Search

Days in Our Lives,,,

hari hari belajar kami,,,

Category

Coretan Dinding

opini

Part Of Our Journey,,,

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements
Featured post

Reformasi Dalam Keluarga,,,

Sebagian generasi dinegri ini masih ingat benar sebuah catatan sejarah saat idealisme moral menjadi tonggak awal perubahan untuk Indonesia. Jutaan pemuda dan pemudi dipenjuru tanah air serentak merubuhkan tirani kediktatoran untuk dirubah menjadi demokrasi lewat suara lantang reformasi. Darah-darah segar pemuda menjadi tumbal terdepan demi terciptanya kesejahteraan rakyat saat itu.

Tiga belas tahun sudah masa itu terlewati. Para aktivis reformasi itu kini sudah tak lagi berteriak. Suara lantangnya seakan dibungkam oleh keteraturan demokrasi kekuasaan. Rakyat kini jarang terdengar untuk diatas namakan, hanya terngiang ketika akan mencari dukungan. Darah-darah pemuda kini hanya sebatas mengalirkan tepuk ria di layarkaca hanya demi acara tawa.

Ternyata ada fase yang terlewatkan setelah gempita reformasi diterima. Para pelaku orator moral saat itu semuanya pemuda disetiap kelompoknya. Jauh dari pengalaman hanya sebagai pendobrak pintu tirani. Keadaan ini yang terbawa oleh para pemuda ketika sejenak rehat untuk masa depan dirinya dengan memutuskan untuk menikah. Tanpa bekal konsep yang jelas dan tak tertuliskan sebagai MOU pernikahan sebagai bagian menyatukan dua isi kepala yang berbeda. Pemuda pemuda yang lantang dibarisan masa itu ternyata harus bergagap gagap menyusun nilai yang akan ditanamkan untuk menjadi nilai keluarga,,

Kejadiannya sama persis dengan para aktifis yang kini menduduki jabatan atas nama buah perjuangan untuk perubahan. Sebagai wakil rakyat mereka tak siap dengan  konsep nyata, sementara didalam keluarganya mereka mendidik anak anaknya seperti coba-coba. Lalu apa jadinya nanti jika anak-anak ini tumbuh. Akankah dapat kembali turun kejalan meneriakkan kembali visi perubahan menentang karya orang tuanya sendiri karena ditekan kekuasaan.

Yang perlu ditata kembali adalah bongkahan keluarga yang terlanjur pecah untuk disatukan kembali. Kesadaran menjadi orangtua adalah dasar yang perlu kembali disadarkan, sehingga kita akan selalu siap menghadapi setiap perubahan. Bahwa pemuda pemuda inilah yang sekarang sedang dititipkan generasi baru, yang harus bekerja keras untuk merencanakan dengan matang, mempersiapkan generasi mendatang yang akan kembali diluncurkan sebagai busur zaman.

” Biar Tekor Asal Kesohor,,,”

Ungkapan tersebut diatas tidak mewakili sifat dari bahasa suku tertentu. Namun makna dari ungkapan itu sendiri yang menjadi fenomena ditengah masyarakat kita. Budaya konsumtif yang tak pernah tau pangkal dan ujungnya menjadi dasar yang selalu menghampiri setiap kebutuhan manusia. Mulai dari kebutuhan sandang, pangan dan papan semua itu memang kebutuhan yang paling sederhana demi keberlangsungan hidup.

Lain hal ketika semua kebutuhan pokok untuk hidup sudah dapat dipenuhi, bagaimana apabila sebaliknya. Kemajuan zaman dan perubahan gaya hidup sangat mempengaruhi untuk sebagian orang. Apalagi bila tak berlandaskan ilmu yang dapat menjadi penyaring dari derasnya informasi global. Tak dapat disangkal kita pasti akan hanyut terbawa moderenisasi yang bisa membuat lupa makna kesederhanaan.

Keinginan akan menjadi sumber penderitaan. Tak peduli lagi darimana sumber datangnya rezeki. Tak didengar lagi memberi itu dapat menerangkan hati. Iri telah menjadi falsafah hidup agar dapat selalu memiliki. Ingin bahagia malah susah yang didapat karena keinginan yang memaksa untuk berbuat. Semuanya itu hanya untuk terlihat oleh mata manusia saja.

Terlalu banyak contoh yang dapat digambarkan, seperti pinjaman uang dengan bunga jeratan rentenir ketika menikahkan anak dengan memilih suguhan pesta semalam suntuk demi atas nama keluarga,,,juga sama ketika terpaksa membelikan laptop untuk si buyung yang merengek agar dapat seperti teman sekelasnya disekolah dasar, walau sebenarnya sewa kontrakan menunggu jawaban  wajib tiap bulannya ,,,Atau ada pula Si ibu muda yang sangat bangga bila lipatan dompetnya terbuka saat belanja terlihat berjajar deretan kartu kredit dari berjenis bank yang ada hanya untuk setiap mata, padahal ibu muda itu harus kucing-kucingan dengan penagih gagah yang setia menunggu dimuka rumah.

Cara menjalani hidup yang “dipaksakan” akan menjadikan kita keluar dari jati diri manusia itu sendiri. Ia tak akan kenal lagi indahnya berbagi apalagi memberi. Ia juga akan lupa bersyukur yang akan membawa menjadi kufur. Semakin hari akan semakin termotifasi untuk menjadi manusia yang berlebih. Bila dirumahtangga perannya dimainkan suami, sudah pasti isteri dan anak yang akan mengikuti demi pilihan hidup sehari-hari.

Alloh tak pernah melarang kita untuk menjadi kaya, dan semiskin-miskinnya manusia pasti terjamin karena sudah ada ketetapan tentang rizkinya. Tinggal bagaimana kita mengelola nikmat kaya atau miskin itu dengan bijaksana karena semua berasal dariNya dan akan kembali padaNya.
Semua yang kita punya adalah titipan, sama seperti manusia saat lahir kedunia tak memakai sehelai benang pun dan tak ada yang terbawa ketika jasad masuk keliang tanah ketika kita meninggalkan dunia.

Akhirnya kita semua mesti kembali sadar, bahwa waktu untuk hidup didunia ini hanya sekejab saja. Pilihlah jalan yang dapat membawa kita megumpulkan bekal untuk hidup yang lebih kekal. Disana semua tempat dipenuhi keberkahan tak seperti didunia sekarang yang penuh dengan kepalsuan.

Beduk lohor ketan diragiin…
Ngadonin tape kaga boleh mere…
Kalo cuma lantaran nyari kesohor…
Bakalan rugi lu jadi orang kaye…

“Ketika Iblis Bertamu”

Iblis Terpaksa Bertamu Kepada Rasulullah SAW
(Dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas)

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”
Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.”
Beliau melanjutkan: “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.
Rasulullah menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
Ibnu Abbas RA berkata: “Pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.”

Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin…”
Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”

Rasulullah bertanya: “Siapa yang memaksamu?”
Iblis mejawab: Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin. Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?” Continue reading ““Ketika Iblis Bertamu””

Renungan dahulu, kini, dan akan datang…

Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan.

Keyakinan hanya tinggal pemikiran yang tak berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyu’ namun sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.

Ada ahli maksiat tapi rendah hati bagaikan sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat dan ada yang menangis karena kufur nikmat.

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat dan ada yg berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan dan ada yang pezina tampil menjadi figur.

Ada orang punya ilmu tapi tak faham, ada yang faham tapi tak menjalankan.

Ada yang pintar tapi membodohi, ada yg bodoh tapi tak tau diri.

Ada orang beragama tapi tak berakhlak, ada yang berakhlak tapi tak bertuhan.

Lalu diantara semua itu dimana aku berada…?

Dari Ali bin Abi Thalib r.a.

Jangan Jadi Kebiasaan Sia-Sia…

Entah udah jadi kebiasaan apa emang kaga tau ilmunya, setiap pelaksanaan Sholat jum’at apa lagi waktu sang Khotib sudah naik mimbar ada aja yang ” pules apa khusu ” dengerin isi khotbah.

Belum ada yang tau kapan dan siapa yang mulai kelakuan yang bisa bikin pahala Jum’at hilang kaga ada bekasnya. Padahal biasanya si Bilal selalu ngingetin setelah Adzan dan panggilan untuk Khotib, yang artinya kurang lebih begini…

” Kaum muslimin rahimakumulloh…apa bila khotib sudah naik mimbar dan akan memulai kutbahnya tidak dibenarkan berbicara atau melakukan hal yang sia-sia yang dapat menghilangkan pahala sholat Jum’at..Annsituu..Wastami’uu…Waati’uu..”

Coba fikir, si Bilal bukan sekedar menyampaikan aturan tata tertib sholat jum’at tetapi darimana aturan itu dan siapa yang memerintahkan. Siapa lagi kalo bukan manusia istimewa yang membawa kita dari keadaan gelap gulita pada terang benderangnya Al-Islam yaitu Muhammad Rosululloh.

Padahal salah satu hal yang dapat membatalkan wudhu adalah hilangnya akal kesadaran atau tertidur. Jadi bagaimana untuk para jamaah yang seperti sengaja tertidur atau ketiduran ketika akan melaksanaan sholat jum’at dan salah satu syarat wajib sholat jum’at juga adalah mendengarkan kutbah dari sang khotib.

Lalu ketika khotib selesai memberikan kutbah jamaah yang “ketiduran” ini terkejut dibangunkan oleh seruan Bilal untuk memulai Sholat. Namun jamaah yang tertidur ini langsung ikut Sholat dengan berusaha berdiri sambil mengatur keseimbangan karena baru terbangun dari “khusu’nya” mendengarkan kutbah jum’at.

Seharusnya jamaah yang ketiduran tadi mengambil air wudhu lagi, kenapa ga ada yang mau bergerak..malu..sudah mau mulai sholatnya…padahal ketika jamaah tadi kaget terbangun jamaah yang lain sudah sama-sama menyaksikan prilaku yang seharusnya jangan jadi kebiasaan ini.

Rugi dan sia-sia dong jadinya, sudah tertidur yang menyebabkan wudhu batal, tidak mendengarkan pesan dari sang khotib, dan sholatnya sambil doyong menahan kantuk terus sholat jum’at nya sendiri gimana statusnya tuh…? Makanya di atur niatnya lagi karena sholat jum’at itu bukan sekedar ritual mingguan.

Malu..malu..tau…kalo saya yang jadi khotib akan saya perintahkan sebelum memulai sholat untuk berwudhu lagi bagi yang ketiduran dan kalo ada yang tertidur saat saya memberikan kutbah saya akan tunjuk orang itu agar dibangunkan oleh jamaah yang ada disebelahnya, kasiankan orang itu.

Kapan ummat Islam di indonesia ini bisa memimpin dunia kalo didalam “markas” nya sendiri setiap seminggu sekali masih saja “bermimpi” walau hanya untuk mendengarkan firman Ilahi.

Dengan Al Quran, Melihat Dunia Menjadi Lebih Berwarna…

Mahakarya dari sastra bahasa yang paling tinggi dan sempurna adalah wahyu yang tercatat dalam satu kitab bernama Al-Quran. Lugas tanpa basa-basi, mudah dimengerti bagi siapa saja yang mau mengkaji. Untaian katanya sangat lembut dan bukan khayalan tetapi kenyataan dari awalan sampai akhiran. Itulah karya Tuhan untuk semua yang mengaku hambanya  yang pasti selamat bila dijadikan panduan petunjuk jalan dalam menempuh kehidupan, bahkan ada kehidupan setelah kematian dan bukan sekedar perintah atau larangan.

Kini berapa banyak manusia yang benar-benar yakin dan bukan sekedar percaya untuk menjadikan Al-Quran ini sebagai panduan dalam menjalani kehidupan.
Kitab ini bukan hanya khusus untuk kalangan agama tertentu saja melainkan rentetan kisah yang menterjemahkan tentang hakikat hidup dan kehidupan sebelum manusia ada bahkan sebelum alam semesta ini terbentuk, grand design ini telah tertulis dengan sempurna.

Tak terbatas geografis bahkan antara kehidupan nyata dengan kehidupan sesudahnyanya. Lalu seberapa perlukah manusia menjadikan kitab ini sebagai rujukan dan panduan atau malah tak lagi cocok karena sudah usang dan tak sesuai dengan zaman. Ada sosok manusia yang sempurna dan pernah ada dan hidup dimasanya yang memang dipandu langsung oleh Penciptanya. Ia sebagai pelaku sejarah sekaligus saksi nyata untuk semua manusia, percaya atau tidak itu hanya urusan hati, maka dari itu dengarlah suara hati ini dengan sebenar-benarnya agar dapat berfikir bukan sekedar mengandalkan retorika akal.

Dari urusan pribadi, sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya, kehidupan, kematian, surga, neraka, pujian, perintah, larangan, laki-laki, perempuan, langit, bumi, alam semesta, dunia, akhirat, siang, malam, panas, hujan, bahkan sampai penyakit hati yang teramat dalam tertulis dengan jelas sebagai obat penawar. Lalu apakah masih diperlukan untuk bukti lanjutan agar lebih dalam untuk meyakinkan. Jawabannya boleh dan silahkan, dan ada satu cara apabila kita mencoba resikonya kita tak akan dapat kembali hidup seperti semula yaitu MATI.

Itu sebabnya kematian itu dianggap sebagai perjalanan yang mengerikan, menakutkan, menyedihkan, memilukan, karenanya para manusia banyak yang tak siap dengan pemutus segala kenikmatan ini. Padahal semua yang bernyawa pasti mati. Dan kematian itu dapat menghampiri siapa saja dimana saja walau dia berlindung dalam sebuah benteng yang kokoh kematian pasti dapat menembusnya.

Sekarang apa yang perlu kita persiapkan untuk menyambut kematian. Sebagian orang ada yang merencanakan ingin mengakhiri kehidupannya dengan caranya sendiri sejalan dengan keyakinannya. Berarti kematian itu dapat direncanakan tentu dengan konsistensi yang tak mudah sesuai dengan penggunaan usia yang diberi.

Kita semua pasti ingin proses kematian kita lancar tak ada halangan bahkan ada yang meminta seperti bait lagu ” killing me softly “. Dan perlu diingat tak ada batasan usia, strata, ataupun golongan karena tanpa diundang pun kematian pastikan datang menghampiri kita dan nyawa adalah hak tubuh maka jangan memaksa untuk menghilangkannya.

Bukan sekedar “Laki-laki atau Perempuan”

Salah satu mahluk ciptaan Alloh yang paling sempurna dalam bentuk yang pas dan enak dipandang mata adalah manusia, tentu ditambahkan akal yang menjadikan hasil dari “Maha Kreator” ini berbeda dengan karya ciptaan lainnya.

Yang membuat menjadi makin sempurna lagi adalah diciptakannya saling berpasangan, semua yang ada di alam semesta ini pun ikut berpasangan.

Ada pekatnya malam yang berpasangan dengan benderangnya siang semua ini sekali lagi dikemas dengan Maha-maha sempurna. Khusus untuk manusia pasangannya adalah jantannya laki-laki dan lembutnya Perempuan.

Kita semua sepakat pasangan manusia pertama adalah Adam dan Hawa, yang sebelumnya pernah merasakan hidup nikmatnya alam surga yang akhirnya diturunkan kedunia atas bujuk rayu sang durjana.

Kini pasangan ini menurunkan keturunan dibelahan jengkal dunia yang jumlahnya sekarang ini tidak kurang dari 6 miliyard adanya, semua saling berkaitan karena berasal dari sumber yang sama dalam penciptaannya.

Di pasangan manusia ini kekuatannya saling tarik-menarik diantara keduanya dan saling membutuhkan, tetapi siapa yang sebenarnya yang paling dominan diantara pasangan tersebut…?..laki-laki atau Perempuannya…?

Dalam ikatan perkawinan yang dianjurkan bermakna kesehatan jiwa manusia itu sendiri, ketika pasangan ini disatukan secara alamiah perkembang turunan anak manusia tercipta kembali dari mulai sari pati tanah yang berproses sampai ditiupkannya ruh pada calon anak manusia ini untuk keluar dari gelapnya rahim menuju terangnya alam nyata.

Jawaban dari pertanyaan diatas adalah tak ada yang membedakan untuk setiap manusia melakukan kebajikan pada sesamanya di hadapan PenciptaNya.

Yang ada hanya perbedaan fisik secara akal fikir nya saja yang tak sama, namun semua manusia diciptakan untuk saling mengenal manusia satu dengan manusia yang lain tak ada sekat perbedaan pada awalnya.

Pada budaya tertentu di dunia ini banyak ragam dan cara dalam mendalami kedua pasangan ini, asal kita tak boleh lupa bagaimana dan siapa yang telah menciptakan sosok bernama manusia.

Jadi tak ada bedanya laki-laki dan Perempuan semuanya itu hanya sebuah sebutan tetapi dalam setiap kehidupan selalu ada perbedaan, bukan untuk menilai besar dan kecilnya setiap pasangan manusia yang telah disatukan dan untuk selanjutnya akan berubah menjadi sekumpulan manusia dalam atap yang sama yaitu bernama keluarga.

Ada Perang di Lapangan Hijau,,

” Gemuruh piala dunia telah menggema, setiap sudut kota menyaksikan suguhan panggung “perang” dilapangan hijau antar negara didunia. ” Tak ada prajurit yang terluka, apalagi karena disengaja, pasti akan mendapat kartu merah.

‘ Siapa yang tak bangga akan kemenangan barisan perwakilan bangsanya berlaga ditatap jutaan mata. ” Tapi sayang kandidat pelopor menuju afrika belum ada dinegara kita. ” Sebuah kebanggaan tersendiri dikala seorang raja menyaksikan prajuritnya berjuang membela bangsa, walau aturan perang sudah ada tak ada salahnya bila ada yang terluka karena jatuh mengejar bola hanya untuk nama negara.

” Disini tak mudah untuk berlaga walau didalam negeri sendiri. ” Luas lapangan sudah menjadi sepertiga terbagi oleh tuntutan demokrasi. ” Cuma disini menancapkan harga diri bangsa yang tak perlu ada pertumpahan darah apalagi mengorbankan nyawa rakyatnya.

” Menunjukan bahwa kami disini ada dan bukan sekedar menjadi penggembira tanpa makna, sekali lagi bukan sekedar main bola.

Dicampakkan oleh Kekuasaan,,,

Siapa yang tidak kenal orang yang satu ini, semuanya pasti tunduk, apalagi kalau sudah menunjuk dengan jarinya tak ada yang berani menolak, yang menolak pasti dipecat.

Masuk keruangannya tidak boleh sembarang orang, mesti ketuk pintu dulu, kalau perlu tunggu, sampai benar-benar diizinkan masuk.

Sapaan mesti jelas, “..selamat pagi pak, “…selamat siang pak atau “…selamat sore pak, salah sedikit bisa celaka.

Orang disekitarnya adalah abdinya, ucapannya cemeti agar kuda cepat berlari, perangainya selalu pantas, mencari aman adalah jalan keluar agar bisa bikin bapak senang dan menjilat pujian paling mujarab agar bisa naik pangkat kalo tidak bisa suasana bagai mau kiamat.

Berjuta juta gunung harta telah tertanam, sederet investasi dari darat air bahkan udara telah dikuasa.

Monarki perjalanan sejarah telah ditentukan siap untuk melanjutkan atau bahkan menambah yang sudah dianggap menang agar makin menjulang.

Generasi petaka telah menjadi tahta dan ternyata berbeda dengan peluh keringat raja pertama tiada yang menyangka dalam sekejab sirna semua yang pernah dianggap sebagai jerih payahnya.

Dulu dia raja sekarang hutang dimana-mana, tak ada lagi yang bisa mengira kenapa dia bisa sedemikian rupa, hanya satu kata untuk penguasa harta, jangan kau mengira semuanya tak ada yang bisa membuatmu celaka, karena dunia dan seisinya tak tercipta dengan sendirinya.

Banjarmasin 23 januarai 2011 21;40 wita

Begini Rasanya Jadi Perantau,,,

Tak ada kesempatan atau tidak kebagian kesempatan untuk merubah nasib di kampung sendiri menjadi dasar yang umum terjadi untuk orang-orang pergi meninggalkan tanah kelahiran menuju daerah lain bahkan lintas negara demi mencari cara hidup yang mereka anggap layak, seperti jutaan srigala menyerbu kota besar sebab tempat asal serasa neraka.

Bisa jadi memang peluang yang sangat terbatas sehingga untuk menciptakan peluang itu hanya diambil dan dimiliki oleh segelintir orang yang punya akses kekuasaan, mungkin juga untuk sebagian  orang ada yang berani merubah cara hidupnya dari bergantung pada manusia untuk kembali hanya bergantung pada Sang Pemilk jiwa yang memang sudah sepantasnya, sehingga ketakutan menjalani peran hidup dapat diatasi dengan caranya sendiri sesuai dengan yang sudah digariskan.

Ketika tempat tujuan telah dipilih, jarak yang jauh pun telah ditempuh disitulah kisah ini berawal, segala prioritas kebutuhan menjadi sederet agenda yang terus memburu setiap perantau, dari bagaimana mencari kerja untuk mendapat penghasilan untuk tempat bernaung, sementara rasa lapar tak bisa ditahan dalam waktu yang lama, apa saja akan dilakukan apabila sudah berhadapan dengan urusan perut, klasik ,kuno, tapi inilah kenyataannya.

Keras memang jalan hidup yang sudah menjadi pilihan dan tau benar konsekuensi yang diterima, sabar menjadi penghilang dahaga, ikhtiar menjadi pengganjal lapar, do’a menjadi mimpi indah yang akan merubah nasib yang sedang dijalani.

Tak ada batas waktu untuk perantau menjalani hidupnya, kadang sampai nyawa ini terlepas dengan sendirinya.

Banjarmasin 06 januarai 2011 21;40 wita

Lupa Judul Filmnya,,,,

PEPATAH LAMA JEPANG

Karena satu paku tapal tak dapat terpasang…
Karena tapal tak terpasang kuda tak dapat lari…
Karena kuda tak dapat lari pesan tak terkirim…
Karena pesan tak terkirim kalah dalam perang…

Hikmah yang dapat kita ambil dibalik pepatah di atas adalah jangan menganggap remeh hal yang kecil dan harus dilakukan dengan penuh ketelitian, karena efek domino yang ditimbulkan akan berujung pada hal yang lebih besar terlebih lagi untuk kemaslahatan banyak orang…

(From: Movie Dialogue)

“Bukan Sekedar Perkara”

Ingat ‘5’ perkara sebelum ‘5’ perkara

Ada pesan yang syarat makna mungkin kita sudah sering mendengar atau malah kita semua sudah hafal..

Yang pertama adalah :
Ingat sehat sebelum sakit, artinya jagalah dan rawatlah kesehatan anggota tubuh kita baik yang nampak ataupun tidak, dari ujung rambut sampai ujung kaki, saat  dalam perut sang ibu manusia itu sudah mendapatkan nikmat sehat sampai lahir kedunia nikmat kesehatan itu tak pernah putus, zaman yang serba canggih sekarang ini bisa membuktikan untuk melihat dan mendeteksi semua jaringan organ tubuh manusia yang tak pernah berhenti bergerak agar manusia dapat merasakan bagaimana rasanya bahwa sehat itu sangat bermakna, coba fikir apabila satu saja organ tubuh kita sakit dan jaringan yang satu berkaitan dengan jaringan yang lain baru akan terasa ketidak seimbangan yang dirasakan oleh tubuh kita, maka dari itu nikmat kesehatan ini sudah semestinya kita syukuri.

Yang kedua adalah :
Ingat masa muda sebelum tua, artinya masa muda adalah masa produktif, masa muda adalah masa mengukir prestasi, masa muda adalah masa keemasan tapi itu semua bagi orang muda yang mengerti dan memahami secara fitrah apa arti dari masa muda itu sendiri, bukan sebaliknya masa muda sengaja dihancurkan dan menunggu masa tua datang baru mau sadar, yang lebih jahat lagi pada zaman seperti ini para  pemuda sengaja dikebiri oleh banyak kepentingan dan konspirasi global jadi jangan sampai sia-sia apabila masih berada di fase ini, berkaryalah agar warisan kebaikan itu bermanfaat bagi genarasi muda selanjutnya.

Yang ketiga adalah :
Ingat waktu senggang sebelum sempit, artinya adalah 24 jam waktu yang disediakan tidak akan berarti apa-apa bila setiap detiknya digunakan untuk hal yang sia-sia sampai waktu itu habis dengan sendirinya, ketika banyak peluang kebaikan dan kesempatan terbuka lebar manfaatkan semua itu agar berdaya guna buat banyak orang, karena apabila waktu itu sudah tak ada lagi untuk berbuat kebaikan, kita tidak dapat memutar waktu itu kembali.

Yang keempat adalah :
Ingat saat kaya sebelum miskin, artinya  kekayaan adalah sebuah nikmat yang sumbernya jelas dari mana asal kekayaan itu akan dipakai apa setelah itu, kaya itu tidak datang sendiri, dan kaya itu ada yang memberi, dengan kekayaan manusia dapat melakukan apa saja yang diinginkan, malah sampai ada yang mempertahankan kekayaannya sampai 7 turunan, untuk apa.. ?

Pasti karena tidak mau jatuh miskin, oleh karenanya manfaatkan nikmat kaya itu untuk berbagi dengan orang lain yang belum mendapat kesempatan menjadi kaya agar semua kekayaan yang di punya bernilai keberkahan, dan kekayaan itu  ditempatkan di tangan bukan dihati karena semua itu tak akan bernilai apa-apa dihadapan Sang Maha pemberi.

Yang kelima adalah :
Ingat hidup sebelum mati, artinya adalah umur manusia zaman sekarang ini dapat mencapai angka 70 tahun saja sudah menjadi nikmat hidup yang luar biasa, padahal dengan pola hidup manusia yang ada sekarang tidak menjamin kita bisa mencapai angka tersebut, banyak contoh orang yang masih muda tapi lebih dulu mati, atau ada orang yang sudah tua renta tapi belum mati-mati, ini semua menjawab ketakutan kita bahwa semua yang bernyawa pasti mati, jadi tak ada alasan untuk kita takut pada kematian, tapi kita tak pernah tau kapan mati itu datang, oleh karenanya mumpung nyawa ini masi menyatu dalam jiwa kita dan jangan dibiarkan ia terlena oleh gemerlap dunia, karena setiap detik kematian itu bisa datang mengahampiri di kehidupan kita, kapan saja dimana saja.

Uraian diatas adalah sebuah penafsiran sederhana, semuanya saling berkaitan antara sehat, sakit, muda, tua, senggang, sempit, kaya, miskin, hidup dan mati tidak berjalan sendiri-sendiri, semoga bermanfaat.

,,,,Idealis Romantis,,,,

Sepasang suami istri yang baru menikah sedang menjalani proses saling memberi perhatian terhadap pasangannya.

Dari bangun tidur sampai tidur lagi tidak pernah lupa keduanya berlomba-lomba untuk mencari pahala ibadah apa saja, mulai dari membereskan rumah, bersihkan halaman, mencuci baju dan piring semua dikerjakan bersama.

Sampai pada suatu malam kebiasan sang suami ini tak pernah lupa untuk melepas kacamata istrinya yang sudah terlelap tidur agar tidak patah atau pecah.

Keesokan paginya tidak seperti biasa sang istri protes…

Istri : “Mas,,,besok-besok kalo aku sudah tidur,,,kaca mata aku jangan dilepas ya…

Suami : “Memang kenapa,,kan itu buat kebaikan kamu juga dik…

Istri : “Pokoknya ga mau dilepas..karena kalo aku ga pake kaca mata… mimpi aku  jadi ga keliatan jelas…

Hikmah dibalik Merapi

Ketika gunung TUNDUK pada perintah SANG PENCIPTA, sebagian manusia ada yang menilai alam tak lagi bersahabat sehingga BENCANA yang melanda…

Ketika sebagian manusia menerima dengan SABAR atas musibah, sebagian yang lain dengan sadar memilih menyalahkan Tuhan Nya, padahal semua akibat dari ulah tangan manusia juga…

Ketika sebagian manusia dengan SADAR mau bersujud, sebagian yang lain ada yang HARUS di PAKSA bersujud lewat cara yang tak terduga, semua atas kehendakNya…

Sebelum kita “DIPAKSA” untuk tunduk bersujud sampai di ambang kematian menjelang, mari hiasi hari-hari kita dengan sujud yang ikhlas untuk memohon do’a dalam setiap gerakan sholat kita…

Allohua’lam bi showab…

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: