tamu,,

“Waah buku buku Azzam banyak dan mahal mahal ya,,” seorang ibu berkomentar sambil melihat lihat buku Azzam

“Kalo kita mah udah ga kebeli yang kaya gini nih,, buat jajan aja udah abis,, ” sambung yang lain

“Emang biasanya sehari jajan habis berapa Mpo,,?” Tanyaku pada seorang ibu (anaknya yang kecil seusia Azzam 2 bulan lebih tua dari Azzam)

“Buat si ade aja sehari bisa abis 15 ribu itu belom naek odong odong, buat abangnya ya segitu juga deh paling ayahnya suka nambahin dikit,,” jawab sang ibu

“Oo,,”gumamku
“Azzam mah enak ya, ga kenal jajan,,” sahut ibu yang lain,,
“Yaah sama aja, namanya juga anak anak, lg seneng senengnya ngemil,, Alhamdulillah Azzamnya ngemilnya yang gampang gampang,,” lanjutku

Azzam memang agak beda urusan ngemil, camilan Azzam “cuma” wortel kukus, jagung rebus, labusiem mini kukus, gorengan gorengan yang bunda masak, pisang, Jelly buatan bunda atau camilan yang dibeli diwarung samping rumah (wafer, Gery chocholatos, Bengbeng, Better, biskuat dll) yang mungkin memang tidak sevariatif teman teman seusianya,,

Mungkin memang tidak menghabiskan banyak biaya untuk mengkhususkan “Jajan” sampai hari ini pun Azzam tidak terlalu familiar dengan bahasa jajan dan tidak punya budget harian untuk jajan,, Azzam cukup qonaah dengan makanan rumahan walaupun dia sering lihat anak anak lain membawa uang untuk jajan,, (disamping kontrakan kami ada tetangga yang jual es pop ice dan minuman buah buahan 500 rupiahan dan aneka makanan chiki atau nuget dan otak otak goreng)

Menarik untuk bahan diskusi dengan ayah,, Menurut kami urusan rumah tangga sekecil apapun menarik untuk menjadi bahan diskusi karena ada nilai keluarga didalamnya,,,

Memilih antara mengeluarkan uang untuk “budget” jajan anak atau membeli buku adalah sebuah keputusan keluarga,,  Bunda pribadi merasa heran, bagaimana sebuah keluarga bisa mengeluarkan uang yang (menurut bunda) cukup besar untuk jajan anak sementara merasa berat mengeluarkannya untuk membeli buku,,,

Kalau dilihat buku buku Azzam sebenarnya pun bukanlah buku buku yang “mahal”,, kami memang relatif sering hunting buku buku diskon terutama untuk buku anak,, Buku yang terakhir dibeli Azzam pun adalah hasil “tabungan angpau”nya,, Buku buku Alphabet (English), buku cerita anak anak, Ensiklopedia cilik, dan masih banyak bukupun kami beli dengan kisaran harga Rp 5000 s/d Rp 10.000. Atau buku ensiklopedia yang lebih tebal, educomic, kamus anak kami beli dengan harga tidak lebih dari Rp 50,000,, Kami pun dibeberapa kesempatan sering berjalan jalan ke tukang buku loak untuk hunting buku murah tapi berkualitas,,, Alat bantu belajar membaca dan belajar bahasa Inggris Azzam (yang di toko buku lebih dari Rp 150.000) bisa kami beli dengan harga tidak lebih dari Rp 15.000 (hasil menelusuri bongkaran buku import di pasar pinggir jalan,,,)

Jika dihitung dan dibandingkan dengan uang jajan teman teman Azzam mungkin uang jajan mereka sehari lebih besar dari harga satu buah buku Azzam yang kalau dihitung apabila mereka menghemat uang jajan Rp 10.000 saja perhari mungkin setiap bulan mereka bisa menambah koleksi buku 30 buah buku tiap bulannya,,, Wuaaah pasti koleksinya lebih banyak dari Azzam,,,

Lantas mengapa sebuah keluarga bisa mengeluarkan uang lebih dari Rp 30.000 perharinya untuk jajan (mungkin lebih untuk sebuah keluarga dengan 3 anak) tetapi terasa berat jika harus mengeluarkannya untuk membeli buku,,,??

Inilah yang mungkin kami sebut dengan salah satu nilai keluarga,, Bunda dan Ayah mendidik Azzam untuk tidak malu tidak memiliki uang jajan tetap setiap harinya atau tidak jajan seperti anak anak seusianya dan Bunda berusaha supaya Azzam merasa cukup dengan makana rumahan yang ada,, (walaupun tidak mudah untuk anak seusia Azzam yang sudah terpapar iklan makanan ringan ditelevisi,,,) Disisi lain bunda dan Ayah menanamkan kecintaan terhadap ilmu melalui membaca buku,,, (kadang pun kalau Azzam menabung dan diminta memilih tabungannya mau dibelikan apa, Azzam sering kali memilih buku atau majalah yang diinginkannya,,,)

Kami memang masih belajar,,, belajar untuk membangun sebuah keluarga dengan nilai dan hikmah didalamnya,, Berharap agar Alloh limpahkan kehidupan yang berkah pada kami dan berharap agar Alloh memberkahi kami dengan ilmu yang akan membimbing dan menghantarkan kami menuju tangga Ma’rifah pada -Nya,,, Aamiin yaa Robbal ‘alaamiin,,,

Memilih Buku Untuk Anak,,,

Sepekan lalu kami bertiga ‘jalan jalan” ke Gramedia,, (di Banjarmasin ini tempat refreshing favorit ya memang toko buku,,), Azzam mau membelanjakan uang angpaunya,, he he,,

Di Gramedia Azzam jalan jalan keliling keliling pilih pilih buku,, mulai dari mengambil majalah Cars, majalah **X,, majalah Konstruksi (loh kok konstruksi,,? Iya Azzam pilih majalah sendiri karena Azzam suka lihat gambar gambar alat berat yang ada didalamnya), bongkar bongkar buku mewarnai pesawat tempur, mobil balap, mobil antik, alat transportasi (sambil berlatih membaca sedikit cerita didalam buku), bongkar bongkar dan baca ensiklopedia bangunan (waaah yang ini harganya diluar besaran angpau Azzam) yang Azzam kelihatannya sukaaaaa banget,, dan ngga mau beralih ke buku lain,, pilah pilih ensiklopedi sederhana yang ngga terlalu banyak tulisan dan lebih dominan gambar,, sambil terus komentar, tanya tanya,, dan cerita tentang gambar gambar yang dilihatnya dan ngga capek capeknya ngomong,,,,

Sampai akhirnya Azzam menjatuhkan pilihan (hasil diskusi dan timbang menimbang sama bunda juga,,) pada Buku Seri Sains Dasar nya media Elex Komputindo tentang Energi,,,

Ada beberapa pertimbangan yang bunda sampaikan ke Azzam ,, Pertama Azzam menaruh majalah Cars kembali karena Azzam dirumah sudah punya beberapa majalah dan Azzam juga sudah punya 2 CD cars,,

Azzam meletakkan majalah **X yang didalamnya banyak gambar mobil yang menarik hatinya karena bunda memberitahu bahwa di majalah itu lebih banyak Iklannya dibanding hal hal yang mungkin bisa dipelajari,,,Alhamdulillah Azzam meletakkanya dengan ringan,,

Untuk hal iklan ini memang hasil kebijakan Ayah Bunda (yang InsyaAlloh coba dipahamkan pada Azzam) bahwa iklan itu akan sangat menginfluence Azzam (atau anak anak seusianya dan mungkin juga orang tua dalam memilih sesuatu,, ). Kami berdua memang sedang belajar untuk menanamkan makna “cukup’ dan sederhana (baca; sesuai kebutuhan) pada Azzam,, jadi kami berdua menjelaskan pada Azzam bahwa iklan akan mendorong kita untuk memiliki sesuatu yang mungkin itu bukan kebutuhan kita dan mungkin akan mendorong kita untuk “hidup” berlebihan,, Kami memang sedang belajar untuk tidak menjadi konsumtif walaupun mungkin secara rizqi Alloh mudahkan untuk memiliki sesuatu,,  Alhamdulilah,,, Segala Puji bagi Alloh,, Azzam bisa dilatih untuk tidak harus memenuhi apa yang dia mau,, Kami melatih Azzam untuk menabung dan berinfaq,, menabung untuk memenuhi kebutuhan atau apa yang dia inginkan didunia (ditambah berdoa agar Alloh melapangkan rizqi untuk Ayah Bunda dan Azzam) dan berinfaq untuk tabungannya kelak di yaumil akhir,,

Buku buku yang lain (buku mewarnai yang didalamnya ada sedikit informasi tentang vehicle misal mobil mobil, pesawat tempur, kapal selam, ATV, motor cross dl) Azzam letakkan karena memang dia rasa sudah cukup melihat lihat lihat gambar dan membaca keterangannya dan dirumah juga sudah cukup banyak Azzam dipapar oleh coloring book hasil download dari beberapa web yang dia pilih sendiri (apa yang mau dia warnai),,

Nah pilihannya akhirnya jatuh pada beberapa ensiklopedia yang menurut dia menarik (entah mungkin lebih utama dari gambar atau dari hal yang sudah sering Azzam dengar),, Azzam susah sekali melepas ensiklopedia bangunannya,, tapi karena memang over budget dari uang angpaunya Azzam, bunda memintanya untuk menabung lebih dahulu, akhirnya pilihannya jatuh pada buku Energi,,,

Ada hal yang menarik yang mungkin justru bunda lihat dari orang tua lain yang sama sama memilihkan buku untuk anaknya,,

Bersamaan dengan Azzam ada seorang anak yang mungkin usianya lebih tua sedikit dari Azzam (sekitar 5 – 6 tahunan lah) yang sedang memilih buku Barbie,, (anaknya perempuan)

Tidak berapa lama orang tua anak ini datang dan bertanya apakah anaknya sudah selesai memilih buku,, Sang anak menjawab sudah,,  “Mau buku yang ini”, jawap gadis kecil itu,, Ibunya hanya menjawab “Bener yang ini,,  Barbie Suka Pesta Pernikahan, ya sudah bawa” sahut sang Ibu menanggapi sambil melihat harga, tanpa membuka halaman buku ,,

Bunda terdiam dan sedikit bingung,, Buku Barbie Suka Pesta Pernikahan, Penulis: Mattel, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Harga: Rp 23.000. Buku yang menarik dari sisi gambar dan juga mungkin harganya “cukup” terjangkau,,

Bukan dari harga yang membuat bunda terdiam,,

Bunda pelan membuka buku dan sekilas melihat isi buku,, Tentang barbie yang menemani temannya yang akan menikah memilih tempat pesta, gaun, dan bunga bunga,,

Bunda berpikir kira kira apa yang akan disampaikan orang tua melalui buku itu ya,, ?? mungkin ada dan pasti ada manfaat misal untuk membuat anak tertarik membaca karena gambarnya indah,, dan anak juga bisa belajar nilai sesama sahabat harus saling membantu,,,

Tetapi untuk anak seusia itu (menurut kami ayah dan bunda) Nilai keluarga itu penting sekali untuk ditanamkan dan BUKU adalah salah satu sarana untuk menanamkan nilai,,,

Untuk anak balita (lagi lagi menurut kami) dia tidak akan mudah begitu saja menyerap nilai yang tersirat, orangtualah yang berperan untuk mendampingi,, Anak akan lebih mudah menyerap hal hal yang terlihat, misal pakaian bagus, kamar bagus, mainan bagus, perhiasan, pernak pernik atau hal hal yang menarik lainnya,, hal inilah yang biasanya mendorong anak untuk meniru dan berusaha memiliki,, Ingin pakaian princess misalnya atau ingin kamar seperti kamar barbie misalnya,, (seperti azzam yang juga suka pernak pernik Mc Queen,,)

Tapi untuk menjelaskan apa itu pesta pernikahan dan hal hal pelengkap pesta pernikahan,,, Apa ya yang akan dijelaskan orang tua pada anaknya,,? atau kira kira nilai apa ya yang akan disampaikan orang tua pada anaknya,,,?

Mungkin disinilah akhirnya kebijakan orang tua mendampingi anak dalam memilih buku bacaan dan juga media yang diaksesnya (televisi, games, ataupun halaman halaman maya) sesuai dengan hal hal yang ingin di tanamkan karena seluruh media itu pada dasarnya adalah SARANA,,

Diatas semua pendapat kami, kami yakin anak tetap belajar jauh lebih banyak dari apa yang dibayangkan orang tua,,

Dan diujung seluruh usaha menanam yang dilakukan kami orang tua,, kami menutupnya dengan doa agar Alloh menjaga Azzam tetap dalam fitrahnya,, Aamiin,,

My Scrapbook,,,

Tiga hari ini bunda lagi semangat semangatnya belajar digital scrapbooking,,, Kalo scrapbooking “original” itu tempel menempel,, Yang digital ini “juga” tempel menempel,, Tapi,, ngga pake kertas,,,,!!

Bunda menjelajah “dunia” digital scrapbooking,,, Walaaah buanyak buanget,,, Mari mulai dari yang sederhana,, Bunda mulai dengan mendownload Photo editing softwere Photoscape. dan mendownload material scrapbooking dari berbagai website,,, setelah googling dan ketemu seabrek abrek yang gratisan,, Bunda memutuskan untuk mendownload di  Shabby Princess.dan Computer Scrapbook , bunda juga download beberapa font dari Sugar Frog Fonts.

Hasilnya,,,, ada di kumpulan my-scrapbook Part of Our Journey

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin,,,

Hari Ini, 3 Bulan Yang Lalu,,,

11 Jumadilts Tsani 1432, hari kembalimu pada Rabb Al Malik,, pada Alloh Yang Maha Memiliki,,

Hari ini, 3 bulan setelah pulangmu pada Robbul Fathir,,

Masih tetap tangan tangan kami tengadah memintakan ampunan untukmu,, memintakan kelapangan kubur bagimu dan memintakan kemudahan hisab atasmu,,,

Yaa Rouf,, kasihilah kami,, kabulkanlah doa doa kami,, kabulkan doa doa Azzam yaa Alloh,,

Izinkan cahaya dari doa doa Azzam menerangi kubur eyangnya,, Aamiin yaa robbal ‘alamiin,,


Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: