(Ditengah menulis dan mereview proses home education kami,, lina mau curhat sedikiiiit,, dan tetap adalah bagian dari proses “tumbuh”)

Akhir akhir ini lina seriiing berfikir, terutama waktu Abang membahas tentang hal untuk memiliki rumah,,

Sampai saat ini kami memang belum memiliki rumah sendiri, dan masih menyewa rumah untuk tempat menitipkan barang sepanjang lina dan azzam menemani perjalanan kerja Abang,,

Ada banyak pertimbangan dalam memiliki rumah,, Sebenernya mungkin relatif memungkinkan untuk kami mencicil rumah, atau membeli langsung walau dengan tipe RS-6 (rumah sangat sederhana sehingga selonjor saja susah)… tapi lina pribadi menolak, kenapa,,? Kalau mencicil rumah menurut lina berarti Abang seolah olah dipaksa harus bekerja untuk mencukupi biaya mencicil rumah tersebut, padahal menurut lina Abang bukan suami seperti “sapi perah”,,

Dan apabila rumah sudah ada, maka rasanya sayang untuk meninggalkan rumah, apalagi dalam waktu yang lama (seperti perjalanan kerja Abang kali ini yang sampai 2 tahun lebih) dalam keadaan kosong,, Kemungkinan akan ada pertimbangan untuk (lina dan azzam) menempati rumah tersebut, dan Abang akan pulang minimal sepekan sekali,,,

Membayangkan Abang pulang kerumah sepekan sekali,, hhmmmhh sungguh tidak membahagiakan,,

Lina banyak berfikir,, apa lina ini termasuk isteri yang aneh,,,? Banyak keluarga yang “rela” ditinggal Pemimpinnya untuk berjihad mencari maisyah untuk menghidupi keluarganya dan mereka kelihatan baik baik saja,, sang istri tidak banyak mengeluh dan tidak “menuntut” untuk “Ikut” dengan suaminya karena keluarga keluarga tesebut berharap “Suatu Hari” ketika mereka sudah bisa “Membeli Rumah” atau “Memiliki Mobil” atau “Menumpuk Tabungan Untuk Biaya Sekolah” mereka akan “Bisa berkumpul” dengan Bahagia,,,

Whaaattt,,,???!!!

Setelah lina berfikirrr keraass,, ternyata alasan banyak keluarga itu tidak bisa diterima oleh kepala dan hati lina,,, Astaghfirullah,,, innalillah,,,

Kenapaa,,??

Menurut Lina, bahagia itu BUKAN NANTI,, tapi sekarang, dalam proses tumbuh bersama, setiap hari, saling belajar, saling mengenali, saling melengkapi,,, Setiap hariiiiii, dekat untuk memeluk, mencium, merasa detak jantung,,,, Karenaaaa Lina ngga tau akan ada apa dan seperti apa NANTI,,,

Lina ngga bisa membayangkan berapa banyak ketidak bahagiaan yang lina rasakan selama berjauhan dengan Abang,, Pun lina tidak bisa membayangkan “BERAPA HARGA” ketidak bahagiaan itu,,,???!!

Lina merasa bukan “Orang Bayaran” yang sanggup menunggu dirumah, walaupun memiliki segepok harta untuk berbelanja,, karena letak Bahagia Lina bukan pada Memiliki Rumah, punya tabungan banyaakkk, memiliki ini ituuu,,, Letak bahagia Lina ada di dekat Abang,, that’s it,,,

Nanti itu menurut Lina adalah Rahasia Alloh,,

Yang mungkin untuk sebagian keluarga memilih NANTI (ukuran dunia) untuk bisa menikmati bahagia setelah memiliki ini dan itu,,,

Tapiii pilihan lina untuk bahagia adalah SEKARANG,, dengan tetap ada disamping Abang walaupun tidak punya Rumah,, tidak punya mobil dan tidak punya bergepok gepok harta,,,

Karena tumbuh bersama Abang tidak bisa ditunda menjadi NANTI, memeluk Abang tidak bisa ditunda menjadi NANTI, belajar bersama Abang setiaappp hari tidak bisa menunggu NANTI,,

Allohu’a lam,, اَللّهُ lah pemilik rahasia hati,,,,

Sampai hari ini lina masih memutuskan untuk memilih bahagia dengan “cara” lina ini,,, dan Lina Bahagia berada disamping Abang,,

ليس الغنى عن كثرة العرض. ولكن الغنى غنى النفس
“Kaya bukanlah terletak pada banyaknya harta, namun kaya adalah hati yg selalu merasa cukup,,,” [Shahih Al-Bukhari no. 6446; Shahih Muslim no.1051]

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
,
أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/41]