Search

Days in Our Lives,,,

hari hari belajar kami,,,

Month

March 2011

“Hari Nonton”

Sudah 2 bulan ini sebenarnya ada kesepakatan antara Ayah Bunda dan Azzam,, Kesepakatannya adalah Azzam menentukan 3 hari untuk menonton (TV atau film) dari 7 hari dalam seminggu, dan hari yang Azzam pilih untuk hari Nonton adalah Selasa, kamis dan Sabtu,, Kesepakatan ini dibuat untuk membuat Azzam bisa belajar sedikit “Tenang” (kami menjelaskan pada Azzam akibat terlalu banyak menonton dan efeknya pada “kesulitan berkonsentrasinya” Azzam,,)

Sejauh 2 bulan ini kesepakatan berjalan sangat efektif, Azzam dengan tertib menjalankan kesepakatan yang telah disepakati,,

Hasil untuk hal lebih konsentrasi mungkin belum terlihat langsung, tapi ada hal lain yang justru Azzam pelajari,, Azzam belajar konsep Hari,,

Ya, Azzam berusaha menghapal hari hari kapan dia bisa menonton film atau acara favoritnya. Azzam menghapal hari dari kalender muslim kecil yang ditempel di samping tempat tidur,, Azzam melingkari hari dimana Azzam bisa menonton, jadi Azzam bisa tahu sekarang itu hari apa dan tanggal berapa, dan karena sudah berjalan selama 2 bulan (Februari dan Maret), Azzam juga sekaligus belajar nama nama Bulan dalam setahun,,

Cara menghapal yang sangat natural,, Bunda belum pernah secara khusus menyuruh Azzam menghapal hari tapi ternyata sekarang Azzam sudah menemukan “Cara Belajarnya” sendiri,, dan sudah hapal konsep hari dalam seminggu,,

Khusus untuk belajar tanggal,, ternyata (he he yang ini bunda baru tahu) Azzam juga bisa baca tanggal di Hand Phone,, Surprisingly, Azzam bukan lihat tanggal yang langsung tertera di layar HP tapi Azzam buka dulu tools Kalender,, Keren kan,,

Well, belajar itu menyenangkan kan,, Teruslah belajar Nak,, Karena Belajar itu akan mendekatkan kita pada Alloh,,

Azzam yang Kinestetik Jasmani,,

Azzam memang ngga bisa diem, selalu bergerak dan agak sulit konsentrasi,, Walaupun belum terlalu mengkhawatirkan (Azzam masih bisa dengan “cukup” tekun mengerjakan 20 exercise IXL Math nya dan masih bisa menyelesaikan karya menggambar dan membangunnya yang dibuat dari bahan apa saja) tetapi hal Konsentrasi ini tetap menjadi perhatian kami,,Kami masih terus mencari cara bagaimana agar Azzam bisa belajar lebih konsentrasi,,

Pilihan kami jatuh pada membuat handycraft. Dilihat dari kesukaan Azzam menggambar dan membangun kelihatannya ini cukup menarik (Azzam suka sekali acara hand made di Global TV) dan kelihatannya bisa membantu Azzam buat bisa belajar “sedikit” berkonsentrasi,,

Jadilah 2 hari ini ayah mengajari Azzam membuat pesawat pesawatan dan robot robotan dari kertas bekas (sisa ingatan masa kecil ayah,, he,, he,,) Proses belajar yang luar biasa,, Bukan cuma Azzam yang belajar konsentrasi,, tapi juga buat Ayah,, Ayah yang luar biasa harus belajar bersabar,, Capek pulang kerja (ayah sampe rumah stengah sembilan malem) dan masih mengajari Azzam lipat melipat (dan Azzamnya ngga bisa dieem),, Luar Biasa kan,, Sesudah jadi pesawatnya Azzam masih mau mewarnai pesawat kertasnya, tapi karena sudah jam 10 malam, kegiatan mewarnai ditunda duluu,, Azzam pergi bobo ditemani pesawat kertas,,

Tapi kegiatan lipat melipat belum selesai buat ayah dan bunda,, Siangnya bunda sempat googling dengan keyword paper craft dan terdamparlah bunda di webnya Canon Creative Park di www.canon.com/c-park dan bunda sempat down load beberapa prakarya mobil dan rumah dari kertas,, Jadilah sampai tengah malam ayah dan bunda mengerjakan prakarya menggunting, melipat dan menempel,, Horee,,

Kok bunda sama ayah yang ngerjain ?? Ya kan baru percobaan, dan model dari Canonnya keciiil (buat ukuran Azzam yang masih belajar menggunting) kelihatannya masih cukup sulit (eh tapi ngga boleh under estimate ya,, tapi bener kok keciil) ukuran kertas A4 untuk model 2 mobil,,,
Hmm kertasnya juga adanya dirumah kertas photo 180 gsm (kalo buat tebal kertas sih cukup) tapi sayang kalo pake photo paper,,

Well by the way,, selesai juga,,untuk malam ini,,
Besok lanjut lagiii,,, Aaahh senangnya Home Education,,,

Berbagi dan Saling Menjaga…

Adalah kebahagiaan… yang umum di cita-citakan oleh setiap keluarga dalam menjalani hidup dengan orang yang dikasihinya. Sangatlah lumrah ketika pasangan hidup mulai menjalani perannya dalam keluarga dilengkapi dengan datangnya anak sebagai pelengkap kebahagiaan. Namun tidaklah mudah untuk menghadirkan kebahagiaan itu tanpa kita sendiri yang menciptakannya.
Karena kebahagiaan hanyalah dapat dirasakan oleh hati bukan dari apa yang sudah didapat dengan mencari sumber kebahagiaan yang bukan esensi.

Sebagai contoh sebuah keluarga yang dari sisi ekonomi sangat-sangat cukup walau bagi saya justru berlebih. Dengan kedua suami istri berkarir dengan pendapatan yang lebih dari memadai, rumah megah, kendaraan mewah, anak sekolah dikelas dunia, seharusnya untuk ukuran hidup keluiarga seperti ini bisa disebut bahagia.

Namun ternyata suasana hidup seperti ini tak lagi modern untuk ukuran orang tua yang ingin mendidik anaknya mempunyai mental alamiah bukan dari kemudahan orangtuanya  untuk bisa hidup. Berbagai kasus yang sering kita dengar karena sibuknya orangtua diluar rumah hak anak untuk mendapat perhatian kasih sayang jadi sirna. Yang terjadi malah konflik internal keluarga yang sering berujung perceraian atau mengorbankan keegoisan salahsatu orangtua siapa dirumah siapa yang bekerja.

Ironis memang, ternyata kebahagiaan hidup yang didambakan oleh setiap anak itu sama, yaitu pendampingan orangtua yang ada disaat-saat anak membutuhkan keberadaan orangtuanya. Lalu kebahagiaan seperti apa yang diinginkan oleh setiap orangtua.

Ternyata kebahagiaan yang didambakan oleh setiap orangtua hanya bernilai materi dan status sosial untuk persaingan hidup dihadapan manusia. Mereka beranggapan bahwa kebahagiaan itu akan tercipta dengan sendirinya apabila semua kebutuhan untuk rumahtangga sudah terpenuhi, dari pekarangan rumah sampai dapur, dari lantai 1 sampai lantai 2.

Apakah untuk meraih kebahagiaan dalam hidup itu memerlukan persaingan, lalu siapa yang menciptakan persaiangan ini, atau malah kita sendiri yang menciptakan padahal anak-anak kita tak butuh itu semua. Yang dibutuhkan adalah perhatian kedua orangtuanya sesuai dengan kebutuhan demi perkembangan untuk mental dan jiwa si anak.

Sekarang apakah sebuah keluarga miskin dapat dikatakan bahwa keluarga itu tidak bahagia. Belum tentu, tinggal bagaimana keluarga ini dapat melihat bahwa kebahagiaan hidup itu tidak selalu datang oleh kemudahan materi. Malah justru pendidikan hidup dari keluarga seperti ini yang menjadikan anak-anaknya kuat dan keinginan bekerja kerasnya sangatlah nampak. Kebersamaan dengan segala kondisi yang dihadapi membuat jiwa terasa bersemangat karena kebahagiaan bagi mereka bukan kewajiban orangtua untuk menciptakan, tetapi semua bagian keluarga juga turut serta dengan selalu mensyukuri segala yang ada.

Jadi kebahagian itu tidak dapat diukur oleh kecukupan materi, dan kebahagiaan itu tidak datang sendiri. Kebahagiaan juga tidak dapat dipaksakan karena kebahagiaan adalah buah dari kesabaran. Kebahagiaan juga bukan kewajiban yang disalah artikan, kebahagiaan justru dapat diciptakan ketika saling berbagi dan saling menjaga mulai menjadi kebutuhan didalam keluarga itu sendiri.

Yang terpenting adalah anugerah kebahagiaan didunia ini dapat kita syukuri serta menjadikan ladang kebaikan bagi keluarga kita untuk meraih harapan besar demi kebahagiaan yang hakiki bersama-sama orang yang kita cintai.

Mata Langit,,

This slideshow requires JavaScript.

Belajarnya Azzam Pekan Ini,,,

Sepekan,,?? Iya, bundanya baru “bisa” menulis lagi,,

Pekan lalu kami lihat diskon buku terbitan PT Bhuana Ilmu Populer (BIP) Gramedia Group di Duta Mall (Satu satunya Mall yang ada di Banjarmasin yang setiap akhir pekan pasti sumpek karena diserbu manusia yang haus hiburan dari berbagai penjuru,,,!!),, Jadilah Ayah menghadiahkan satu set ensiklopedia hasil hunting buku murah,,,

Kami berhasil mengumpulkan 10 buku (dari 20 buku yang ada di catalog,, Cuma ada 10 judul karena itu buku “sisa”) “Talking Book” My First Edu Comic seri “Aku Suka Belajar”

1.Mobil dan Roda, 2. Pesawat, 3. Cuaca, 4. Penemuan, 5. Robot, 6. Daur Ulang, 7. Garam dan Gula, 8. Kuman dan Parasit, 9.  Kehidupan hewan, dan 10. Tumbuhan

Bukunya di “Sale” lumayan murah,, dari harga Rp 60.500,00 dibanting sampai Rp 20.000,00,, dari hunting buku diskon itu juga ditemukan (he he,,) Seri “Play and Learn English through Games” edisi “Fruits and Vegetables”, “Stationery”, “Kids Activities” dan “Living and Bed Room”,, Untuk buku buku seri ini di “sale” seharga Gocenggg…

Jadilah sepekan ini Azzam sibuk dengan buku buku barunya ditambah tetap aktifitas online nya (IXL math dan games onlinenya juga reading englishnya,,), aktifitas membangunnya (membangun dengan bantal,,,), aktifitas main mobil, aktifitas menghafal Quran, dan aktifitas yang tidak henti hentinya dia lakukan di waktu waktu ingatnya yaitu,, BERDOA Untuk Eyang Kakung,,,

Ya, sepekan ini ingatan kami memang banyak di Jakarta,, Membayangkan betapa Bahagianya jika seluruh aktifitas belajar yang dilakukan Azzam bisa di temani Eyang kakungnya,, Betapa banyak yang bisa Azzam pelajari dari Eyang kakungnya,,

Ya Alloh,, bila tangan tangan kami tak bisa menyentuh dan merawat tubuh tuanya,, semoga Engkau kabulkan doa doa kami,,, Semoga Engkau Jaga Tubuh Tua itu,, Semoga kelak Engkau pertemuakan kami di tempat dan waktu yang Terbaik,,, Aamiin,,

Cita-Cita Bukan Sekedar Kiasan…

” Nak… berhentilah jangan sekolah bapakmu sudah tak kerja…Nak…jangan menangis memang begini keadaannya… Akibat jatah..ditoko-toko dan diparkiran… sudah bukan milik bapak lagi…”

Potongan bait syair dari lagu berjudul “Senandung Istri  Bromocorah” di album KPJ  ini adalah potret nyata ketidak berdayaan orangtua untuk memberikan hak mendapatkan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. Tetapi kita tak bisa menyalahkan orangtua secara sepihak, karena memang dinegri ini untuk anak menjadi pintar itu hanya akan didapat dibangku sekolah dan semuanya tidak bisa dicapai cuma-cuma alias bayar.

Kita pernah mengalami sebuah pertanyaan yang kita anggap biasa sewaktu kita kecil, nak cita-citamu kalo sudah besar mau jadi apa. Atau kita masih hapal ungkapan gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jadi apakah cita-cita itu hanya untuk anak-anak yang lahir dari keluarga mampu, sedangkan cita-cita yang keluar dari lidah anak jelata hanya dianggap sebagai mimpi yang tak pasti. Kini semua hanya tinggal sekedar untaian kata penghibur  si anak dihadapan orang tua.

Namun seberapa dalam cita-cita itu mempengaruhi untuk seorang anak menjalani proses hidupnya sembari menggapai cita-citanya. Apa bila berhasil dengan cita-citanya apakah si anak bahagia atau cukup orangtuanya saja yang bangga. Tetapi apabila tidak tercapainya cita-cita si anak apakah si anak harus berduka atau orangtuanya yang malah murka. Karena cita-cita itu adalah keinginan bawah sadar yang hadir ketika seorang anak itu ada di fase merekam apa yang didengar dan dilihat, bukan dari pengaruh keinginan sosok diluar diri seorang anak.

Selanjutnya bagaimana caranya agar cita-cita seorang anak itu dapat tercapai, apakah ketika anak tumbuh dewasa tak ada perubahan untuk cita-cita nya yang ditanam sejak kecil. Ternyata dikenyataannya banyak manusia yang merasa terbelenggu dengan cita-citanya sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi cita-cita seorang anak saat tumbuh menjadi dewasa terutama lingkungan keluarga dan  sosial yang membentuknya. Sehingga cita-cita itu dapat berubah bahkan hilang dengan sendirinya. Coba saja ingat-ingat kembali apa yang menjadi cita-cita kita saat kecil dan bandingkan dengan kenyataan sekarang tanpa menghilangkan proses tumbuh kembangnya diri kita.

Dari semuanya itu ada pesan cita-cita yang dapat ditawarkan sejak kecil dan tak akan berubah sampai seorang anak itu tumbuh menjadi dewasa sekaligus menjadi barometer diri si anak ketika mengalami fase perubahan diri dan cita-cita ini tak akan didapat pada disiplin ilmu apapun pada bangku sekolah tingkat manapun.

Untuk anakku,,,
Cita-cita itu adalah berusaha menjadi manusia yang dapat memberikan manfaat kebaikan untuk sesamanya demi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri sesuai dengan kodrat yang telah di tetapkan oleh Sang Pencipta agar dapat menjaga dan merawat  keseimbangan yang telah diberikan-Nya bagi manusia…

Dengan Al Quran, Melihat Dunia Menjadi Lebih Berwarna…

Mahakarya dari sastra bahasa yang paling tinggi dan sempurna adalah wahyu yang tercatat dalam satu kitab bernama Al-Quran. Lugas tanpa basa-basi, mudah dimengerti bagi siapa saja yang mau mengkaji. Untaian katanya sangat lembut dan bukan khayalan tetapi kenyataan dari awalan sampai akhiran. Itulah karya Tuhan untuk semua yang mengaku hambanya  yang pasti selamat bila dijadikan panduan petunjuk jalan dalam menempuh kehidupan, bahkan ada kehidupan setelah kematian dan bukan sekedar perintah atau larangan.

Kini berapa banyak manusia yang benar-benar yakin dan bukan sekedar percaya untuk menjadikan Al-Quran ini sebagai panduan dalam menjalani kehidupan.
Kitab ini bukan hanya khusus untuk kalangan agama tertentu saja melainkan rentetan kisah yang menterjemahkan tentang hakikat hidup dan kehidupan sebelum manusia ada bahkan sebelum alam semesta ini terbentuk, grand design ini telah tertulis dengan sempurna.

Tak terbatas geografis bahkan antara kehidupan nyata dengan kehidupan sesudahnyanya. Lalu seberapa perlukah manusia menjadikan kitab ini sebagai rujukan dan panduan atau malah tak lagi cocok karena sudah usang dan tak sesuai dengan zaman. Ada sosok manusia yang sempurna dan pernah ada dan hidup dimasanya yang memang dipandu langsung oleh Penciptanya. Ia sebagai pelaku sejarah sekaligus saksi nyata untuk semua manusia, percaya atau tidak itu hanya urusan hati, maka dari itu dengarlah suara hati ini dengan sebenar-benarnya agar dapat berfikir bukan sekedar mengandalkan retorika akal.

Dari urusan pribadi, sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya, kehidupan, kematian, surga, neraka, pujian, perintah, larangan, laki-laki, perempuan, langit, bumi, alam semesta, dunia, akhirat, siang, malam, panas, hujan, bahkan sampai penyakit hati yang teramat dalam tertulis dengan jelas sebagai obat penawar. Lalu apakah masih diperlukan untuk bukti lanjutan agar lebih dalam untuk meyakinkan. Jawabannya boleh dan silahkan, dan ada satu cara apabila kita mencoba resikonya kita tak akan dapat kembali hidup seperti semula yaitu MATI.

Itu sebabnya kematian itu dianggap sebagai perjalanan yang mengerikan, menakutkan, menyedihkan, memilukan, karenanya para manusia banyak yang tak siap dengan pemutus segala kenikmatan ini. Padahal semua yang bernyawa pasti mati. Dan kematian itu dapat menghampiri siapa saja dimana saja walau dia berlindung dalam sebuah benteng yang kokoh kematian pasti dapat menembusnya.

Sekarang apa yang perlu kita persiapkan untuk menyambut kematian. Sebagian orang ada yang merencanakan ingin mengakhiri kehidupannya dengan caranya sendiri sejalan dengan keyakinannya. Berarti kematian itu dapat direncanakan tentu dengan konsistensi yang tak mudah sesuai dengan penggunaan usia yang diberi.

Kita semua pasti ingin proses kematian kita lancar tak ada halangan bahkan ada yang meminta seperti bait lagu ” killing me softly “. Dan perlu diingat tak ada batasan usia, strata, ataupun golongan karena tanpa diundang pun kematian pastikan datang menghampiri kita dan nyawa adalah hak tubuh maka jangan memaksa untuk menghilangkannya.

Eyang Kakung Sakit,,

Ayah’s FB Stat,,

ku yakin dan percaya waktu didunia ini terbatas…dan keyakinanku juga bahwa ada waktu yang tak ada batas…bila memang disini tak cukup waktu untuk dapat mencium tangan mu…kuharap disana nanti kau akan kembali bercerita untuk diriku…do’aku selalu ada untukmu dalam setiap sujudku…

 

Those Days,,,

This slideshow requires JavaScript.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: