Search

Days in Our Lives,,,

hari hari belajar kami,,,

Category

Ayah

Kemana Harus Mencari Qudwah,,,?

Belajar dari keluarga Uswah Hasanah,, Rasulullah Muhammad saw.(QS Al Ahzab:21) dan Ibrahim as.(QS Al Mumtahanah:4)
Dua uswah hasanah yang shalawat pada mereka kita lantunkan setiap hari dalam sholat sholat kita,,

Dibalik shalawat kita terdapat pelajaran parenting yang luar biasa,, yang mungkin lupa kita pelajari,, karena kita sibuk mencari model model parenting dari para tersohor,,

Kekuatan pendidikan yang dilakukan Ibrahim as. terletak pada do’a do’a Ayah yang tak pernah putus dan ketawakalan Bunda yang luar biasa,, Sederhana,,

Tetapi tidak sesederhana ketika membaca, menghayati, menyelami dan mempelajari doa doa yang terlantun dari lisan Ayah panutan, Ibrahim as. yang diabadikan dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 35 sampai 41,,

Dan tidak sesederhana gambaran ketawakalan bunda mulia Ibunda Ismail, yang tergambar dalam Hadits sahih Bukhari no 3113,, ketika beliau berkata “,, Alloh tidak akan menyia nyiakan kami,,”

Sungguh ini waktunya kembali kepada kekuatan doa doa, qiyamullail dan lembutnya Istighfar,,

Betapa Alloh telah memaparkan dalam QS Al Kahfi : 82 tentang pentingnya kesholehan seorang ayah,, Continue reading “Kemana Harus Mencari Qudwah,,,?”

Mau Dibawa Kemana Keluarga Kita,,,

Tayangan acara “Suamiku Hebat” disalah satu stasiun TV swasta mungkin sebagian kita pernah melihatnya. Dari judul program acaranya diperlihatkan kepada pemirsa betapa repotnya para suami diberikan tugas dalam beberapa jam untuk menyusun jadual bersama anak-anak dirumah. Sedangkan si isteri diberikan waktu yang bersamaan untuk membuat jadual kebutuhan diri diluar kegiatan rutin mengurus rumah dan anak-anak.

Jadilah acara ini sebuah tayangan yang sedikit unik karena kebiasaan orang banyak mengurus anak dan rumah hanya dilakukan para isteri. Namun ketika isteri meninggalkan rutinitas rumahan  lalu dihibur dengan pergi untuk rehat sejenak seperti ke salon, shoping, makan diretoran, perawatan wajah dan lainnya nampak sekali kesegaran diwajah isteri seperti terbebas dari kewajiban.

Disisi lain dalam acara tersebut si suami seakan “terhukum”dengan menggantikan tugas isteri mengurus rumah dan anak-anaknya, mulai dari menyiapkan sarapan, main bersama, belajar bersama bahkan mengurusi hal-hal yang belum lazim dilakukan oleh sebagian suami. Continue reading “Mau Dibawa Kemana Keluarga Kita,,,”

“Rumah di Surga Tempat Tinggal Sesungguhnya,,,”

Memiliki rumah memang menjadi harapan banyak orang. Banyak cara yang ditempuh untuk mendapatkan rumah yang sekaligus menjadi status sosial bagi pemiliknya. Masing-masing kita berhak untuk membangunnya karena bumi ini memang dihamparkan oleh Sang Pencipta untuk kita manusia yang hidup diatas tanahNya. Namun dalam kenyataannya ada banyak manusia yang serakah dalam membangun istananya didunia. Para tuan tanah menjadikan kita makin terhimpit demi desakan pembangunan yang tak pernah terencana. Bahkan untuk memberikan pori pada air saja tak diberikannya sehingga ketika Sang air marah manusia juga yang merasakan akibatnya. Terkadang sebagian dari kita tak peduli lagi melihat masih ada orang yang hidupnya bernaung dalam rumah berjalan, berpondasikan roda beratapkan plastik sampah dan beralaskan kardus bekas televisi mewah.

Bersyukurlah kita yang masih diberikan kenyamanan untuk tempat merebahkan kepala pada kasur busa. Bersyukurlah kita yang tak perlu setiap bulannya mengunci pintu rapat-rapat agar tak bertemu si pemilik rumah yang menagih uang sewa. Bersyukurlah kita yang dalam mimpi malamnya tak terbangunkan oleh derasnya air ketika banjir datang dan bersyukurlah kita yang memiliki rumah sendiri seberapapun ukurannya seperti apapun bentuknya karena semuanya itu hanya rumah sementara kita.

Rumah adalah tempat yang paling pertama dan utama untuk membentuk karakter isi penghuninya. Rumah juga adalah tempat berkumpul dan berbagi kebaikan sesama anggotanya. Didalam rumah ini kita mendapatkan pelajaran pertama tentang miniatur  bermasyarakat. Saling menghargai dan menghormati berawal dari rumah. Dari dalam rumahlah segala tahapan kehidupan bermula bukan sekedar menjadi tempat bernaung dari panas dan hujan saja.

Namun tidak sedikit dari kita yang belum menjadikan rumah sebagai basis pendidikan untuk anak-anaknya. Padahal orangtua adalah agen perubah yang harus  mempersiapkan anak-anaknya untuk dapat bertahan dari segala keliaran dunia. Orangtua adalah pendidik sebenarnya untuk anak-anaknya. Jangan malah kita sendiri yang menjadikan anak sebagai hiburan semata saja karena kelucuannya. Bermacam bidang ilmu dapat dipelajarinya bersama-sama. Karena hak belajar bukan hanya kewajiaban anak saja tetapi juga sama wajibnya bagi orang tua.

Mulailah persiapan dari sejak sebelum menjadi orang tua, artinya persiapan perencanaan mendidik anak mesti direncanakan dari mulai memilih pasangan hidup. Komitmen yang dibangun sebelum memiliki anak adalah bagaimana kita akan mendidik anak kita. Akan memakai metode pendidikan seperti apa. Atau pilihan gampang dan umum serahkan saja pendidikannya pada sekolah walaupun orangtua sendiri yang akan memetik buah dari benih yang ditanamnya.

Suasana didalam rumah dalam bentuk apapun untuk ukuran berapapun kita sendiri yang harus menciptakan. Akan seperti suasana dirumah sakit kah yang penghuninya selalu meminta tolong,,, bisa kita ciptakan. Akan seperti suasana kuburan kah yang kesunyiannya bikin kita merinding,,, bisa kita ciptakan. Akan seperti suasana ramainya pasar kah dengan hiruk pikuk orang didalamnya serta seisi rumah penuh dengan barang hiasan,,, bisa kita ciptakan. Akan seperti suasana arena pertandingan kah yang memperlihatkan saling tendang dan pukul ,,, bisa kita ciptakan. Atau ingin menjadikan suasana rumah kita seperti layaknya di surga yang penuh kedamaian dan kebahagiaan diantara semua penghuninya,,, sangat-sangat bisa. Semua adalah pilihan kita sebagai bagian dari penghuni didalamnya.

Maka jadikanlah rumah kita seperti tempat ibadah yang akan selalu mendapatkan naungan keberkahan dari do’a – do’a dan sujud penghuninya. Jadikanlah penghuni rumah itu seperti sekumpulan lebah yang selalu bekerja sama, mencari nafkah yang halal sebagai sumber makanan untuk menghasilkan manisnya madu kebaikan dalam keluarga. Jadikanlah rumah kita sebagai tempat belajar dan mengajar antara anak dan orangtua, suami dengan istrinya. Jadikanlah rumah kita sebagai pembentukan Akhlak untuk semua orang didalamnya yang dapat dirasakan juga oleh tetangganya. Jadikanlah rumah kita sebagai bagian tempat bertafakur dari besar dan luasnya dunia untuk mengkaji kebesaran Sang Pencipta. Juga jadikanlah rumah kita sebagai tempat persinggahan sementara untuk melanjutkan perjalanan panjang  menuju tempat peristirahatan sesungguhnya di Surga sana.

“Kuharap Rasa Malu Itu Masih Ada,,,”

Pasangan paruh baya itu terlihat lemas setelah mendengarkan penjelasan dari anak sulungnya yang baru menginjak remaja akan segera menikah. Tak nampak kecemasan dari raut wajah si anak tentang keinginannya yang dianggap aneh oleh kedua orangtuanya. Apa sebab sehingga anaknya ingin segera menikah yang menurutnya belum pantas untuk menjalani fase kehidupan yang pasti membutuhkan bekal kesiapan mental anaknya. Ternyata sianak dengan sadar telah mengandung anak manusia dari hubungan yang dinikmatinya bersama pasangannya yang masih sama-sama remaja. Seakan tanpa merasa salah, sedikit merasa berdosa pun tak ada. Semuanya telah terjadi dan hidup tak boleh berhenti, kedua orangtuanya mau tak mau, malu tak malu ikut menanggung akibatnya. Tetapi pada siapa sebenarnya rasa malu ini pantas ditujukan..?

Jangan dianggap biasa potret kehidupan remaja saat ini, walaupun seakan sudah menjadi hal yang tak lagi memalukan. Kebanyakan kita lebih merasa tertunduk dihadapan manusia bila aib kita diketahui. Cerita yang bisa menjadi komoditi paling hot untuk dikonsumsi sampai berderet distasiun TV. Kata risih sudah berganti menjadi gengsi ala selebriti. Lalu akan seperti apa wajah generasi negeri ini dimasa depannya nanti. Walau sang pemimpinnya malu untuk menjawab persoalan ini. Tetapi pada siapa sebenarnya rasa malu ini pantas ditujukan..?

Malu hanya dikenal sebagai pepatah yang apabila tak dipakai akan menemui kesesatan. Rasa malu dalam keluarga hanya terasa apabila salah satu anggotanya ketahuan berbuat nista. Sang ayah ketahuan korupsi, Si ibu tertangkap basah tidur dengan lelaki yang bukan suaminya, Si anak gadisnya ketahuan hamil diluar nikah, dan Putranya tertangkap polisi karena narkoba. Semua malu itu dirasakan masih untuk dihadapan manusia. Tetapi pada siapa sebenarnya rasa malu ini pantas ditujukan..?

Pesanku ini hanya untukmu wahai anakku agar tertunaikan kewajibanku sebagai orangtuamu.

Tunjukanlah rasa malu itu hanya untuk Tuhan yang menciptakanmu. Tutuplah auratmu seperti Adam dan Hawa ketika diturunkan dari surga. Padahal hanya mereka berdua penghuni didunia ini dari jenis manusia.

Tahanlah Syahwatmu seperti Yusuf yang merasa malu dilihat oleh Tuhannya ketika dirayu oleh Zulaikha wanita kaya istri seorang raja. Walau dalam hati Yusuf ada rasa cinta sama seperti hati manusia namun malu karena Tuhannya itu yang dipilihnya.

Jagalah rasa malumu agar kau tidak dengan sengaja meninggalkan kewajibanmu untuk sujud kepadaNya. Padahal kau selalu meminta penjagaan dariNya maka jangan pernah kau melupakanNya. Sesibuk apapun dirimu kelak rasa malumu tak bermakna dimata manusia.

Tundukkanlah pandanganmu ketika berjalan dan menatap yang belum menjadi halal bagimu. Curahkanlah rasa cintamu hanya pada pasangan halal hidupmu untuk kebaikan keturunanmu dan menangislah hanya dalam taubat kepadaNya untuk semua kealpaanmu.

Asah rasa malu mu meskipun kau tak memiliki segenggam beras untuk makan agar kau tak mengemis kepada manusia. Bersabarlah dan jadikanlah sholat sebagai penolongmu. Jagalah Tuhanmu dikala kau lapang niscaya Ia akan menjagamu ketika kau susah.

Cukupkan rasa malumu dengan rizki yang sudah ditetapkan Tuhan untukmu agar kau tak disesatkan oleh rasa lapar yang berasal dari nafsu syetan. Walau saat itu kau berada sendirian dalam lingkarannya sekalipun. Berusahalah untuk selalu Istiqomah walaupun kau harus menggigitnya.

Kuharap rasa malu itu masih ada karena Ia bagian dari Imanmu.

Inilah Pilihan Kami,,,

Sampai tulisan ini di-upload, kami memang mungkin masih terhitung baru dalam menjalani metode homeschooling (kira kira 4 tahun -seumur Azzam-),,

Tapi kami belajar tentang “serba serbi” homeschooling sudah sejak sebelum Azzam lahir,, (bahkan untuk bunda, sudah dari semenjak sebelum menikah,, he,, he,,) dan sampai sekarang pun kami masih tetap dalam proses belajar,,

Bunda pertama kali terfikir melirik metode Homeschooling diawali dari keprihatinan melihat beberapa teman yang kebetulan waktu itu setelah menikah (belum sempat berinteraksi lebih dekat dengan suaminya) keburu punya anak ke 1 disusul anak ke 2 dan ke 3 dalam waktu yang sangat dekat,, Yang ternyata kondisi itu terasa agak menjadi beban,, Sampailah bunda merasa perlu belajar membantu dengan cara “berteman” (baca; membantu mendidik, karena bertemu berkala) dengan anak (teman bunda) yang besar agar si ibu bisa mengurus dan merawat anak yang lain dengan baik (waktu itu saling bantu membantunya dikerjakan beberapa orang yang masih lajang,, -termasuk bunda-,, he he,,)

Dari titik itulah bunda merasa bahwa memang ibu adalah madrasah bagi anak anaknya,, Kesiapan seorang ibu untuk mengemban amanah menjadi “Ibu” akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak anaknya,, Dan hal ini tidak akan bisa terganti walaupun keluarga itu menitipkan anak anaknya ke Sekolah Terbaik jenis apapun,,, Bahwa nilai keluarga, energi keluarga itu akan diserap langsung oleh anak, dan tanggung jawab mendidik anak tidak bisa diserahkan pada orang lain atau pada sekolah/lembaga sehebat apun,,

Bunda belajar tentang Homeschooling dimulai dari membaca buku,, (lupa judul bukunya,, he he,, sekarang udah inget, judulnya “Ibuku Guruku” he he 21/10) yang dilanjut dengan browsing sana sini terkait Homeschooling (disela-sela waktu ngantor dulu,,)

Alhamdulillah Alloh pertemukan bunda dengan suami yang bisa dengan cukup cepat menyamakan frekuensi berfikir yang dengan telaten mendengar luapan pemikiran, ide dan cita cita seputar per homeschoolingan (padahal waktu itu belum punya anak,, he,,he,,),, Hmm ini namanya karunia belahan jiwa (bahasa kerennya; soulmate) dari Alloh,,

Dan sampailah kami dengan sepakat bahwa kelak jika Alloh menitipkan kami amanah mengasuh anak kami akan mengambil tanggung jawab mendidiknya ditangan kami sendiri,, (tidak dengan menitipkannya pada sekolah, kecuali jika buah hati kami memutuskan untuk memilih lain yang menurutnya baik untuk kehidupannya,,)

Kami kemudian lebih suka menyebutnya sebagai Home Education atau Home Based Learning,, Pendidikan atau proses belajar berbasis rumah,, karena bagi kami Schooling atau Education terdengar sangat berasosiasi dengan ijazah, atau alat untuk mengukur seseorang, padahal seseorang itu tidak bisa diukur hanya dengan selembar Ijazah,,

Sepanjang proses perjalanan (yang sampai saat inipun masih berproses), kami bersama sama merangkai nilai untuk keluarga kami,, (Karena kami muslim, kami berusaha sekuat mungkin berpatokan pada Qur’an yang mulia,,)

Adanya Azzam (yang merupakan hadiah terindah dari Alloh) lebih membuka mata hati kami, dan juga membuka jalan kami untuk bisa belajar lebih banyak lagi kebaikan,,

Kami hanya ingin bisa berproses bersama,, Kami ingin mengalirkan energi belajar pada Azzam,, Tidak terkotakkan oleh kelas tempat belajar, oleh waktu belajar, oleh kurikulum belajar, ataupun lembaran Ijazah,,

Kami hanya ingin menanamkan semagat belajar berlandaskan kecintaan pada Alloh,, Karena kami sadar kami tidak pernah bisa menebak seperti apa nanti Azzam akan menghadapi dunianya,, Menjadi seperti apapun Azzam nanti, berprofesi apapun Azzam nanti, bagi kami yang terpenting untuk ditanamkan adalah bahwa Azzam (pun kami dua orang tuanya) seorang Mu’min qobla kulli syaiin (sebelum semua predikat ataupun profesi yang lain) dan menanam nilai ini tidak bisa dengan menitipkannya pada orang atau sebuah lembaga pendidikan,,

Menanam nilai kecintaan pada Alloh adalah tanggung jawab kami, kedua orang tuanya,,

Sebab bagi seorang mu’min (menurut keyakinan kami) kesuksesan bukanlah diukur dari apa pekerjaannya nanti, lulusan mana, kekayaan, jabatan atau apapun,,

Menurut kami, kesuksesan “cukuplah” bisa memaksimalkan diri untuk bermanfaat bagi banyak orang (apapun profesinya) dan seburuk apapun ketika kita harus berhadapan dengan ujian dunia (pangkat, harta, tahta, dan wanita -untuk laki laki- ) kami tahu kemana harus menghadapkan wajah dan hati kami dan mengembalikan semua urusan kami yaitu pada Alloh ta’ala,, Karena kami yakin akan ada kehidupan yang abadi setelah kematian nanti,,

Banyak pertanyaan yang dilontarkan teman teman terkait pilihan kami meng-homeschoolingkan Azzam,,

1. Kenapa Homeschooling,,?

2. Apa itu Homeschooling,,?

3. Bagaimana menjalankan Homeschooling,,? (maksudnya menggunakan kurikulum apa dan bagaimana mengajarnya,,?)

4. Dimulai sejak usia berapa Homeschooling,,?

5. Bagaimana nanti ujian dan cara mendapat Ijazah dan legalitas,,?

6. Apa harus memanggil guru kerumah (karena dirasa kapasitas orang tua tidak mencukupi untuk menjadi guru),,?

7. Berapa biaya yang harus dikeluarkan,,?

8. Bagaimanakah anak homeschooling bersosialisasi,,?

9. Bagaimana anak homeschooling bisa menghadapi “kerasnya dunia” sementara mereka (dianggap) tidak pernah keluar dari rumah dan berhadapan dengan “kerasnya dunia”,,?

dan masih banyak pertanyaan yang terlontar dari teman teman (yang mungkin kami juga menjawabnya masih dengan mengutip pengalaman keluarga homeschooler lain karena kami memang belum melaluinya,, karena Azzam pun belum masuk usia sekolah,,,)

Sampai hari ini kami mencoba menjawabnya satu persatu (masih lebih banyak jawaban lisan mungkin,,) karena memang insyaAlloh kami (yang sampai hari ini masih terus belajar), telah melewati pertanyaan pertanyaan itu dan mencari jawab bagi diri kami sendiri,,, Mudah mudahan dengan Izin Alloh, kami bisa menjawab dalam bentuk tertulis,, (walaupun sudah banyak web dan blog para homeschooler yang menjabarkan, insyaalloh kami akan menjawab versi tulisan kami,,)

Diatas semua upaya, kami mengawali langkah kami dengan doa dan memohon penjagaan dari Alloh,, Karena pada Alloh-lah bermuara seluruh kebaikan dan Alloh-lah pemilik diri diri kami,,

Robbanaa bukakan pintu pintu belajar bagi kami,, dan dekatkan kami pada ma’rifah kepadaMu,,

“Robbanaa atmimlanaa nuuronaa waghfirlanaa, innaka “alaa kulli syaiin qodiir,,”  ”Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Aamiin yaa robbal ‘alamiin,,,

Terimakasih Atas Do’a-do’a mu Nak,,,

Mungkin sebagian kita para orang tua ada yang belum menyadari betapa bahagianya ketika kita sebagai orangtua memiliki anak yang sholeh atau sholehah. Karena hanya anak yang sholeh dan sholehah yang bisa dan mau dengan sadar untuk mendoakan kedua orangtuanya sebagai salah satu sarana untuk berbakti.

Tidak mudah memang bagi kita para orangtua dapat menjadikan anak-anak kita seperti yang banyak dicita-citakan bahkan dalam harapan tiap do-a para orangtua. Tetapi perlu diingat kembali bahwa kita para orangtua pernah berada pada masa menjadi anak-anak juga. Dengan segala kepolosannya kita menjalankan peran sebagai anak dengan mengikuti segala bentuk cara mendidik orangtua kita saat itu.

Semua pasti masih terekam dengan jelas masa-masa saat kita yang sekarang menjadi orangtua dengan kala itu ketika kita masih menjadi anak-anak. Kita mendengar dan melihat harapan orangtua kita lewat do’a do’a nya agar kita menjadi anak yang berguna dimasa mendatang. Itu semua dilakukan oleh orangtua kita dengan sadar dan penuh kesungguhan.

Kini kita sudah berada pada fase menjadi orangtua dari anak-anak yang kita cintai. Berbagai macam cara kita tempuh agar anak-anak kita menjadi orang yang bukan hanya berguna tetapi juga berhasil dalam kapasitasnya masing masing dikehidupan mendatang sesuai dengan zamannya. Sudah menjadi hal yang lazim bila kita para orang tua memiliki harapan itu.

Lalu sudahkah kita melakukan semua harapan itu dengan sadar dan penuh kesungguhan lewat do-a do’a kita..?
Atau kita hanya menyerahkan pada orang lain yang cukup ilmu untuk sekedar menjadikan anak-anak kita seperti yang kita harapkan..?

Benarkah hanya dengan cukup mengajarkan dan menyuruh anak-anak kita menjalani “ritual” kebaikan dapat menjadikan anak-anak kita sholeh dan sholehah…?
Apakah kita para orangtua sudah lupa bahwa kita juga adalah peniru yang hebat saat kita menjadi anak-anak dahulu mengikuti semua perkataan dan perangai orangtua kita..?

Disinilah kuncinya ketika kita para orangtua hanya dapat memberi perintah tanpa menjelaskan apa faedahnya apa lagi tidak dibarengi dengan memberi contoh.
Juga saat kita melarang anak-anak kita sesuatu tanpa memberikan pengertian kenapa hal itu dilarang.
Atau saat kita marah pada anak-anak, kita tidak menjelaskan apa sebabnya kita marah dan tak pernah kita memberikan kesempatan si anak untuk membela dirinya.

Ternyata belajar itu bukan hanya kebutuhan untuk anak-anak kita. Belajar juga diperlukan untuk kita para orangtua yang kini sedang aktif menjalankan perannya sebagai orangtua.

Belajar bersama sama itu akan menghasilkan cara pandang tersendiri tentang hubungan kita dengan anak-anak. Si anak tidak lagi melihat bahwa kewajiban belajar itu hanyalah khusus untuknya. Tetapi belajar sesuatu itu juga dilakukan oleh kita para orangtua yang sedang belajar menjadi orangtua sesungguhnya.

Akhirnya kita akan melihat sekaligus mendengar ketika anak-anak kita sedang menengadahkan tangannya dengan do’a do’a yang keluar dari mulut mungilnya untuk kita para orangtua. Alangkah bahagianya kita para orang tua menyaksikan hal itu. Mungkin sama rasanya ketika do’a ini kita panjatkan untuk kedua orangtua kita saat kita masih anak-anak dulu. “Allohummaghfirlii waliwalidayya warhamhumaa kama robbayaanii shoghiiroo” (Doa Azzam)

“Ya Alloh,, sayangi Azzam,,, ampuni dosa ayah bunda, sayangi mereka seperti mereka menyayangi aku,,,” Aamiin..

Kerinduan Yang Belum Terjawab,,,

Ada ratusan negara berarti ada ratusan pemimpin dari milyaran manusia yang hidup didunia sekarang ini.

Bersatu dalam rotasi yang sama di planet yang sama, yang berbeda hanyalah keyakinan tentang siapa yang berhak untuk disembah karena telah menciptakan bumi ini sebagai tempat bernaung kita.

Saat ini semua pemimpin negara didunia sedang menjalani kenyataan fungsi sebagai khalifah dibumi dalam mengurus ummat sekaligus hamba ciptaanNya.

Semua ideologi yang pernah menjadi dasar negara telah melewati pasang surut dizamannya. Dari mulai zaman para Penyembah api sampai zaman Penyembah patung. Dan sampai akhirnya mata dunia terang benderang dengan kehadiran kemurnian Al Islam yang membawa manusia pada kejayaan.

Kini masa jaya itu sedang menjalani perannya dalam putaran roda kesunahan. Setelah sekian lama belum kembali terulang saat islam berada dipuncak kemenangan. Penantian dan pengharapan silih berganti dari para hati pendamba kerahmatan hingga ajal menjelang.

Para pemimpin didunia kini sangat brutal dalam mengurus dan melayani rakyatnya. Mudah sekali marah, gampang sekali tersinggung, terlalu enteng dalam menyelesaikan masalah, bila perlu menyikat habis kalau ada yang mau menggoyang singgasana kerajaannya.

Seakan akan sifat cinta itu telah hilang dari hati para pemimpin. Kesungguhan mencintai rakyatnya tidak terasakan seperti mencintai keluarganya dan dirinya sendiri.
Penyebab utamanya adalah ketika
manusia sekaligus Rosul Mulia itu kini tak lagi menjadi teladan dalam mengurus berbagai hal permasalan.

Yang timbul kini hanya kekecewaan para rakyat pada pemimpinnya. Bukan jawaban yang didapat oleh Ummat melainkan hinaan yang melekat pada hati rakyat.

Bagaimana jika dibalik,, Rosul saja yang ma’shum masih dengan bijak mau menanggapi kekecewaan sahabat dan orang orang yang disayanginya,,

Rosul saja yang dipandu langsung oleh Alloh, dikawal langsung oleh malaikat Jibril dan telah dijamin Syurga terbaik atasnya masih dengan senyum menanggapi kekecewaan orang orang disekelilingnya hatta istrinya sendiri.

Tak pernah sekalipun Rosulullah menunjukkan Kehebatan dirinya yang Suci atau Tanpa salah dihadapan Ummatnya.

Lantas siapakah kita manusia biasa yang kedekatan dengan Alloh nya pasang surut, tak pernah mendengar wahyu yang tersampaikan langsung sekalipun dan belum ada jaminan kemenangan Syurga langsung tanpa melalui neraka lebih dahulu,, Kemudian bisa bisanya kita marah atau murka mendengar orang orang tua, teman teman muda, murid murid atau sahabat sahabat kita kecewa cuma karena tidak sepakat dengan “Kebijakan” kita,,??

Siapakah kita yang tidak akan pernah bisa Ma’shum sanggup mengadili orang lain,,??

Padahal Rosul saja tak pernah mengadili dan menghukum para sahabat yang telah sama sama mengangkat pedang melawan kufar yang kecewa padanya ketika di Uhud sana.

Lalu dimana kerinduan ini akan dilabuhkan pada megahnya hati pemimpin yang mau dengan sabar mendengar semua keluhan jiwa jiwa rakyatnya,,,?

Lalu pada siapakah kehangatan batin ini dapat tersandarkan pada kemurnian jiwa dari kesejukan cinta pemimpinnya,,?

Aahhh… kerinduan ini masih belum terjawab,,,kerinduan pada pemimpin bijaksana,,, yang hatinya terisi dengan istighfar selalu kepadaNya,,, yang tampak nyata dalam kesederhanaan,,, suatu hari nanti…” Biidznillah “.

” Izinkan Aku Menjadi Imam mu,,,”

Kau mimpiku aku tak bohong,,,Bukan karena aku laki-laki,,,
Bukan juga karena aku lurus tak seperti sulbi,,,
Bukan karena aku kuat engkau yang lemah,,,
Bukan juga karena aku berwibawa atau perkasa,,,
Bukan dan bukan karena itu semua,,,

Pada diirimu melekat kesucian,,,
Dirimu juga berasal dari separuh rusukku,,,
Dirimu lembut penyayang juga tidak kasar,,,
Dirimu megah luas hati untuk menerima,,,
Semuanya ada padamu hanya ada di dirimu,,,

Ketika ku tak mampu berdiri kau datang menyerahkan dirimu untuk kubersandar,,,
Ketika ku tak mampu melihat kau pegang erat tanganku untuk menjadi tongkat,,,
Ketika ku bermimpi dirimulah yang membawaku pergi kenirwana nyata,,,
Ku akui ku butuh semuanya itu,,,

Kadang kuhanya bisa memerintah tanpa tau kalau kau lelah,,,
Kadang kupernah marah tanpa kusadar kau begitu penyabar,,,
Kadang kupernah memaki padahal dirimu sangat mencintai,,,
Dan saat kutak berdaya engkaulah yang memuji diriku agar tetap istiqomah,,,

Disetiap saat malamku kau tetap terjaga dari tidurmu,,,
Bait do’a-do’aku tak sepanjang pengharapanmu,,,
Sungguh kumerasa tentram berada disampingmu,,,
Munajatku ingin selalu bersamamu,,,

Cintaku izinkan aku menjadi Imam mu,,,

Banjarmasin, Jumat 23 September 2011 Ba’da Ashar

Kudidik Anakku Dalam Doa,,,

Rabb,, ku didik anakku dalam doa                                                                                                        Saat diriku tak lagi menjadi idola                                                                                                                 Kulihat kecewaku semakin menduka                                                                                                            dalam cita dan rasa                                                                                                                            ketika pendidik tak lagi mulia.                                                                                                                Kini ku baca suasana tak lagi cerah                                                                                                      seperti saat mereka melukis sejarah                                                                                                            dengan nuansa penuh rahmah.

Adakah kesempatan bagiku mengulang kemuliaan                                                                                        walau lewat kata kadang miskin ketulusan.                                                                                                  Mungkinkah ku bangun kembali peradaban                                                                                                 walau dengan cita kurang wawasan.                                                                                                          Jika semua takkan terulang                                                                                                                  Kumohon titip anakku untuk masa depan.

Rabb, mohon sampaikan cinta dan citaku                                                                                                pada nalar dan nurani anakku                                                                                                                  agar tak menuntutku di haribaan-Mu.                                                                                                     Kucoba dialog dengannya dengan kata                                                                                                          Kucoba cintai dia dengan harta                                                                                                             Namun tampak sia sia                                                                                                                              Kurindukan dia saat mengelana                                                                                                          Kudekap dia dalam suka ketika canda                                                                                                   Kadang kubentak saat dia tak beretika                                                                                                       Namun tak mampu kulepas dari duka                                                                                                     Karena sukmanya hanya ditangan Mu

Rabb, di sini kutatap masa depannya                                                                                                          diantara kepribadian bangsanya                                                                                                             ditengah peradaban lawannya                                                                                                                 dibalik cita ayah-bundanya                                                                                                                       disekitar cara hidup sahabatnya                                                                                                            didalam sentuhan gurunya dan dihadapan,,,umatnya.                                                                                                                                Kulihat diriku semakin tak kuasa                                                                                                         mengantarnya kejenjang alam nyata                                                                                                        yang penuh budaya rekayasa.

Harapanku hanya tinggal doa                                                                                                                    walau tak bermakna                                                                                                                                karena tenggelam dalam angan                                                                                                              yang kian hari kian mengangkasa                                                                                                         hanya ini yang kuwariskan untuknya

kudidik anakku dalam doa,,,

 (Muslim Visioner, Amang Syafrudin)

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: