Search

Days in Our Lives,,,

hari hari belajar kami,,,

Month

October 2011

Multiple Intelligences : 4. Kecerdasan Gerak Tubuh,,

Kecerdasan Gerak Tubuh

Adalah kemampuan anak mengontrol gerakan , keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak. Anak anak dengan kecerdasan gerak tubuh yang tinggi adalah anak anak yang senang bergerak.  Seringkali anak anak ini tidak dapat duduk diam. Mereka perlu dan senang menyentuh sesuatu. Dengan cara inilah anak anak ini mengenal dunia,  mereka mengeksplorasi dunia dengan otot ototnya.

Dalam bergerak, anak anak dengan kecerdasan gerak tubuh ini memliki koordinasi yang baik. Mereka cenderung tangkas dan cepat. Hal ini dikarenakan mereka memiliki kontrol tubuh yang baik. Mereka adalah tipe pembelajar yang mengandalkan tangan dan kaki. Itu sebabnya mereka memiliki keterampilan motorik kasar dan halus yang baik..

Sikecil dengan kecerdasan ini senang mengerjakan pekerjaan tangan seperti menggunting atau memperbaiki sesuatu misal mencoba memperbaiki mainannya.

Kecerdasan gerak tubuh erat kaitannya dengan perkembangan keterampilan motorik anak.

Elisabeth B Hurlock dalam Child development (diambil dari fotocopian bahan kuliah Psikologi jaman bunda kuliah duluuu) menyebutkan bahwa, perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinasi antara susunan syaraf, otak, spinal cord dan otot.

Tahap Perkembangan Keterampilan Motorik Anak Continue reading “Multiple Intelligences : 4. Kecerdasan Gerak Tubuh,,”

Advertisements

Multiple Intelligences : 3. Kecerdasan Visual-Spasial,,

 Kecerdasan Visual – Spasial

Adalah kemampuan untuk membentuk suatu gambaran tentang tata ruang didalam pikiran. Anak anak dengan kecerdasan visual-spasial  yang tinggi cenderung berpikir secara visual. Mereka kaya khayalan internal (internal imagery) sehingga cenderung imajinatif dan kreatif.

Orang dewasa dan anak anak dengan kecerdasan visual-spasial tinggi memiliki kepekaan dalam mengobservasi dan memiliki kemampuan untuk berpikir dalam gambar. Kemampuan ini memungkinkan untuk bisa membayangkan bentuk bentuk geometri  atau tiga dimensi dengan mudah.

Kemampuan spasial ini sendiri seperti yang dikutip Gardrer dibagi menjadi tiga komponen (ini terjemahan bebasnya, silahkan merujuk pada buku Frames of mind: The Theory of Multiple Intelligences).

  • Kemampuan untuk mengenali identitas sebuah objek yang ada didepannya dari sudut pandang yang berbeda
  • Kemampuan untuk membayangkan perubahan sebuah konfigurasi  ketika komponen konfigurasi itu dirubah atau dipindah. Misal saat bermain balok, anak dapat membayangkan apabila sebuah balok dipindah nantinya akan terbentuk sebuah bangunan seperti yang ia inginkan
  • Kemampuan untuk memahami hubungan spasial antara dirinya dengan benda lain. Misalnya saat naik sepeda, seorang anak dapat memperkirakan jarak dirinya dengan sebuah pohon.

Anak anak dengan kecerdasan visual-spasial yang tinggi berpikir dengan gambar dan imej (image). Biasanya mereka menyukai kegiatan bermain Puzzle, menggambar, bermain balok, bermain maze, membangun bentuk, serta berimajinasi membentuk bangunan bangunan lewat permainan, anak anak dengan kecerdasan ini juga seringkali melamun.

Dalam belajar, anak anak ini adalah tipe belajar secara visual. Mereka menyukai poster dan gambar, film dan presentasi visual lain untuk menyerap informasi baru. Sebagai “pelamun”, anak anak ini terkadang menghadirkan sebuah film dalam bayangan internal mereka yang tidak pernah mereka lihat secara nyata. Tidak hanya melamun atau berhayal, anak anak ini juga pengamat yang tajam terhadap dunia sekitarnya, suka mencari cari kesalahan dan detil yang orang lain lupakan.

Tahap perkembangan Visual – Spasial anak usia balita (0 – 5 tahun) Continue reading “Multiple Intelligences : 3. Kecerdasan Visual-Spasial,,”

Multiple Intelligences : 2. Kecerdasan Logika-Matematika,,

Kecerdasan Logika – Matematika

Adalah kemampuan anak untuk menganalisis sesuatu hal secara logis,, Biasanya ditandai dengan minat yang besar pada kegiatan eksplorasi , cerewet bertanya tentang berbagai hal atau fenomena dan menuntut penjelasan logis dari setiap pertanyaan. Suka melakukan eksperimen untuk membuktikan rasa penasarannya, suka mengklasifikasikan benda dan menghitung hitung.

Anak dengan kecerdasan ini adalah manusia yang yakin bahwa semua pertanyaan memiliki penjelasan rasional yang masuk akal, sehingga ia lebih merasa nyaman berhadapan dengan sesuatu yang dapat dikategorisasi (dikelompokkan), diukur, dianalisa, dan ditilik kuantitasnya dengan berbagai cara.

Pertanyaan yang berputar putar didalam kepalanya bisa berbunyi, “Bagaimana ya kalau aku menuangkan seluruh isi teko ini kedalam gelasku,,?”

Kecerdasan Logis matetamtis berkaitan erat dengan kecerdasan linguistik terutama kaitannya dengan penjabaran alasan alasan logika matematika.

Tahap perkembangan Logika – Matematika anak usia balita (0 – 5 tahun) Continue reading “Multiple Intelligences : 2. Kecerdasan Logika-Matematika,,”

Multiple Intelligences : 1. Kecerdasan Linguistik,,

Sudah beberapa hari ini bunda memang sedang banyak membaca tentang Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk),,

Dr Howard Gardner, profesor bidang pendidikan di Harvard University Amerika Serikat mengembangkan sebuah teori tentang kecerdasan bahwa kecerdasan seseorang baik anak maupun dewasan bisa dilihat secara lebih menyeluruh tidak hanya sebatas kecerdasan linguistik (bahasa) dan logika saja,,

Gardner membagi kecerdasan kedalam 8 bagian (Yang kemudian belakangan Gardner menambahkannya dengan kecerdasan Spiritual)

  1. Linguistic intelligence (Kecerdasan linguistik)
  2. Logical – mathematical intelligence (Kecerdasan logika-matematika)
  3. Spatial intelligence (Kecerdasan visual-spasial)
  4. Bodily-kinesthetic intelligence (Kecerdasan gerak tubuh)
  5. Musical intelligence (Kecerdasan musikal)
  6. Interpersonal intelligence (Kecerdasan interpersonal)
  7. Intrapersonal intelligence (Kecerdasan Intrapersonal)
  8. Naturalist intelligence (Kecerdasan natural)
  9. Spiritual intelligence (Kecerdasan rohani)

Bunda coba memahami tiap tiap pembagian kecerdasan versi Gardner itu dan mencoba melihat dan mengamati capaian Azzam,,

Bunda juga coba menuliskan tahapan perkembangan anak usia 1 – 5 tahun (yang diambil dari berbagai bahan) dalam bentuk tabel untuk masing masing kecerdasan

Kecerdasan Linguistik (Kecerdasan Bahasa)

Berkaitan erat dengan keterampilan dan persepsi mengelola kata dan bahasa.

Bermula ketika anak mulai babbling yang kemudian dilanjutkan dengan mencoba mengucapkan kata diusia satu tahun. Kemudian kemampuan berbahasanya meningkat ditahun kedua usianya  ketika ia mulai mengucap kalimat kalimat, menggunakan kata dengan tepat dan efektif.

Tahap perkembangan bicara anak usia balita Continue reading “Multiple Intelligences : 1. Kecerdasan Linguistik,,”

Inilah Pilihan Kami,,,

Sampai tulisan ini di-upload, kami memang mungkin masih terhitung baru dalam menjalani metode homeschooling (kira kira 4 tahun -seumur Azzam-),,

Tapi kami belajar tentang “serba serbi” homeschooling sudah sejak sebelum Azzam lahir,, (bahkan untuk bunda, sudah dari semenjak sebelum menikah,, he,, he,,) dan sampai sekarang pun kami masih tetap dalam proses belajar,,

Bunda pertama kali terfikir melirik metode Homeschooling diawali dari keprihatinan melihat beberapa teman yang kebetulan waktu itu setelah menikah (belum sempat berinteraksi lebih dekat dengan suaminya) keburu punya anak ke 1 disusul anak ke 2 dan ke 3 dalam waktu yang sangat dekat,, Yang ternyata kondisi itu terasa agak menjadi beban,, Sampailah bunda merasa perlu belajar membantu dengan cara “berteman” (baca; membantu mendidik, karena bertemu berkala) dengan anak (teman bunda) yang besar agar si ibu bisa mengurus dan merawat anak yang lain dengan baik (waktu itu saling bantu membantunya dikerjakan beberapa orang yang masih lajang,, -termasuk bunda-,, he he,,)

Dari titik itulah bunda merasa bahwa memang ibu adalah madrasah bagi anak anaknya,, Kesiapan seorang ibu untuk mengemban amanah menjadi “Ibu” akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak anaknya,, Dan hal ini tidak akan bisa terganti walaupun keluarga itu menitipkan anak anaknya ke Sekolah Terbaik jenis apapun,,, Bahwa nilai keluarga, energi keluarga itu akan diserap langsung oleh anak, dan tanggung jawab mendidik anak tidak bisa diserahkan pada orang lain atau pada sekolah/lembaga sehebat apun,,

Bunda belajar tentang Homeschooling dimulai dari membaca buku,, (lupa judul bukunya,, he he,, sekarang udah inget, judulnya “Ibuku Guruku” he he 21/10) yang dilanjut dengan browsing sana sini terkait Homeschooling (disela-sela waktu ngantor dulu,,)

Alhamdulillah Alloh pertemukan bunda dengan suami yang bisa dengan cukup cepat menyamakan frekuensi berfikir yang dengan telaten mendengar luapan pemikiran, ide dan cita cita seputar per homeschoolingan (padahal waktu itu belum punya anak,, he,,he,,),, Hmm ini namanya karunia belahan jiwa (bahasa kerennya; soulmate) dari Alloh,,

Dan sampailah kami dengan sepakat bahwa kelak jika Alloh menitipkan kami amanah mengasuh anak kami akan mengambil tanggung jawab mendidiknya ditangan kami sendiri,, (tidak dengan menitipkannya pada sekolah, kecuali jika buah hati kami memutuskan untuk memilih lain yang menurutnya baik untuk kehidupannya,,)

Kami kemudian lebih suka menyebutnya sebagai Home Education atau Home Based Learning,, Pendidikan atau proses belajar berbasis rumah,, karena bagi kami Schooling atau Education terdengar sangat berasosiasi dengan ijazah, atau alat untuk mengukur seseorang, padahal seseorang itu tidak bisa diukur hanya dengan selembar Ijazah,,

Sepanjang proses perjalanan (yang sampai saat inipun masih berproses), kami bersama sama merangkai nilai untuk keluarga kami,, (Karena kami muslim, kami berusaha sekuat mungkin berpatokan pada Qur’an yang mulia,,)

Adanya Azzam (yang merupakan hadiah terindah dari Alloh) lebih membuka mata hati kami, dan juga membuka jalan kami untuk bisa belajar lebih banyak lagi kebaikan,,

Kami hanya ingin bisa berproses bersama,, Kami ingin mengalirkan energi belajar pada Azzam,, Tidak terkotakkan oleh kelas tempat belajar, oleh waktu belajar, oleh kurikulum belajar, ataupun lembaran Ijazah,,

Kami hanya ingin menanamkan semagat belajar berlandaskan kecintaan pada Alloh,, Karena kami sadar kami tidak pernah bisa menebak seperti apa nanti Azzam akan menghadapi dunianya,, Menjadi seperti apapun Azzam nanti, berprofesi apapun Azzam nanti, bagi kami yang terpenting untuk ditanamkan adalah bahwa Azzam (pun kami dua orang tuanya) seorang Mu’min qobla kulli syaiin (sebelum semua predikat ataupun profesi yang lain) dan menanam nilai ini tidak bisa dengan menitipkannya pada orang atau sebuah lembaga pendidikan,,

Menanam nilai kecintaan pada Alloh adalah tanggung jawab kami, kedua orang tuanya,,

Sebab bagi seorang mu’min (menurut keyakinan kami) kesuksesan bukanlah diukur dari apa pekerjaannya nanti, lulusan mana, kekayaan, jabatan atau apapun,,

Menurut kami, kesuksesan “cukuplah” bisa memaksimalkan diri untuk bermanfaat bagi banyak orang (apapun profesinya) dan seburuk apapun ketika kita harus berhadapan dengan ujian dunia (pangkat, harta, tahta, dan wanita -untuk laki laki- ) kami tahu kemana harus menghadapkan wajah dan hati kami dan mengembalikan semua urusan kami yaitu pada Alloh ta’ala,, Karena kami yakin akan ada kehidupan yang abadi setelah kematian nanti,,

Banyak pertanyaan yang dilontarkan teman teman terkait pilihan kami meng-homeschoolingkan Azzam,,

1. Kenapa Homeschooling,,?

2. Apa itu Homeschooling,,?

3. Bagaimana menjalankan Homeschooling,,? (maksudnya menggunakan kurikulum apa dan bagaimana mengajarnya,,?)

4. Dimulai sejak usia berapa Homeschooling,,?

5. Bagaimana nanti ujian dan cara mendapat Ijazah dan legalitas,,?

6. Apa harus memanggil guru kerumah (karena dirasa kapasitas orang tua tidak mencukupi untuk menjadi guru),,?

7. Berapa biaya yang harus dikeluarkan,,?

8. Bagaimanakah anak homeschooling bersosialisasi,,?

9. Bagaimana anak homeschooling bisa menghadapi “kerasnya dunia” sementara mereka (dianggap) tidak pernah keluar dari rumah dan berhadapan dengan “kerasnya dunia”,,?

dan masih banyak pertanyaan yang terlontar dari teman teman (yang mungkin kami juga menjawabnya masih dengan mengutip pengalaman keluarga homeschooler lain karena kami memang belum melaluinya,, karena Azzam pun belum masuk usia sekolah,,,)

Sampai hari ini kami mencoba menjawabnya satu persatu (masih lebih banyak jawaban lisan mungkin,,) karena memang insyaAlloh kami (yang sampai hari ini masih terus belajar), telah melewati pertanyaan pertanyaan itu dan mencari jawab bagi diri kami sendiri,,, Mudah mudahan dengan Izin Alloh, kami bisa menjawab dalam bentuk tertulis,, (walaupun sudah banyak web dan blog para homeschooler yang menjabarkan, insyaalloh kami akan menjawab versi tulisan kami,,)

Diatas semua upaya, kami mengawali langkah kami dengan doa dan memohon penjagaan dari Alloh,, Karena pada Alloh-lah bermuara seluruh kebaikan dan Alloh-lah pemilik diri diri kami,,

Robbanaa bukakan pintu pintu belajar bagi kami,, dan dekatkan kami pada ma’rifah kepadaMu,,

“Robbanaa atmimlanaa nuuronaa waghfirlanaa, innaka “alaa kulli syaiin qodiir,,”  ”Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Aamiin yaa robbal ‘alamiin,,,

Reformasi Dalam Keluarga,,,

Sebagian generasi dinegri ini masih ingat benar sebuah catatan sejarah saat idealisme moral menjadi tonggak awal perubahan untuk Indonesia. Jutaan pemuda dan pemudi dipenjuru tanah air serentak merubuhkan tirani kediktatoran untuk dirubah menjadi demokrasi lewat suara lantang reformasi. Darah-darah segar pemuda menjadi tumbal terdepan demi terciptanya kesejahteraan rakyat saat itu.

Tiga belas tahun sudah masa itu terlewati. Para aktivis reformasi itu kini sudah tak lagi berteriak. Suara lantangnya seakan dibungkam oleh keteraturan demokrasi kekuasaan. Rakyat kini jarang terdengar untuk diatas namakan, hanya terngiang ketika akan mencari dukungan. Darah-darah pemuda kini hanya sebatas mengalirkan tepuk ria di layarkaca hanya demi acara tawa.

Ternyata ada fase yang terlewatkan setelah gempita reformasi diterima. Para pelaku orator moral saat itu semuanya pemuda disetiap kelompoknya. Jauh dari pengalaman hanya sebagai pendobrak pintu tirani. Keadaan ini yang terbawa oleh para pemuda ketika sejenak rehat untuk masa depan dirinya dengan memutuskan untuk menikah. Tanpa bekal konsep yang jelas dan tak tertuliskan sebagai MOU pernikahan sebagai bagian menyatukan dua isi kepala yang berbeda. Pemuda pemuda yang lantang dibarisan masa itu ternyata harus bergagap gagap menyusun nilai yang akan ditanamkan untuk menjadi nilai keluarga,,

Kejadiannya sama persis dengan para aktifis yang kini menduduki jabatan atas nama buah perjuangan untuk perubahan. Sebagai wakil rakyat mereka tak siap dengan  konsep nyata, sementara didalam keluarganya mereka mendidik anak anaknya seperti coba-coba. Lalu apa jadinya nanti jika anak-anak ini tumbuh. Akankah dapat kembali turun kejalan meneriakkan kembali visi perubahan menentang karya orang tuanya sendiri karena ditekan kekuasaan.

Yang perlu ditata kembali adalah bongkahan keluarga yang terlanjur pecah untuk disatukan kembali. Kesadaran menjadi orangtua adalah dasar yang perlu kembali disadarkan, sehingga kita akan selalu siap menghadapi setiap perubahan. Bahwa pemuda pemuda inilah yang sekarang sedang dititipkan generasi baru, yang harus bekerja keras untuk merencanakan dengan matang, mempersiapkan generasi mendatang yang akan kembali diluncurkan sebagai busur zaman.

Syukur Kami Hari Ini,,,

Udah lamaaa banget rasanya ngga jalan jalan pagiiii (kaya’nya sebulan ini stuck banget di depan laptop),, Hari ini Ayah memang udah niaat banget buat ngajak muter muter pagi,,, .

Kami jalan jalan,, muter muter dan sampailah kami sarapan wadai (kue, dalam bahasa Banjar) Laksa (ala Banjarmasin,, dan jangan mbayangin laksa Jakarta ya,, pokoknyaa bedaaa buanget) yang terdiri dari kue dari tepung beras yang dibentuk seperti putu mayang (tapi dengan ukuran diameter yang lebih besar) ditambah telur bebek rebus yang kemudiaan disiram pake kuah santan (plus bawang goreng),, Azzam sarapan kue edisi manis (karena bunda lihat kuah Laksanya pake mecin buanyak buanget,, tapi karena udah keburu pesen yaaa,, gimana,,) terdiri dari putu mayang (yang ini standar seperti putu mayang Jakarta) ditambah kue Koleke (kalo ga salah) yang dibuat dari adonan tepung beras juga plus telur yang diberi pewarna hijau yang terus disiram pake kuah gula merah campur santan (seperti kuah putu mayang standar,,,)

Selesai sarapan wadai kami lanjut ke pusat keramaian di kota Banjarmasin yaitu,,, depan Kantor Gubernur sampai ke Masjid Raya,,,,

Didepan kantor gubernur banyak yang sudah berkumpul dan melakukan senam masal (rutin tiap Minggu kelihatannya,,),, Disana Azzam main,, dan “olahraga” ala Azzam,, he he,,

Azzam juga kenalan secara alami (langsung main bareng maksudnya) sama Aldi (1y 8m) yang mengikuti Azzam lari larian sampai akhirnya mereka main bareng,, lihat gambar ditembok lapangan kantor gubernur bareng,, tendang tendang gelas aqua bareng,, dan ngobrol dengan “bahasa tubuh” bareng,, he he,,

Hmmm serunya,, bunda sama neneknya Aldi ngga ngobrol banyak sih,, cuma sempet tanya nama Aldi sama usianya karena kami duduk agak jauh,, well yang penting Azzam nya ngga gagap sosialisasi dan bisa main sama siapaaa aja (seperti yang banyak di dengungkan kalo anak Homeschooling itu biasanya ngga bisa bersosialisasi,, ternyata,,, salah besarrrr Sodara sodara,,,),, Alhamdulillah,,

Puas main,, waktunya pulaaanggg,,, Sempet puter puter nyari buah Pepaya,, karena requestnya Azzam buah pepaya,,, (Alhamdulillah minta “jajannya” murah, meriah dan sehat,,!!). Akhirnya kami mampir dipasar dan beli buah pepaya Rp 3.000, saja ,,,,,

Lanjuttttt,Kali ini waktunya Ayah mengutak atik botol botol bekas bedak Azzam (yang kata Ayah sebelumnya memang udah diniatin mau bikin robotan,,)

Robotnya dibuat dengan 2 buah botol bekas bedak Zwitsal, Tutup botolnya dijadiin mata robot (karena bisa dibuka tutup jadi kaya pake kacamata deh,, he,, he,,), Botol yang satu buat badan robot dan botol yang kedua (cuma diambil separuh) buat bagian bawah robot,, Robotnya dikasih kaki pake roda (seperti biasa,, bekas tutup botol), dikasih tangan pake garpu plastik (bekas pop mie bunda yang ngga pernah dipake,,), terus diperutnya digantungin sendok bekas obat (karena robotnya laper kata Azzam,,) dan kepalanya dikasih topi  dari tutup gelas plastik (kalo yang ini sih bekas tutup gelas teh) dan dikasih rambut hijau pake bagian atas dari botol fresh tea,, (waahh sepertinya kebanyakan ngumpulin bekas kemasan yaaa,,,)

Hasilnyaa,,, taaa,, da,,, Robot Ondel Ondel karya Ayaaahhh,,,

Yeee,, satu cium lagi buat Ayah dari Azzam karena udah bikinin mainan,, (walaupun menurut bunda bentuknya agak ngga jelasss, gitu,,,) tapi,, terima kasih Ayah,, sudah mau buatin maian yang ngga semua ayah mau bersusah susah membuatkan mainan untuk anaknya (yang katanya disayanginya,,,)

Alhamdulillah,, terima kasih Alloh,, untuk ayah sebaik Ayah,,

Semoga Alloh karuniakan keberkahan atas kehidupan kami,, dan semoga Alloh lipatgandakan kesabaran dan kesyukuran pada kami untuk berproses bersama,, Aamiin,,

Truck Trailer dari Kardus Bekas Buatan Ayah,,

Azzam memang sedang senang senangnya sesuatu yang berbau truck,, mulai dari membaca tentang truck sampai main mainan truck,,

Buku ensiklopedi junior Transportasi yang ada cerita tentang trucknya hampir sudah dihapalnya,, Azzam bisa cerita panjang lebar sama bunda dan ayah tentang isi buku Transportasinya,,

Azzam bisa memodifikasi mainan yang bukan truck menjadi sebuah truck trailer ala dia,, (Azzam punya mobil loader kecil yang sama Azzam dirubah jadi trailer dengan menambah -menyangkutkan- kardus kardus kecil bekas salep,, atau rel mobilan dari plastik yang diatasnya membawa tutup tutup botol dan dengan suksesnya dia bilang itu mobil truk trailer,,)

Azzam juga dihadiahi ayah truk trailer kayu yang mengangkut mobil balap yang juga terbuat dari kayu (yang sudah habis diwarnai Azzam dengan pensil warna,,),, Mobilan Kayunya bukan seperti mobilan yang dijual dipinggir jalan lho,, Pokoknya jenis kayunya bedaaa deh,, Kayu ala ala kalimantan gitu,, (bunda sama ayah ngga tau jenis kayu apa nihh,, Ayah juga dapat mobilan itu lungsuran dari teman ayah yang tau kalo Azzam sukaa mobilan truck,,he he,,)

Ayah rupanya cukup memperhatikan kesukaan Azzam ini,, Sampailah Ayah bertekad membuatkan sendiri mainan truck hasil karya Ayah,,,

Dan,,,, taaa daaa,, Hasilnya ngga kalah keren sama mobilan Hot Wheels Azzam buatan pabrik kan,,, (import dari Malaysia lagi,,!!),, Malah kerenan mobil buatan Ayah,,,

Ayah udah mikirin gimana cara buat mobil trailernya dari semalam waktu Azzam udah tidur,, Paginya baru Azzam ribut bantu Ayah buat mobil trailernya,, Azzam belajar tentang reusing lagi hari ini,,,

Kontainer Trailer Azzam dibuat dari 2 buah kotak plastik bekas pepsodent, yang bawahnya dilubangi untuk roda dan dikasih sedotan kecil kecil bekas Aqua gelas supaya lebih kokoh,, Rodanya ada 8 dari bekas tutup botol Aqua,, Kepala trailernya dibuat dari kardus bekas Daktarin powder yang dibentuk dan dibolongi untuk jendelanya,, Kepala trailernya juga dikasih cerobong dari sedotan warna coklat bekas kopi Nescafe kotak loh,, Kaca trailernya juga dilapisi pake sisa sedotan,, Didalam kontainer trailernya Azzam isi pake muatan tutup botol plastik bekas juga,, dan,, Kepala trailer sama trailer pengangkut kontainernya disambung pakai plastik kemasan Blueband,,, (biar tetep bisa belok belok kata ayah,,)

Subhannalloh,, luar biasa kan Ayah ini,, Jarang jarang loh ada bapak yang masih sempet buatin mainan untuk anaknya,, (Setelah lebih dari sepekan ayah bergulat sama laporan kantor,, Ini cara refreshingnya ya,,??)

Sekarang pun waktu bunda menulis (habis nyuci neehh), Ayah masih asyik main sama Azzam,,

Kalo gitu,, satu ciuman dari bunda plus Azzam buat Ayaaahh,,, Mmuuuuuaaacchh,, Terimakasih ayaahh,,

Alhamdulillah,, Terima kasih Alloh,,

Tanpa Disadari Azzam Belajar Geografi,,

“Bunda,, aku buat bangunan pabrik Honda,,” Itu kata Azzam tadi siang sambil mengajak bunda untuk menengok bangunannya,,

Ya,, bangunan dari tumpukan kardus ala Azzam yang bisa dinamai bangunan apaaa aja semaunya Azzam,,

“Bangunan apa Zam,,?” tanya bunda

“Pabrik Honda yang tutup di Thailand karena Banjir,,? Jawab Azzam sambil berusaha menerangkan dengan jelas,,

“Oo ya,,? Emang Azzam tau dari mana,,?” tanya bunda bingung (karena bunda memang ngga tau beritanya,,)

“Lah diberita, di tivi” jelas Azzam

“Loh kapan,, kok bunda ngga tau,,” tanya bunda lanjut

‘Tadi,, aku liat berita,, di Thailand banjir besarrr,,” Jelas Azzam sambil asik membongkar pabrik kardusnya,,

Waahh bunda memang bener bener ketinggalan berita,, Kalo Thailand banjir memang bunda sudah tau, tapi kalo pabrik Honda tutup,, bunda tau dari Azzam,, he he,, (anak jaman sekarang ya,,)

Malamnya baru bunda lihat berita bareng bareng ayah,, “Oo ini yang Azzam bilang,,” bunda menggumam,,

“Apa,,?” tanya Ayah,,

“Pabrik Honda tutup di Thailand karena banjir,,” terang bunda

Ayah cuma geleng geleng kepala (ngga tau geleng karena beritanya atau karena Azzam tau lebih dulu dari bunda,,, he he,,)

Well begitulah,, Azzam bisa belajar dengan media apa saja,, termasuk hobby Azzam bangun membangun ini,, Bunda amati memang Azzam bisa membangun apaaaa saja sesuai imajinasinya,, Cukup dengan kardus kardus bekas yang dia kumpulkan sendiri (tanpa harus dengan mainan mahal) yang dia suka bilang sambil mengumpulkan kardus “yang ini bisa buat aku ngebangun nih bunda,,”

Termasuk harusnya bunda bisa lebih mengenalkan dengan negara negara yang Azzam sebut,, Azzam kadang kadang membangun menara Eifel (Azzam dapat nama menaranya dari film “Little Einstain”).

Satu hari Azzam juga membangun Istana Mbul,, (yang bundanya ketawa habis,, dan ngga berenti berenti),, Maksudnya Menara Istambul (yang juga Azzam lihat di “Little Einstain),, Azzam membangun berbagai bangunan dari banyak negara,,

Seperti percakapan Azzam dan Ayah 2 hari lalu,,

Ayah mendengarkan Azzam mengoceh tentang makanan khas (yang bunda dan ayah ngga tau Azzam belajar kata makanan khas itu dari mana,,)

Sambil mainan mobil dan pesawatnya Azzam mumbling,, “Makanan khas Korea,,? Kimchi,, Makanan khas Indonesia,,? Nasi,, Makanan khas Banjarmasin,,? Dodol Kandang-an (diucapkan terpisah oleh Azzam),,”

“Masa dodol kandangan Zam,, kan ada Soto Banjarmasin, Nasi Kuning,,” sahut ayah iseng menaggapi

“Iya,,” jawab Azzam “Pokoknya dodol Kandang-an,,” lanjut Azzam,,

Juga percakapan Ayah dan Azzam sore tadi waktu Azzam membukakan pintu menyambut ayah yang baru pulang,,

“Ayah,, nanti malam ada pertandingan sepak bola Indonesia vs Karak,,” kata Azzam bersemangat karena baru saja nonton berita di TV,, (Bunda yang dengar langsung ketawa sampai keluar airmata,, Azzam,, Azzam,, udah semangat banget ngomongnya tapi,, Salah sebut,,,!! he he,,he he,,)

“Sama siapa Zam,,” tanya Ayah sambil juga ketawa,,

Azzam mengulang ulang menyebut Karak,, dan dia rubah menyebut beberapa kata tapi tetep salah,, terus dia kembali kedepan TV (karena bunda ngga berenti ketawa) sambil mengamati penyiarnya dan akhirnya bisa menyebut “Qatar” dengan benar,,

Banyak momen yang harusnya bisa bunda dan ayah pakai untuk “menyisipkan” pelajaran geografi (mengenal lebih dalam nama nama tempat yang Azzam sebut), tapi sampai hari ini bunda belum memperkenalkan membaca Atlas,, (Kita nabung dulu ya nak,, nanti Insyaalloh kita bisa beli globe,, Aamiin,,),, Insyaalloh banyak jalan untuk belajar geografi ya nak,,

Robbana,, mudahkan kami untuk belajar,, mensyukuri betapa Engkau menghamparkan bumi ini dengan indah,,, Aamiin,,

Mengalirkan Energi Ma’iyatulloh Pada Azzam,,,

Ada benang merah yang kami temukan sepanjang menjalankan proses “mendidik” Azzam terutama di Ramadhan dan Syawal kemarin,,

Ada kalanya Azzam melakukan sholat dengan express padahal ayah dan bunda tahu kalau Azzam membaca dengan tertib maka sholatnya akan memerlukan waktu lebih lama,, setelah dirunut dengan beberapa diskusi akhirnya Azzam menjawab bahwa dia kadang terlupa dengan bacan sholatnya (yang tadinya kami anggap sudah sangat dihafal) maka kami -yang memang sedang membiasakan untuk berkata yang sebenarnya dan tidak harus takut untuk berkata yang sebenarnya- menekankan bahwa kami akan berusaha untuk membantu kesulitan Azzam sebisa mungkin jika kami tahu apa yang dirasa Azzam oleh karena itu Azzam harus berkata yang sebenarnya ,,

Kami  lebih memilih kalimat positif Azzam harus berkata yang sebenarnya dibanding kalimat jangan berbohong,,,

Karena menurut kami dengan kalimat positif Azzam bisa menjadi lebih tahu apa yang harus dilakukannya dibanding dengan memberikan kalimat jangan berbohong  tanpa menjelaskan apa yang seharusnya Azzam lakukan,,

Kami menjelaskan pada Azzam bahwa dimanapun kapanpun, sedang melakukan sesuatu hal maka ada malaikat yang mengawasi dan mencatat,,

“Maa yalfizhu min qaulin illaa ladayHi raqiibun ‘atiidun”

“Tidak suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)” Qaaf : 18

Dan Alloh akan senang jika Azzam mau berkata yang sebenarnya karena apa yang Azzam sembunyikan akan ada catatanya,,

Rasa diawasi oleh Alloh (Maiyatullah) ini yang sedang kami coba untuk alirkan pada Azzam,,,

Seperti apa yang telah Alloh sampaikan di QuranNya yang mulia “,,Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Ia bersemayam di atas Arasy; Ia mengetahui apa yang masuk ke bumi serta apa yang keluar daripadanya; dan apa yang diturunkan dari langit serta apa yang naik padanya. Dan Ia tetap bersama-sama kamu di mana saja kamu berada, dan Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan,,  Qs Al Hadiid : 4

Kami yakin dengan seluruh kesadaran akan adanya Kasertaan Alloh pada setiap hela nafas Azzam lah yang akan menjaga Azzam pada akhirnya dari keburukan dunia,,,

Azzam akan siap menghadapi apapun bentuk ujian hidup kedepannya,, kami dua orangtuannya tidak pernah tahu seperti apa dunia ini 10, 20, 30 tahun lagi,, Mungkin akan sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang kami hadapi sekarang,,,

Berkaca dari nasihat sederhana Luqmanul Hakim yang sarat makna yang diabadikan dalam QS Luqman: 13 dan 16

{13} Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi nasihat (pelajaran) kepadanya: Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah sesungguhnya mempersekutukan (Alloh) itu adalah satu kezaliman yang besar.

{16} (Luqman menasihati anaknya): Wahai anakku, sungguh jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada di dalam batu atau di langit ataupun di bumi, niscaya Alloh akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus pengetahuan-Nya; lagi Amat Meliputi akan segala yang tersembunyi

Kami tidak bisa menjaga Azzam tiap saat,, maka kami percayakan penjagaan Azzam pada Alloh Subhannahu wataala,, Kami yakin bila Azzam meyakini bahwa Alloh menjaga dan mengawasi dirinya maka Azzam akan tahu kemana dia harus bermuara, kemana dia harus menghadapkan wajah dan hatinya,,

Tinggal kami yang pada akhirnya harus mengawal dengan doa,,,

Seburuk apapun kehidupan dunia, Alloh akan tetap ada untuk menjadi Penjaga bagi orang orang yang merasai Penjagaan Alloh karena Alloh adalah Al Hafidz,,

Yaa Hafidz,,Pelihara kehidupan kami,, dan pertemukanlah kami dengan kematian yang baik,,  Aamiin yaa Robbal ‘alamiin,,

“Ayah, apa bahan bakar becak,,, ??”

Itulah sekelumit pertanyaan Azzam tadi ketika kami keluar “jalan jalan” (bukan ding, cari makan,,),,,

Azzam memang sedang asyik “mendalami” buku Energinya (buku yang dibeli hasil uang angpaunya he he,,). Azzam banyak menyerap kata kata berkaitan dengan energi dan bahan bakar,,

Azzam sudah kenal dengan Avtur, bahan bakar pesawat terbang yang walaupun belum lihat bentuknya tapi pernah Azzam lihat pesawat yang sedang diisi bahan bakar ketika sedang menunggu untuk boarding,,

Azzam juga sudah kenal bahan bakar mobil, bensin dan solar,, Azzam sudah lihat langsung Batubara yang juga merupakan sumber energi dan bahan bakar kereta uap (yang ini Azzam baca dari Educomic Aku Suka Belajar Mobil dan Roda), Azzam lihat tongkang batubara lalulalang di sungai Barito,,

Azzam juga sudah kenal beberapa sumber energi, matahari, listrik, batre dan Azzam juga punya kata kata baru yaitu “Energi Potensial” (kata kata barunya ditanyakan berulang ulang dan tetap harus dijawab walaupun sebelumnya sudah dijawab,, mungkin sedang menghafal ya,, he,, he,,)

Tadi pun dijalan Azzam banyak “ngobrol” tentang bensin untuk motor dan mobil,, Sampai akhirnya terlontarlah sebuah pertanyaan ke ayah,,

“Ayah, apa bahan bakar becak,,?”

Ayah meminta Azzam mengamati becak, “Becak punya mesin ngga,,?” tanya ayah,,

“Engga,,” jawab Azzam ,,

“Terus gimana caranya roda becak bergerak,,? Lanjut Ayah,,

“Digenjot,,”jawab Azzam,,

“Sama seperti apa,,?”tanya Ayah,,

“Sepeda,,!” jawab Azzam

“Jadi mesin becak itu apa,,?lanjut ayah,,

“Kaki,,,!”jawab Azzam (he he,,)

“Terus gimana supaya kaki tukang becaknya punya tenaga biar becaknya bisa bergerak,,?” tanya Ayah,,

“Tukang becaknya harus makan,,!” lantang jawab Azzam,,

“Ooo jadi bahan bakar becak itu NASI PECEL Ayah,,!” lanjut Azzam menyimpulkan,, (kesimpulan yang agak aneh sebenernya,,)

Bunda ketawa dijok belakang motor menyimak percakapan ayah dan Azzam,, tergelitik nimbrung bunda lalu bertanya,, “Kenapa mesti nasi pecel Zam,,??”

“Iya,, kan harus makan sayur,,” terang Azzam,,

Yaaa pelajaran tentang energi ditutup dengan kesimpulan bahwa bahan bakar Becak adalah,,, Nasi Pecel,,, (he ,, he,,)

Belajar memang menyenangkan,,

Well, walaupun terselip pertanyaan “Sampaikapan ya nak, alat transportasi yang ramah lingkungan ini bisa bertahan,,??”

Terimakasih Atas Do’a-do’a mu Nak,,,

Mungkin sebagian kita para orang tua ada yang belum menyadari betapa bahagianya ketika kita sebagai orangtua memiliki anak yang sholeh atau sholehah. Karena hanya anak yang sholeh dan sholehah yang bisa dan mau dengan sadar untuk mendoakan kedua orangtuanya sebagai salah satu sarana untuk berbakti.

Tidak mudah memang bagi kita para orangtua dapat menjadikan anak-anak kita seperti yang banyak dicita-citakan bahkan dalam harapan tiap do-a para orangtua. Tetapi perlu diingat kembali bahwa kita para orangtua pernah berada pada masa menjadi anak-anak juga. Dengan segala kepolosannya kita menjalankan peran sebagai anak dengan mengikuti segala bentuk cara mendidik orangtua kita saat itu.

Semua pasti masih terekam dengan jelas masa-masa saat kita yang sekarang menjadi orangtua dengan kala itu ketika kita masih menjadi anak-anak. Kita mendengar dan melihat harapan orangtua kita lewat do’a do’a nya agar kita menjadi anak yang berguna dimasa mendatang. Itu semua dilakukan oleh orangtua kita dengan sadar dan penuh kesungguhan.

Kini kita sudah berada pada fase menjadi orangtua dari anak-anak yang kita cintai. Berbagai macam cara kita tempuh agar anak-anak kita menjadi orang yang bukan hanya berguna tetapi juga berhasil dalam kapasitasnya masing masing dikehidupan mendatang sesuai dengan zamannya. Sudah menjadi hal yang lazim bila kita para orang tua memiliki harapan itu.

Lalu sudahkah kita melakukan semua harapan itu dengan sadar dan penuh kesungguhan lewat do-a do’a kita..?
Atau kita hanya menyerahkan pada orang lain yang cukup ilmu untuk sekedar menjadikan anak-anak kita seperti yang kita harapkan..?

Benarkah hanya dengan cukup mengajarkan dan menyuruh anak-anak kita menjalani “ritual” kebaikan dapat menjadikan anak-anak kita sholeh dan sholehah…?
Apakah kita para orangtua sudah lupa bahwa kita juga adalah peniru yang hebat saat kita menjadi anak-anak dahulu mengikuti semua perkataan dan perangai orangtua kita..?

Disinilah kuncinya ketika kita para orangtua hanya dapat memberi perintah tanpa menjelaskan apa faedahnya apa lagi tidak dibarengi dengan memberi contoh.
Juga saat kita melarang anak-anak kita sesuatu tanpa memberikan pengertian kenapa hal itu dilarang.
Atau saat kita marah pada anak-anak, kita tidak menjelaskan apa sebabnya kita marah dan tak pernah kita memberikan kesempatan si anak untuk membela dirinya.

Ternyata belajar itu bukan hanya kebutuhan untuk anak-anak kita. Belajar juga diperlukan untuk kita para orangtua yang kini sedang aktif menjalankan perannya sebagai orangtua.

Belajar bersama sama itu akan menghasilkan cara pandang tersendiri tentang hubungan kita dengan anak-anak. Si anak tidak lagi melihat bahwa kewajiban belajar itu hanyalah khusus untuknya. Tetapi belajar sesuatu itu juga dilakukan oleh kita para orangtua yang sedang belajar menjadi orangtua sesungguhnya.

Akhirnya kita akan melihat sekaligus mendengar ketika anak-anak kita sedang menengadahkan tangannya dengan do’a do’a yang keluar dari mulut mungilnya untuk kita para orangtua. Alangkah bahagianya kita para orang tua menyaksikan hal itu. Mungkin sama rasanya ketika do’a ini kita panjatkan untuk kedua orangtua kita saat kita masih anak-anak dulu. “Allohummaghfirlii waliwalidayya warhamhumaa kama robbayaanii shoghiiroo” (Doa Azzam)

“Ya Alloh,, sayangi Azzam,,, ampuni dosa ayah bunda, sayangi mereka seperti mereka menyayangi aku,,,” Aamiin..

Membacakan cerita ,, Memperkaya kosa kata,,

Azzam memang punya kesukaan sendiri,, kesukaan nya yang sangat sangat adalah dibacakan cerita,, Hampir tiap ada kesempatan Azzam menenteng nenteng bukunya dan minta dibacakan cerita,, Ternyata dari kesukaannya dibacakan cerita ini Azzam belajar sesuatu yang menurut bunda luar biasa,, Kosa kata Azzam menjadi bertambah dan Azzam kaya dengan kata kata baru,, Mungkin awalnya Azzam hanya menyimak,, mendengar ketika dibacakan cerita atau ketika menonton film,,

Kemarin Azzam tanya (sewaktu kami didalam perjalanan diatas motor) “bunda apa itu tersendak,,?”

“Apa Zam,,?” tanya bunda meminta Azzam mengulang kata yang diatanyakan

“Tersendak,,!” kata Azzam,, “ Azzam tau dari mana,,?”tanya bunda,, “Buku,,”jawab Azzam,,

“Iya buku tentang apa,, apa kalimatnya,,?” tanya bunda melanjutkan

“Buku tentang mobil dan Roda katanya,,

“Oo tentang mobil,, mobil jalannya tersendat bukan tersendak,, tersendat itu jalan pelan pelan ngga lancar” terang bunda,,

“Kalo tersedak itu kita lagi makan terus keselek,,” lanjut bunda lagi,,

“ Oo jadi ini mobil semua jalannya tersendat karena lampu merah,,” lanjut Azzam

“iya,,”  jawab bunda,,

Yaa ayah dan bunda memang banyak kaget mendengar banyaknya kata yang Azzam tanyakan,, seperti sebelumnya Azzam bertanya ke ayahnya tentang apa itu piston yang akhirnya dari pertanyaaan sederhana ayah dan azzam bisa ngobrol panjang lebar tentang piston mobil sampai piston kereta uap jaman dulu yang digunakann untuk menggerakkan roda kereta,, (mereka akhirnya membuka lagi buku educomic tentang Mobil Dan Roda, terbitan BIP)

Bunda dan ayah juga sering memperhatikan kalau azzam sedang bermain mobil dan ngoceh sambil main,, dari kata kata yang diucapkan azzam banyak sekali kata kata yang dia pelajari dari film atau buku yang kami baca bersama,,

Azzam juga tanya tentang pos wesel yang bunda jawab salah (bukan pos untuk mengirim uang seperti yang umum diketahui) ternyata pos wesel yang dia maksud adalah Pos yang mengatur jadwal perjalanan kereta, mengotrol sinyal dan yang mengatur kereta saat melewati satu jalur ke jalur yang lain,, He he,, jauh banget yang ditanya sama jawabannya ya,,

Ya Azzam “nemu” istilah pos wesel itu dari buku ensiklopedia cilik (terbitan BIP) tentang transportasi,, mungkin karena itu buku terjemahan bahasa perancis ya,, jadi istilah pos weselnya lain,, (Atau bunda yang ngga gaul,, he,, he,,)

Sudah tak terhitung banyaknya kata kata yang Azzam pelajari dari membaca  buku buku (atau dibacakan cerita). Mungkin juga diperkaya dari menonton Si Bolang, laptop si Unyil, Dunia Binatang, Dunia Air, Mancing Mania, Wisata kuliner  dan banyak acara yang kami tonton bersama,,

Azzam melihat, mendengar, mengamati, mengingat kemudian bertanya yang semuanya adalah proses belajar,,

Selamat menikmati proses belajarmu ya Nak,, Semoa Alloh bukakan pintu ilmu dari segala arah,, Aamiin,,

Kereta Dari Botol Susu Bekas,,,

Setelah sekian lama mau ngikutin “hand made” (acara di global TV), baru sekarang kesampaian Ayah buatin azzam mainan dari botol susu bekas,, Beberapa waktu yang lalu memang Azzam dibawakan banyak susu botol oleh ibu ida (teman kantor ayah),, Ayah bilang ke Azzam kalau sudah habis susunya botolnya jangan dibuang,, Jadilah bunda mencuci botol yang sudah kosong dan Azzam membantu mengeringkan terus menyimpannya,,

Sampailah hari ini ayah buatkan Azzam mainan kereta keretaan dari botol susu bekas,, Botol susunya dilubangi, terus disambung sambung , dipasangi roda dari bekas tutup botol minuman,, (Ayah meminta Azzam memilihkan tutup botol dari botol yang sama jenisnya supaya jalan keretanya bagus,, Azzam terlihat sibuk pilih memilih tutup botol)

Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk membuat mainan sederhana dari barang yang sudah tidak terpakai. Tidak perlu punya keahlian khusus untuk mencoba berbagai bentuk. Kuncinya adalah senang mengerjakannya bersama-sama, dan perlu diingat bahwa dunia main anak-anak itu kaya akan imajinasi. Jadi tak perlu takut salah dalam menciptakan sesuatu dan semua karya yang telah dibuat adalah hasil kreasi tangan kita sendiri,,,

Selamat bermain…

Kutak Katik Emco,,

Karena sudah seharian Azzam bongkar membongkar emconya “tanpa arah yang jelas” Akhirnya sore ini ayah membantu Azzam memodif Emconya,,

Azzam memang punya 2 set kecil Emco, mainan bongkar pasang (building blocks) mirip lego (tapi lebih murah,, set kecil Rp 19.000 an) yang satu Fire Engine (57 pieces building blocks) yang satu lagi Tow Trucks (49 pieces).

Nah namanya juga Azzam, ngga puas kalo sesudah dipasang menjadi bentuk sebenarnya terus ngga dipreteli lagi, jadilah dua emco itu dipasang dan dimodif tanpa bentuk yang pasti,,, He he,, jadi bentuk ala ala Azzam gitu,,

Sore ini Ayah menemani Azzam meng-utak atik emconya,, mereka berdua asyik main (walaupun belum pada mandi,, he he,,) Azzam mau buat trailer katanya,,

Beberapa waktu kemarin memang Azzam belajar membedakan jumlah roda trailer, tronton dan truk biasa dari pak Fahruddin (teman Ayah,,). Pak Fahruddin menerangkan ke Azzam kalau trailer itu jumlah rodanya lebih dari 12, tronton itu jumlah rodanya 10 dan kalo rodanya kurang dari 10 itu disebut truk biasa,,

Sepanjang jalan, sejak belajar membedakan jumlah roda (ketika kami naik motor), Azzam menghitung jumlah roda truk yang dia lihat,, Hampir selalu salah hitung sih,, karena Azzam masih menghitung roda belakang itu 1 roda bukan 2 roda,, Ga pa pa deh,, namanya juga belajar sambil main,, eh, sambil mengamati,,

Kembali pada Emco,, Azzam dan Ayah mengutak atik Emco menjadi mobill panjang,, Roda dari 2 set emco digabung disatu bentuk mobil,, Jadilah mobil panjang ala Ayah dan Azzam,,,

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: