Search

Days in Our Lives,,,

hari hari belajar kami,,,

Month

February 2011

“Gara-Gara Pak Bondan”

Siapa yang tak kenal bapak yang satu ini, seorang yang juga pernah menjadi “Journalist Investigator” yang jarang diketahui oleh khalayak. Setiap sabtu pagi ketika semua orang terbangun dan menggunakan hari liburnya untuk rehat, disuguhkan dengan tema kuliner yang dapat dilakukan sambil berwisata. “Pokok’e Maknyus” itulah slogan acara yang membawa pak bondan menjadi ikon disemua rumah dan tempat makan yang menyajikan berbagai hidangan yang bisa membuat perut kita keroncongan ingin ikut mencoba.

Sambil keliling kampung, kota, bahkan sampai keluar negeri hanya untuk dapat mencicipi kuliner khas daerah yang sedang dikunkungi. Acara ini adalah tontonan penghibur bagi keluarga kami. Saat anak kami si Azzam masi berusia 16 bulanan dia ternyata sudah cukup nalar untuk mencoba menikmati sajian yang ada di televisi yang ada tepat didepan tempat tidurnya, nyaris setiap sabtu pagi setelah bangun tidur  hiburannya ‘ngeliatin’ pak bondan makan.

Pada awalnya kami tidak terlalu memperhatikan tingkah polah si Azzam saat menyaksikan acara wisata kulinernya pak bondan. Mungkin karena terlalu sering melihat bermacam hidangan dan ekspresi pak bondan saat mencicipi makanan itulah si Azzam mulai terlihat ketertarikannya. Suatu pagi seperti biasa pas acara pak bondan sedang dimulai si Azzam tanpak sibuk ikut mengambil peralatan makanannya di dapur, memang sudah kami biasakan untuk ia belajar mengambil dan menaruh alat-alat makannya itu sendiri.

Tiba-tiba si Azzam menyodorkan mangkuk kesayangannya itu kedepan televisi saat pak bondan sedang menyantap hidangan, sambil sesekali mengaduk-ngaduk mangkuk kosongnya dengan sendok. Berulang kali si Azzam bergumam dan masih kurang fasih ia menempelkan mangkuk nya ke televi sambil bilang “Mau…”Mau…’Mau”… Kontan kami berdua terperangah sambil saling bertatapan muka dan tidak bisa menahan ketawa melihat si Azzam “minta” diajak makan bareng artis favoritnya dalam acara wisata kulinernya pak bondan.

Sejak kejadian itu kami selalu menyiapkan hidangan favorit ala keluarga kami yaitu “nasi goreng + martabak mie” untuk menjadi menu kami sambil menikmati sajian acara di sabtu pagi.  “Sesekali si Azzam terlihat menirukan gaya pak bondan dengan bahasa sebisanya sambil mulutnya terus lahap mengunyah masakan yang dibuat oleh ayah bundanya…”

Kini si Azzam tak pernah lagi memilih-milih makanan, apapun yang dihidangkan ayah bundanya selalu habis dimakan tanpa sisa ( jadi tidak mubazir ). Apapun menunya selalu berakhir “Pokok’e Maknyus”. Si Azzam jadi tertarik oleh berbagai macam masakan, kadang ia suka ikut terlibat pergulatan ayah bundanya didapur yang sedang bingung menentukan akan memilih menu apa untuk dihidangkan. Kami pun merasa sangat terbantu dengan acaranya pak bondan, si Azzam jadi doyan makan dan tidak bosan. Tinggal kami yang memilihkan makanan apa saja yang boleh dan sehat juga baik dan halal tentunya untuk ia santap.

Ternyata cukup sederhana menjadikan suasana dalam rumah kita menjadi lebih bermakna. Dengan kemasan seadanya suasana biasa jadi punya nilai apabila kita dapat menjadikan sesuatu apapun itu dengan penuh rasa suka cita. Kini kami masi tetap menjalankan “ritual” makan bersama dengan menu favorit tentunya, bukan hanya di sabtu pagi saja tetapi setiap hari, sungguh menyenangkan,,. Terimakasih Tuhan.

“Ayamnya Belon Laper”

Bang jali kebingungan bukan kepalang, lantaran ongkos  buat naek ojeg yang cuma selembar mendadak  ilang dari atas TV. Sementara si Udin, anak pertama bang jali yang lagi belajar, punya hobi masukin duit kecelengan ayam punyanye. Saking keasikannya celengan ayamya bisa dimasukin apaan aja, si Udin belon ngerti kalo  duit kertas yang ada di atas TV punya bapaknya juga ikut dimasukin.

“ Uuudinn…ngeliat duit bapak ga diatas TV…? Kate bang jali ke si Udin yang lagi asik maenan celengan ayam. “ Udah… udah aku kasi makan ke ayam aku…” jawab si Udin. “ Kan udah bapak bilang…”kasi makan ayamnye pake duit recean aje…” Bang jali nimpalin si Udin. “Iya..tadi ayamnya aku tanya dulu…” mau makan ga…? ” katanya…ayamnya belon laper…” Jawaban si Udin bikin bang jali kelimpungan sambil terus nyari akal biar bisa tetap berangkat sampe ketempat kerjaan.

Sekelumit cerita dan dialog diatas mungkin pernah kita temui, dan kebetulan kami pernah mengalami kisah yang mirip. Sebagian orangtua mungkin pernah mengajarkan untuk hidup hemat, karena hemat bukan sekedar pepatah yang bisa menjadikan kaya. Seorang anak itu sangat mudah sekali menirukan apa saja yang dilihat dan didengar dari orang-orang terdekatnya. Bila baik yang ia dengar ia akan menirukan kebaikan itu, atau baik yang ia lihat akan lahir kebaikan pula dari apa yang ia lihat atau kebaliknya justru yang dapat menimbulkan “petaka’ dalam rumah.

Karena kita sudah terlalu sering mendengar dan melihat dari mana saja baik tanyangan televisi ataupun di media. Para orangtua dengan sadar telah mewariskan kekerasan dan ketidakbaikan yang langsung direkam oleh seorang anak yang berada dekat dengan lingkungan keluarganya. Apa jadinya bila seorang anak sudah dipaparkan suasana yang tidak pas untuk ia rekam di zaman kekanakannya….?

” Perlindungan yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap anaknya adalah melebihi kokohnya sebuah benteng pertahanan, ia tak akan tembus oleh kekuatan apapun “

Ada Perang di Lapangan Hijau,,

” Gemuruh piala dunia telah menggema, setiap sudut kota menyaksikan suguhan panggung “perang” dilapangan hijau antar negara didunia. ” Tak ada prajurit yang terluka, apalagi karena disengaja, pasti akan mendapat kartu merah.

‘ Siapa yang tak bangga akan kemenangan barisan perwakilan bangsanya berlaga ditatap jutaan mata. ” Tapi sayang kandidat pelopor menuju afrika belum ada dinegara kita. ” Sebuah kebanggaan tersendiri dikala seorang raja menyaksikan prajuritnya berjuang membela bangsa, walau aturan perang sudah ada tak ada salahnya bila ada yang terluka karena jatuh mengejar bola hanya untuk nama negara.

” Disini tak mudah untuk berlaga walau didalam negeri sendiri. ” Luas lapangan sudah menjadi sepertiga terbagi oleh tuntutan demokrasi. ” Cuma disini menancapkan harga diri bangsa yang tak perlu ada pertumpahan darah apalagi mengorbankan nyawa rakyatnya.

” Menunjukan bahwa kami disini ada dan bukan sekedar menjadi penggembira tanpa makna, sekali lagi bukan sekedar main bola.

Dicampakkan oleh Kekuasaan,,,

Siapa yang tidak kenal orang yang satu ini, semuanya pasti tunduk, apalagi kalau sudah menunjuk dengan jarinya tak ada yang berani menolak, yang menolak pasti dipecat.

Masuk keruangannya tidak boleh sembarang orang, mesti ketuk pintu dulu, kalau perlu tunggu, sampai benar-benar diizinkan masuk.

Sapaan mesti jelas, “..selamat pagi pak, “…selamat siang pak atau “…selamat sore pak, salah sedikit bisa celaka.

Orang disekitarnya adalah abdinya, ucapannya cemeti agar kuda cepat berlari, perangainya selalu pantas, mencari aman adalah jalan keluar agar bisa bikin bapak senang dan menjilat pujian paling mujarab agar bisa naik pangkat kalo tidak bisa suasana bagai mau kiamat.

Berjuta juta gunung harta telah tertanam, sederet investasi dari darat air bahkan udara telah dikuasa.

Monarki perjalanan sejarah telah ditentukan siap untuk melanjutkan atau bahkan menambah yang sudah dianggap menang agar makin menjulang.

Generasi petaka telah menjadi tahta dan ternyata berbeda dengan peluh keringat raja pertama tiada yang menyangka dalam sekejab sirna semua yang pernah dianggap sebagai jerih payahnya.

Dulu dia raja sekarang hutang dimana-mana, tak ada lagi yang bisa mengira kenapa dia bisa sedemikian rupa, hanya satu kata untuk penguasa harta, jangan kau mengira semuanya tak ada yang bisa membuatmu celaka, karena dunia dan seisinya tak tercipta dengan sendirinya.

Banjarmasin 23 januarai 2011 21;40 wita

Begini Rasanya Jadi Perantau,,,

Tak ada kesempatan atau tidak kebagian kesempatan untuk merubah nasib di kampung sendiri menjadi dasar yang umum terjadi untuk orang-orang pergi meninggalkan tanah kelahiran menuju daerah lain bahkan lintas negara demi mencari cara hidup yang mereka anggap layak, seperti jutaan srigala menyerbu kota besar sebab tempat asal serasa neraka.

Bisa jadi memang peluang yang sangat terbatas sehingga untuk menciptakan peluang itu hanya diambil dan dimiliki oleh segelintir orang yang punya akses kekuasaan, mungkin juga untuk sebagian  orang ada yang berani merubah cara hidupnya dari bergantung pada manusia untuk kembali hanya bergantung pada Sang Pemilk jiwa yang memang sudah sepantasnya, sehingga ketakutan menjalani peran hidup dapat diatasi dengan caranya sendiri sesuai dengan yang sudah digariskan.

Ketika tempat tujuan telah dipilih, jarak yang jauh pun telah ditempuh disitulah kisah ini berawal, segala prioritas kebutuhan menjadi sederet agenda yang terus memburu setiap perantau, dari bagaimana mencari kerja untuk mendapat penghasilan untuk tempat bernaung, sementara rasa lapar tak bisa ditahan dalam waktu yang lama, apa saja akan dilakukan apabila sudah berhadapan dengan urusan perut, klasik ,kuno, tapi inilah kenyataannya.

Keras memang jalan hidup yang sudah menjadi pilihan dan tau benar konsekuensi yang diterima, sabar menjadi penghilang dahaga, ikhtiar menjadi pengganjal lapar, do’a menjadi mimpi indah yang akan merubah nasib yang sedang dijalani.

Tak ada batas waktu untuk perantau menjalani hidupnya, kadang sampai nyawa ini terlepas dengan sendirinya.

Banjarmasin 06 januarai 2011 21;40 wita

Lupa Judul Filmnya,,,,

PEPATAH LAMA JEPANG

Karena satu paku tapal tak dapat terpasang…
Karena tapal tak terpasang kuda tak dapat lari…
Karena kuda tak dapat lari pesan tak terkirim…
Karena pesan tak terkirim kalah dalam perang…

Hikmah yang dapat kita ambil dibalik pepatah di atas adalah jangan menganggap remeh hal yang kecil dan harus dilakukan dengan penuh ketelitian, karena efek domino yang ditimbulkan akan berujung pada hal yang lebih besar terlebih lagi untuk kemaslahatan banyak orang…

(From: Movie Dialogue)

“Bukan Sekedar Perkara”

Ingat ‘5’ perkara sebelum ‘5’ perkara

Ada pesan yang syarat makna mungkin kita sudah sering mendengar atau malah kita semua sudah hafal..

Yang pertama adalah :
Ingat sehat sebelum sakit, artinya jagalah dan rawatlah kesehatan anggota tubuh kita baik yang nampak ataupun tidak, dari ujung rambut sampai ujung kaki, saat  dalam perut sang ibu manusia itu sudah mendapatkan nikmat sehat sampai lahir kedunia nikmat kesehatan itu tak pernah putus, zaman yang serba canggih sekarang ini bisa membuktikan untuk melihat dan mendeteksi semua jaringan organ tubuh manusia yang tak pernah berhenti bergerak agar manusia dapat merasakan bagaimana rasanya bahwa sehat itu sangat bermakna, coba fikir apabila satu saja organ tubuh kita sakit dan jaringan yang satu berkaitan dengan jaringan yang lain baru akan terasa ketidak seimbangan yang dirasakan oleh tubuh kita, maka dari itu nikmat kesehatan ini sudah semestinya kita syukuri.

Yang kedua adalah :
Ingat masa muda sebelum tua, artinya masa muda adalah masa produktif, masa muda adalah masa mengukir prestasi, masa muda adalah masa keemasan tapi itu semua bagi orang muda yang mengerti dan memahami secara fitrah apa arti dari masa muda itu sendiri, bukan sebaliknya masa muda sengaja dihancurkan dan menunggu masa tua datang baru mau sadar, yang lebih jahat lagi pada zaman seperti ini para  pemuda sengaja dikebiri oleh banyak kepentingan dan konspirasi global jadi jangan sampai sia-sia apabila masih berada di fase ini, berkaryalah agar warisan kebaikan itu bermanfaat bagi genarasi muda selanjutnya.

Yang ketiga adalah :
Ingat waktu senggang sebelum sempit, artinya adalah 24 jam waktu yang disediakan tidak akan berarti apa-apa bila setiap detiknya digunakan untuk hal yang sia-sia sampai waktu itu habis dengan sendirinya, ketika banyak peluang kebaikan dan kesempatan terbuka lebar manfaatkan semua itu agar berdaya guna buat banyak orang, karena apabila waktu itu sudah tak ada lagi untuk berbuat kebaikan, kita tidak dapat memutar waktu itu kembali.

Yang keempat adalah :
Ingat saat kaya sebelum miskin, artinya  kekayaan adalah sebuah nikmat yang sumbernya jelas dari mana asal kekayaan itu akan dipakai apa setelah itu, kaya itu tidak datang sendiri, dan kaya itu ada yang memberi, dengan kekayaan manusia dapat melakukan apa saja yang diinginkan, malah sampai ada yang mempertahankan kekayaannya sampai 7 turunan, untuk apa.. ?

Pasti karena tidak mau jatuh miskin, oleh karenanya manfaatkan nikmat kaya itu untuk berbagi dengan orang lain yang belum mendapat kesempatan menjadi kaya agar semua kekayaan yang di punya bernilai keberkahan, dan kekayaan itu  ditempatkan di tangan bukan dihati karena semua itu tak akan bernilai apa-apa dihadapan Sang Maha pemberi.

Yang kelima adalah :
Ingat hidup sebelum mati, artinya adalah umur manusia zaman sekarang ini dapat mencapai angka 70 tahun saja sudah menjadi nikmat hidup yang luar biasa, padahal dengan pola hidup manusia yang ada sekarang tidak menjamin kita bisa mencapai angka tersebut, banyak contoh orang yang masih muda tapi lebih dulu mati, atau ada orang yang sudah tua renta tapi belum mati-mati, ini semua menjawab ketakutan kita bahwa semua yang bernyawa pasti mati, jadi tak ada alasan untuk kita takut pada kematian, tapi kita tak pernah tau kapan mati itu datang, oleh karenanya mumpung nyawa ini masi menyatu dalam jiwa kita dan jangan dibiarkan ia terlena oleh gemerlap dunia, karena setiap detik kematian itu bisa datang mengahampiri di kehidupan kita, kapan saja dimana saja.

Uraian diatas adalah sebuah penafsiran sederhana, semuanya saling berkaitan antara sehat, sakit, muda, tua, senggang, sempit, kaya, miskin, hidup dan mati tidak berjalan sendiri-sendiri, semoga bermanfaat.

,,,,Idealis Romantis,,,,

Sepasang suami istri yang baru menikah sedang menjalani proses saling memberi perhatian terhadap pasangannya.

Dari bangun tidur sampai tidur lagi tidak pernah lupa keduanya berlomba-lomba untuk mencari pahala ibadah apa saja, mulai dari membereskan rumah, bersihkan halaman, mencuci baju dan piring semua dikerjakan bersama.

Sampai pada suatu malam kebiasan sang suami ini tak pernah lupa untuk melepas kacamata istrinya yang sudah terlelap tidur agar tidak patah atau pecah.

Keesokan paginya tidak seperti biasa sang istri protes…

Istri : “Mas,,,besok-besok kalo aku sudah tidur,,,kaca mata aku jangan dilepas ya…

Suami : “Memang kenapa,,kan itu buat kebaikan kamu juga dik…

Istri : “Pokoknya ga mau dilepas..karena kalo aku ga pake kaca mata… mimpi aku  jadi ga keliatan jelas…

Hikmah dibalik Merapi

Ketika gunung TUNDUK pada perintah SANG PENCIPTA, sebagian manusia ada yang menilai alam tak lagi bersahabat sehingga BENCANA yang melanda…

Ketika sebagian manusia menerima dengan SABAR atas musibah, sebagian yang lain dengan sadar memilih menyalahkan Tuhan Nya, padahal semua akibat dari ulah tangan manusia juga…

Ketika sebagian manusia dengan SADAR mau bersujud, sebagian yang lain ada yang HARUS di PAKSA bersujud lewat cara yang tak terduga, semua atas kehendakNya…

Sebelum kita “DIPAKSA” untuk tunduk bersujud sampai di ambang kematian menjelang, mari hiasi hari-hari kita dengan sujud yang ikhlas untuk memohon do’a dalam setiap gerakan sholat kita…

Allohua’lam bi showab…

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: