Search

Days in Our Lives,,,

hari hari belajar kami,,,

Category

Ayah

Kemana Harus Mencari Qudwah,,,?

Belajar dari keluarga Uswah Hasanah,, Rasulullah Muhammad saw.(QS Al Ahzab:21) dan Ibrahim as.(QS Al Mumtahanah:4)
Dua uswah hasanah yang shalawat pada mereka kita lantunkan setiap hari dalam sholat sholat kita,,

Dibalik shalawat kita terdapat pelajaran parenting yang luar biasa,, yang mungkin lupa kita pelajari,, karena kita sibuk mencari model model parenting dari para tersohor,,

Kekuatan pendidikan yang dilakukan Ibrahim as. terletak pada do’a do’a Ayah yang tak pernah putus dan ketawakalan Bunda yang luar biasa,, Sederhana,,

Tetapi tidak sesederhana ketika membaca, menghayati, menyelami dan mempelajari doa doa yang terlantun dari lisan Ayah panutan, Ibrahim as. yang diabadikan dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 35 sampai 41,,

Dan tidak sesederhana gambaran ketawakalan bunda mulia Ibunda Ismail, yang tergambar dalam Hadits sahih Bukhari no 3113,, ketika beliau berkata “,, Alloh tidak akan menyia nyiakan kami,,”

Sungguh ini waktunya kembali kepada kekuatan doa doa, qiyamullail dan lembutnya Istighfar,,

Betapa Alloh telah memaparkan dalam QS Al Kahfi : 82 tentang pentingnya kesholehan seorang ayah,, Continue reading “Kemana Harus Mencari Qudwah,,,?”

Advertisements

Mau Dibawa Kemana Keluarga Kita,,,

Tayangan acara “Suamiku Hebat” disalah satu stasiun TV swasta mungkin sebagian kita pernah melihatnya. Dari judul program acaranya diperlihatkan kepada pemirsa betapa repotnya para suami diberikan tugas dalam beberapa jam untuk menyusun jadual bersama anak-anak dirumah. Sedangkan si isteri diberikan waktu yang bersamaan untuk membuat jadual kebutuhan diri diluar kegiatan rutin mengurus rumah dan anak-anak.

Jadilah acara ini sebuah tayangan yang sedikit unik karena kebiasaan orang banyak mengurus anak dan rumah hanya dilakukan para isteri. Namun ketika isteri meninggalkan rutinitas rumahan  lalu dihibur dengan pergi untuk rehat sejenak seperti ke salon, shoping, makan diretoran, perawatan wajah dan lainnya nampak sekali kesegaran diwajah isteri seperti terbebas dari kewajiban.

Disisi lain dalam acara tersebut si suami seakan “terhukum”dengan menggantikan tugas isteri mengurus rumah dan anak-anaknya, mulai dari menyiapkan sarapan, main bersama, belajar bersama bahkan mengurusi hal-hal yang belum lazim dilakukan oleh sebagian suami. Continue reading “Mau Dibawa Kemana Keluarga Kita,,,”

“Rumah di Surga Tempat Tinggal Sesungguhnya,,,”

Memiliki rumah memang menjadi harapan banyak orang. Banyak cara yang ditempuh untuk mendapatkan rumah yang sekaligus menjadi status sosial bagi pemiliknya. Masing-masing kita berhak untuk membangunnya karena bumi ini memang dihamparkan oleh Sang Pencipta untuk kita manusia yang hidup diatas tanahNya. Namun dalam kenyataannya ada banyak manusia yang serakah dalam membangun istananya didunia. Para tuan tanah menjadikan kita makin terhimpit demi desakan pembangunan yang tak pernah terencana. Bahkan untuk memberikan pori pada air saja tak diberikannya sehingga ketika Sang air marah manusia juga yang merasakan akibatnya. Terkadang sebagian dari kita tak peduli lagi melihat masih ada orang yang hidupnya bernaung dalam rumah berjalan, berpondasikan roda beratapkan plastik sampah dan beralaskan kardus bekas televisi mewah.

Bersyukurlah kita yang masih diberikan kenyamanan untuk tempat merebahkan kepala pada kasur busa. Bersyukurlah kita yang tak perlu setiap bulannya mengunci pintu rapat-rapat agar tak bertemu si pemilik rumah yang menagih uang sewa. Bersyukurlah kita yang dalam mimpi malamnya tak terbangunkan oleh derasnya air ketika banjir datang dan bersyukurlah kita yang memiliki rumah sendiri seberapapun ukurannya seperti apapun bentuknya karena semuanya itu hanya rumah sementara kita.

Rumah adalah tempat yang paling pertama dan utama untuk membentuk karakter isi penghuninya. Rumah juga adalah tempat berkumpul dan berbagi kebaikan sesama anggotanya. Didalam rumah ini kita mendapatkan pelajaran pertama tentang miniatur  bermasyarakat. Saling menghargai dan menghormati berawal dari rumah. Dari dalam rumahlah segala tahapan kehidupan bermula bukan sekedar menjadi tempat bernaung dari panas dan hujan saja.

Namun tidak sedikit dari kita yang belum menjadikan rumah sebagai basis pendidikan untuk anak-anaknya. Padahal orangtua adalah agen perubah yang harus  mempersiapkan anak-anaknya untuk dapat bertahan dari segala keliaran dunia. Orangtua adalah pendidik sebenarnya untuk anak-anaknya. Jangan malah kita sendiri yang menjadikan anak sebagai hiburan semata saja karena kelucuannya. Bermacam bidang ilmu dapat dipelajarinya bersama-sama. Karena hak belajar bukan hanya kewajiaban anak saja tetapi juga sama wajibnya bagi orang tua.

Mulailah persiapan dari sejak sebelum menjadi orang tua, artinya persiapan perencanaan mendidik anak mesti direncanakan dari mulai memilih pasangan hidup. Komitmen yang dibangun sebelum memiliki anak adalah bagaimana kita akan mendidik anak kita. Akan memakai metode pendidikan seperti apa. Atau pilihan gampang dan umum serahkan saja pendidikannya pada sekolah walaupun orangtua sendiri yang akan memetik buah dari benih yang ditanamnya.

Suasana didalam rumah dalam bentuk apapun untuk ukuran berapapun kita sendiri yang harus menciptakan. Akan seperti suasana dirumah sakit kah yang penghuninya selalu meminta tolong,,, bisa kita ciptakan. Akan seperti suasana kuburan kah yang kesunyiannya bikin kita merinding,,, bisa kita ciptakan. Akan seperti suasana ramainya pasar kah dengan hiruk pikuk orang didalamnya serta seisi rumah penuh dengan barang hiasan,,, bisa kita ciptakan. Akan seperti suasana arena pertandingan kah yang memperlihatkan saling tendang dan pukul ,,, bisa kita ciptakan. Atau ingin menjadikan suasana rumah kita seperti layaknya di surga yang penuh kedamaian dan kebahagiaan diantara semua penghuninya,,, sangat-sangat bisa. Semua adalah pilihan kita sebagai bagian dari penghuni didalamnya.

Maka jadikanlah rumah kita seperti tempat ibadah yang akan selalu mendapatkan naungan keberkahan dari do’a – do’a dan sujud penghuninya. Jadikanlah penghuni rumah itu seperti sekumpulan lebah yang selalu bekerja sama, mencari nafkah yang halal sebagai sumber makanan untuk menghasilkan manisnya madu kebaikan dalam keluarga. Jadikanlah rumah kita sebagai tempat belajar dan mengajar antara anak dan orangtua, suami dengan istrinya. Jadikanlah rumah kita sebagai pembentukan Akhlak untuk semua orang didalamnya yang dapat dirasakan juga oleh tetangganya. Jadikanlah rumah kita sebagai bagian tempat bertafakur dari besar dan luasnya dunia untuk mengkaji kebesaran Sang Pencipta. Juga jadikanlah rumah kita sebagai tempat persinggahan sementara untuk melanjutkan perjalanan panjang  menuju tempat peristirahatan sesungguhnya di Surga sana.

“Kuharap Rasa Malu Itu Masih Ada,,,”

Pasangan paruh baya itu terlihat lemas setelah mendengarkan penjelasan dari anak sulungnya yang baru menginjak remaja akan segera menikah. Tak nampak kecemasan dari raut wajah si anak tentang keinginannya yang dianggap aneh oleh kedua orangtuanya. Apa sebab sehingga anaknya ingin segera menikah yang menurutnya belum pantas untuk menjalani fase kehidupan yang pasti membutuhkan bekal kesiapan mental anaknya. Ternyata sianak dengan sadar telah mengandung anak manusia dari hubungan yang dinikmatinya bersama pasangannya yang masih sama-sama remaja. Seakan tanpa merasa salah, sedikit merasa berdosa pun tak ada. Semuanya telah terjadi dan hidup tak boleh berhenti, kedua orangtuanya mau tak mau, malu tak malu ikut menanggung akibatnya. Tetapi pada siapa sebenarnya rasa malu ini pantas ditujukan..?

Jangan dianggap biasa potret kehidupan remaja saat ini, walaupun seakan sudah menjadi hal yang tak lagi memalukan. Kebanyakan kita lebih merasa tertunduk dihadapan manusia bila aib kita diketahui. Cerita yang bisa menjadi komoditi paling hot untuk dikonsumsi sampai berderet distasiun TV. Kata risih sudah berganti menjadi gengsi ala selebriti. Lalu akan seperti apa wajah generasi negeri ini dimasa depannya nanti. Walau sang pemimpinnya malu untuk menjawab persoalan ini. Tetapi pada siapa sebenarnya rasa malu ini pantas ditujukan..?

Malu hanya dikenal sebagai pepatah yang apabila tak dipakai akan menemui kesesatan. Rasa malu dalam keluarga hanya terasa apabila salah satu anggotanya ketahuan berbuat nista. Sang ayah ketahuan korupsi, Si ibu tertangkap basah tidur dengan lelaki yang bukan suaminya, Si anak gadisnya ketahuan hamil diluar nikah, dan Putranya tertangkap polisi karena narkoba. Semua malu itu dirasakan masih untuk dihadapan manusia. Tetapi pada siapa sebenarnya rasa malu ini pantas ditujukan..?

Pesanku ini hanya untukmu wahai anakku agar tertunaikan kewajibanku sebagai orangtuamu.

Tunjukanlah rasa malu itu hanya untuk Tuhan yang menciptakanmu. Tutuplah auratmu seperti Adam dan Hawa ketika diturunkan dari surga. Padahal hanya mereka berdua penghuni didunia ini dari jenis manusia.

Tahanlah Syahwatmu seperti Yusuf yang merasa malu dilihat oleh Tuhannya ketika dirayu oleh Zulaikha wanita kaya istri seorang raja. Walau dalam hati Yusuf ada rasa cinta sama seperti hati manusia namun malu karena Tuhannya itu yang dipilihnya.

Jagalah rasa malumu agar kau tidak dengan sengaja meninggalkan kewajibanmu untuk sujud kepadaNya. Padahal kau selalu meminta penjagaan dariNya maka jangan pernah kau melupakanNya. Sesibuk apapun dirimu kelak rasa malumu tak bermakna dimata manusia.

Tundukkanlah pandanganmu ketika berjalan dan menatap yang belum menjadi halal bagimu. Curahkanlah rasa cintamu hanya pada pasangan halal hidupmu untuk kebaikan keturunanmu dan menangislah hanya dalam taubat kepadaNya untuk semua kealpaanmu.

Asah rasa malu mu meskipun kau tak memiliki segenggam beras untuk makan agar kau tak mengemis kepada manusia. Bersabarlah dan jadikanlah sholat sebagai penolongmu. Jagalah Tuhanmu dikala kau lapang niscaya Ia akan menjagamu ketika kau susah.

Cukupkan rasa malumu dengan rizki yang sudah ditetapkan Tuhan untukmu agar kau tak disesatkan oleh rasa lapar yang berasal dari nafsu syetan. Walau saat itu kau berada sendirian dalam lingkarannya sekalipun. Berusahalah untuk selalu Istiqomah walaupun kau harus menggigitnya.

Kuharap rasa malu itu masih ada karena Ia bagian dari Imanmu.

Inilah Pilihan Kami,,,

Sampai tulisan ini di-upload, kami memang mungkin masih terhitung baru dalam menjalani metode homeschooling (kira kira 4 tahun -seumur Azzam-),,

Tapi kami belajar tentang “serba serbi” homeschooling sudah sejak sebelum Azzam lahir,, (bahkan untuk bunda, sudah dari semenjak sebelum menikah,, he,, he,,) dan sampai sekarang pun kami masih tetap dalam proses belajar,,

Bunda pertama kali terfikir melirik metode Homeschooling diawali dari keprihatinan melihat beberapa teman yang kebetulan waktu itu setelah menikah (belum sempat berinteraksi lebih dekat dengan suaminya) keburu punya anak ke 1 disusul anak ke 2 dan ke 3 dalam waktu yang sangat dekat,, Yang ternyata kondisi itu terasa agak menjadi beban,, Sampailah bunda merasa perlu belajar membantu dengan cara “berteman” (baca; membantu mendidik, karena bertemu berkala) dengan anak (teman bunda) yang besar agar si ibu bisa mengurus dan merawat anak yang lain dengan baik (waktu itu saling bantu membantunya dikerjakan beberapa orang yang masih lajang,, -termasuk bunda-,, he he,,)

Dari titik itulah bunda merasa bahwa memang ibu adalah madrasah bagi anak anaknya,, Kesiapan seorang ibu untuk mengemban amanah menjadi “Ibu” akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak anaknya,, Dan hal ini tidak akan bisa terganti walaupun keluarga itu menitipkan anak anaknya ke Sekolah Terbaik jenis apapun,,, Bahwa nilai keluarga, energi keluarga itu akan diserap langsung oleh anak, dan tanggung jawab mendidik anak tidak bisa diserahkan pada orang lain atau pada sekolah/lembaga sehebat apun,,

Bunda belajar tentang Homeschooling dimulai dari membaca buku,, (lupa judul bukunya,, he he,, sekarang udah inget, judulnya “Ibuku Guruku” he he 21/10) yang dilanjut dengan browsing sana sini terkait Homeschooling (disela-sela waktu ngantor dulu,,)

Alhamdulillah Alloh pertemukan bunda dengan suami yang bisa dengan cukup cepat menyamakan frekuensi berfikir yang dengan telaten mendengar luapan pemikiran, ide dan cita cita seputar per homeschoolingan (padahal waktu itu belum punya anak,, he,,he,,),, Hmm ini namanya karunia belahan jiwa (bahasa kerennya; soulmate) dari Alloh,,

Dan sampailah kami dengan sepakat bahwa kelak jika Alloh menitipkan kami amanah mengasuh anak kami akan mengambil tanggung jawab mendidiknya ditangan kami sendiri,, (tidak dengan menitipkannya pada sekolah, kecuali jika buah hati kami memutuskan untuk memilih lain yang menurutnya baik untuk kehidupannya,,)

Kami kemudian lebih suka menyebutnya sebagai Home Education atau Home Based Learning,, Pendidikan atau proses belajar berbasis rumah,, karena bagi kami Schooling atau Education terdengar sangat berasosiasi dengan ijazah, atau alat untuk mengukur seseorang, padahal seseorang itu tidak bisa diukur hanya dengan selembar Ijazah,,

Sepanjang proses perjalanan (yang sampai saat inipun masih berproses), kami bersama sama merangkai nilai untuk keluarga kami,, (Karena kami muslim, kami berusaha sekuat mungkin berpatokan pada Qur’an yang mulia,,)

Adanya Azzam (yang merupakan hadiah terindah dari Alloh) lebih membuka mata hati kami, dan juga membuka jalan kami untuk bisa belajar lebih banyak lagi kebaikan,,

Kami hanya ingin bisa berproses bersama,, Kami ingin mengalirkan energi belajar pada Azzam,, Tidak terkotakkan oleh kelas tempat belajar, oleh waktu belajar, oleh kurikulum belajar, ataupun lembaran Ijazah,,

Kami hanya ingin menanamkan semagat belajar berlandaskan kecintaan pada Alloh,, Karena kami sadar kami tidak pernah bisa menebak seperti apa nanti Azzam akan menghadapi dunianya,, Menjadi seperti apapun Azzam nanti, berprofesi apapun Azzam nanti, bagi kami yang terpenting untuk ditanamkan adalah bahwa Azzam (pun kami dua orang tuanya) seorang Mu’min qobla kulli syaiin (sebelum semua predikat ataupun profesi yang lain) dan menanam nilai ini tidak bisa dengan menitipkannya pada orang atau sebuah lembaga pendidikan,,

Menanam nilai kecintaan pada Alloh adalah tanggung jawab kami, kedua orang tuanya,,

Sebab bagi seorang mu’min (menurut keyakinan kami) kesuksesan bukanlah diukur dari apa pekerjaannya nanti, lulusan mana, kekayaan, jabatan atau apapun,,

Menurut kami, kesuksesan “cukuplah” bisa memaksimalkan diri untuk bermanfaat bagi banyak orang (apapun profesinya) dan seburuk apapun ketika kita harus berhadapan dengan ujian dunia (pangkat, harta, tahta, dan wanita -untuk laki laki- ) kami tahu kemana harus menghadapkan wajah dan hati kami dan mengembalikan semua urusan kami yaitu pada Alloh ta’ala,, Karena kami yakin akan ada kehidupan yang abadi setelah kematian nanti,,

Banyak pertanyaan yang dilontarkan teman teman terkait pilihan kami meng-homeschoolingkan Azzam,,

1. Kenapa Homeschooling,,?

2. Apa itu Homeschooling,,?

3. Bagaimana menjalankan Homeschooling,,? (maksudnya menggunakan kurikulum apa dan bagaimana mengajarnya,,?)

4. Dimulai sejak usia berapa Homeschooling,,?

5. Bagaimana nanti ujian dan cara mendapat Ijazah dan legalitas,,?

6. Apa harus memanggil guru kerumah (karena dirasa kapasitas orang tua tidak mencukupi untuk menjadi guru),,?

7. Berapa biaya yang harus dikeluarkan,,?

8. Bagaimanakah anak homeschooling bersosialisasi,,?

9. Bagaimana anak homeschooling bisa menghadapi “kerasnya dunia” sementara mereka (dianggap) tidak pernah keluar dari rumah dan berhadapan dengan “kerasnya dunia”,,?

dan masih banyak pertanyaan yang terlontar dari teman teman (yang mungkin kami juga menjawabnya masih dengan mengutip pengalaman keluarga homeschooler lain karena kami memang belum melaluinya,, karena Azzam pun belum masuk usia sekolah,,,)

Sampai hari ini kami mencoba menjawabnya satu persatu (masih lebih banyak jawaban lisan mungkin,,) karena memang insyaAlloh kami (yang sampai hari ini masih terus belajar), telah melewati pertanyaan pertanyaan itu dan mencari jawab bagi diri kami sendiri,,, Mudah mudahan dengan Izin Alloh, kami bisa menjawab dalam bentuk tertulis,, (walaupun sudah banyak web dan blog para homeschooler yang menjabarkan, insyaalloh kami akan menjawab versi tulisan kami,,)

Diatas semua upaya, kami mengawali langkah kami dengan doa dan memohon penjagaan dari Alloh,, Karena pada Alloh-lah bermuara seluruh kebaikan dan Alloh-lah pemilik diri diri kami,,

Robbanaa bukakan pintu pintu belajar bagi kami,, dan dekatkan kami pada ma’rifah kepadaMu,,

“Robbanaa atmimlanaa nuuronaa waghfirlanaa, innaka “alaa kulli syaiin qodiir,,”  ”Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Aamiin yaa robbal ‘alamiin,,,

Terimakasih Atas Do’a-do’a mu Nak,,,

Mungkin sebagian kita para orang tua ada yang belum menyadari betapa bahagianya ketika kita sebagai orangtua memiliki anak yang sholeh atau sholehah. Karena hanya anak yang sholeh dan sholehah yang bisa dan mau dengan sadar untuk mendoakan kedua orangtuanya sebagai salah satu sarana untuk berbakti.

Tidak mudah memang bagi kita para orangtua dapat menjadikan anak-anak kita seperti yang banyak dicita-citakan bahkan dalam harapan tiap do-a para orangtua. Tetapi perlu diingat kembali bahwa kita para orangtua pernah berada pada masa menjadi anak-anak juga. Dengan segala kepolosannya kita menjalankan peran sebagai anak dengan mengikuti segala bentuk cara mendidik orangtua kita saat itu.

Semua pasti masih terekam dengan jelas masa-masa saat kita yang sekarang menjadi orangtua dengan kala itu ketika kita masih menjadi anak-anak. Kita mendengar dan melihat harapan orangtua kita lewat do’a do’a nya agar kita menjadi anak yang berguna dimasa mendatang. Itu semua dilakukan oleh orangtua kita dengan sadar dan penuh kesungguhan.

Kini kita sudah berada pada fase menjadi orangtua dari anak-anak yang kita cintai. Berbagai macam cara kita tempuh agar anak-anak kita menjadi orang yang bukan hanya berguna tetapi juga berhasil dalam kapasitasnya masing masing dikehidupan mendatang sesuai dengan zamannya. Sudah menjadi hal yang lazim bila kita para orang tua memiliki harapan itu.

Lalu sudahkah kita melakukan semua harapan itu dengan sadar dan penuh kesungguhan lewat do-a do’a kita..?
Atau kita hanya menyerahkan pada orang lain yang cukup ilmu untuk sekedar menjadikan anak-anak kita seperti yang kita harapkan..?

Benarkah hanya dengan cukup mengajarkan dan menyuruh anak-anak kita menjalani “ritual” kebaikan dapat menjadikan anak-anak kita sholeh dan sholehah…?
Apakah kita para orangtua sudah lupa bahwa kita juga adalah peniru yang hebat saat kita menjadi anak-anak dahulu mengikuti semua perkataan dan perangai orangtua kita..?

Disinilah kuncinya ketika kita para orangtua hanya dapat memberi perintah tanpa menjelaskan apa faedahnya apa lagi tidak dibarengi dengan memberi contoh.
Juga saat kita melarang anak-anak kita sesuatu tanpa memberikan pengertian kenapa hal itu dilarang.
Atau saat kita marah pada anak-anak, kita tidak menjelaskan apa sebabnya kita marah dan tak pernah kita memberikan kesempatan si anak untuk membela dirinya.

Ternyata belajar itu bukan hanya kebutuhan untuk anak-anak kita. Belajar juga diperlukan untuk kita para orangtua yang kini sedang aktif menjalankan perannya sebagai orangtua.

Belajar bersama sama itu akan menghasilkan cara pandang tersendiri tentang hubungan kita dengan anak-anak. Si anak tidak lagi melihat bahwa kewajiban belajar itu hanyalah khusus untuknya. Tetapi belajar sesuatu itu juga dilakukan oleh kita para orangtua yang sedang belajar menjadi orangtua sesungguhnya.

Akhirnya kita akan melihat sekaligus mendengar ketika anak-anak kita sedang menengadahkan tangannya dengan do’a do’a yang keluar dari mulut mungilnya untuk kita para orangtua. Alangkah bahagianya kita para orang tua menyaksikan hal itu. Mungkin sama rasanya ketika do’a ini kita panjatkan untuk kedua orangtua kita saat kita masih anak-anak dulu. “Allohummaghfirlii waliwalidayya warhamhumaa kama robbayaanii shoghiiroo” (Doa Azzam)

“Ya Alloh,, sayangi Azzam,,, ampuni dosa ayah bunda, sayangi mereka seperti mereka menyayangi aku,,,” Aamiin..

Kerinduan Yang Belum Terjawab,,,

Ada ratusan negara berarti ada ratusan pemimpin dari milyaran manusia yang hidup didunia sekarang ini.

Bersatu dalam rotasi yang sama di planet yang sama, yang berbeda hanyalah keyakinan tentang siapa yang berhak untuk disembah karena telah menciptakan bumi ini sebagai tempat bernaung kita.

Saat ini semua pemimpin negara didunia sedang menjalani kenyataan fungsi sebagai khalifah dibumi dalam mengurus ummat sekaligus hamba ciptaanNya.

Semua ideologi yang pernah menjadi dasar negara telah melewati pasang surut dizamannya. Dari mulai zaman para Penyembah api sampai zaman Penyembah patung. Dan sampai akhirnya mata dunia terang benderang dengan kehadiran kemurnian Al Islam yang membawa manusia pada kejayaan.

Kini masa jaya itu sedang menjalani perannya dalam putaran roda kesunahan. Setelah sekian lama belum kembali terulang saat islam berada dipuncak kemenangan. Penantian dan pengharapan silih berganti dari para hati pendamba kerahmatan hingga ajal menjelang.

Para pemimpin didunia kini sangat brutal dalam mengurus dan melayani rakyatnya. Mudah sekali marah, gampang sekali tersinggung, terlalu enteng dalam menyelesaikan masalah, bila perlu menyikat habis kalau ada yang mau menggoyang singgasana kerajaannya.

Seakan akan sifat cinta itu telah hilang dari hati para pemimpin. Kesungguhan mencintai rakyatnya tidak terasakan seperti mencintai keluarganya dan dirinya sendiri.
Penyebab utamanya adalah ketika
manusia sekaligus Rosul Mulia itu kini tak lagi menjadi teladan dalam mengurus berbagai hal permasalan.

Yang timbul kini hanya kekecewaan para rakyat pada pemimpinnya. Bukan jawaban yang didapat oleh Ummat melainkan hinaan yang melekat pada hati rakyat.

Bagaimana jika dibalik,, Rosul saja yang ma’shum masih dengan bijak mau menanggapi kekecewaan sahabat dan orang orang yang disayanginya,,

Rosul saja yang dipandu langsung oleh Alloh, dikawal langsung oleh malaikat Jibril dan telah dijamin Syurga terbaik atasnya masih dengan senyum menanggapi kekecewaan orang orang disekelilingnya hatta istrinya sendiri.

Tak pernah sekalipun Rosulullah menunjukkan Kehebatan dirinya yang Suci atau Tanpa salah dihadapan Ummatnya.

Lantas siapakah kita manusia biasa yang kedekatan dengan Alloh nya pasang surut, tak pernah mendengar wahyu yang tersampaikan langsung sekalipun dan belum ada jaminan kemenangan Syurga langsung tanpa melalui neraka lebih dahulu,, Kemudian bisa bisanya kita marah atau murka mendengar orang orang tua, teman teman muda, murid murid atau sahabat sahabat kita kecewa cuma karena tidak sepakat dengan “Kebijakan” kita,,??

Siapakah kita yang tidak akan pernah bisa Ma’shum sanggup mengadili orang lain,,??

Padahal Rosul saja tak pernah mengadili dan menghukum para sahabat yang telah sama sama mengangkat pedang melawan kufar yang kecewa padanya ketika di Uhud sana.

Lalu dimana kerinduan ini akan dilabuhkan pada megahnya hati pemimpin yang mau dengan sabar mendengar semua keluhan jiwa jiwa rakyatnya,,,?

Lalu pada siapakah kehangatan batin ini dapat tersandarkan pada kemurnian jiwa dari kesejukan cinta pemimpinnya,,?

Aahhh… kerinduan ini masih belum terjawab,,,kerinduan pada pemimpin bijaksana,,, yang hatinya terisi dengan istighfar selalu kepadaNya,,, yang tampak nyata dalam kesederhanaan,,, suatu hari nanti…” Biidznillah “.

” Izinkan Aku Menjadi Imam mu,,,”

Kau mimpiku aku tak bohong,,,Bukan karena aku laki-laki,,,
Bukan juga karena aku lurus tak seperti sulbi,,,
Bukan karena aku kuat engkau yang lemah,,,
Bukan juga karena aku berwibawa atau perkasa,,,
Bukan dan bukan karena itu semua,,,

Pada diirimu melekat kesucian,,,
Dirimu juga berasal dari separuh rusukku,,,
Dirimu lembut penyayang juga tidak kasar,,,
Dirimu megah luas hati untuk menerima,,,
Semuanya ada padamu hanya ada di dirimu,,,

Ketika ku tak mampu berdiri kau datang menyerahkan dirimu untuk kubersandar,,,
Ketika ku tak mampu melihat kau pegang erat tanganku untuk menjadi tongkat,,,
Ketika ku bermimpi dirimulah yang membawaku pergi kenirwana nyata,,,
Ku akui ku butuh semuanya itu,,,

Kadang kuhanya bisa memerintah tanpa tau kalau kau lelah,,,
Kadang kupernah marah tanpa kusadar kau begitu penyabar,,,
Kadang kupernah memaki padahal dirimu sangat mencintai,,,
Dan saat kutak berdaya engkaulah yang memuji diriku agar tetap istiqomah,,,

Disetiap saat malamku kau tetap terjaga dari tidurmu,,,
Bait do’a-do’aku tak sepanjang pengharapanmu,,,
Sungguh kumerasa tentram berada disampingmu,,,
Munajatku ingin selalu bersamamu,,,

Cintaku izinkan aku menjadi Imam mu,,,

Banjarmasin, Jumat 23 September 2011 Ba’da Ashar

Kudidik Anakku Dalam Doa,,,

Rabb,, ku didik anakku dalam doa                                                                                                        Saat diriku tak lagi menjadi idola                                                                                                                 Kulihat kecewaku semakin menduka                                                                                                            dalam cita dan rasa                                                                                                                            ketika pendidik tak lagi mulia.                                                                                                                Kini ku baca suasana tak lagi cerah                                                                                                      seperti saat mereka melukis sejarah                                                                                                            dengan nuansa penuh rahmah.

Adakah kesempatan bagiku mengulang kemuliaan                                                                                        walau lewat kata kadang miskin ketulusan.                                                                                                  Mungkinkah ku bangun kembali peradaban                                                                                                 walau dengan cita kurang wawasan.                                                                                                          Jika semua takkan terulang                                                                                                                  Kumohon titip anakku untuk masa depan.

Rabb, mohon sampaikan cinta dan citaku                                                                                                pada nalar dan nurani anakku                                                                                                                  agar tak menuntutku di haribaan-Mu.                                                                                                     Kucoba dialog dengannya dengan kata                                                                                                          Kucoba cintai dia dengan harta                                                                                                             Namun tampak sia sia                                                                                                                              Kurindukan dia saat mengelana                                                                                                          Kudekap dia dalam suka ketika canda                                                                                                   Kadang kubentak saat dia tak beretika                                                                                                       Namun tak mampu kulepas dari duka                                                                                                     Karena sukmanya hanya ditangan Mu

Rabb, di sini kutatap masa depannya                                                                                                          diantara kepribadian bangsanya                                                                                                             ditengah peradaban lawannya                                                                                                                 dibalik cita ayah-bundanya                                                                                                                       disekitar cara hidup sahabatnya                                                                                                            didalam sentuhan gurunya dan dihadapan,,,umatnya.                                                                                                                                Kulihat diriku semakin tak kuasa                                                                                                         mengantarnya kejenjang alam nyata                                                                                                        yang penuh budaya rekayasa.

Harapanku hanya tinggal doa                                                                                                                    walau tak bermakna                                                                                                                                karena tenggelam dalam angan                                                                                                              yang kian hari kian mengangkasa                                                                                                         hanya ini yang kuwariskan untuknya

kudidik anakku dalam doa,,,

 (Muslim Visioner, Amang Syafrudin)

Notes Ayah: Ramadhan Yang Ku Rindu, Lebaran Yang Kau Tunggu,,,

Entah mesti bagaimana lagi melihat fenomena masyarakat ini tentang bulan Ramadhan. Kedatangannya sangat dirindu oleh manusia didunia yang mengharapkan barokah dan pengampunan dengan landasan Iman. Karena hanya ada satu bulan yang diistimewakan yaitu Ramadhan, diantara sebelas bulan.

Tetapi ada bayak manusia yang justru ingin Ramadhan cepat selesai, ditutup dengan seremonial pesta, merasa diri pantas untuk bersuka dihari kemenangan. Kebiasaan yang justru lebih didambakan daripada berburu pahala disetiap detik waktu yang Ramadhan berikan.

Padahal sekarang sudah masuk hari ke lima Ramadhan. Masih banyak ibadah-ibadah  kebaikan yang belum dijalankan. Masih panjang sederetan agenda yang belum dimulai. Masih setumpuk bait-bait do’a pengharapan agar dosa diri dapat termaafkan.

Kadang tak terasa, malah Ramadhan sudah di akhir penghujung untuk perpisahan. Tanpa disadari bahkan sengaja terlewati. Hanya berharap Ramadhan akan datang lagi walau tak pasti umur akan sampai di bulan suci tahun nanti.

Apakah memang akan selalu begini kita menyuguhkan tamu agung Ramadhan ditiap tahun kedatangannya…?

Metamorfosis Ramadhan,,,

Bulan Agung itu datang lagi.
Dalam setahun hanya ada satu bulan mestinya cukup untuk perbekalan hidup sebelas bulan lainnya. Diluar Ramadhan manusia seakan seperti ulat yang rakus, segala yang diinginkan disantapnya dengan lahap. Apa yang dilihat oleh matanya mempengaruhi hatinya sehingga selalu ingin memiliki. Itu semua terjadi sebelas bulan di luar satu bulan yaitu Ramadhan.

Entah sudah berapa puluh Ramadhan yang terlalui oleh kita. Entah Ramadhan yang manakah yang membawa kesan untuk peningkatan keshalihan kita. Atau kita tak pernah berhasil menjaring semua curahan rahmat yang dibawa Ramadhan disetiap datangnya. Lalu untuk siapa Alloh memberikan satu bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan kalau bukan untuk semua hambaNya..? Syaratnya hanya untuk orang yang Beriman.

Andai saja manusia itu mau berfikir, betapa beruntungnya kita yang meyakini bahwa hanya Alloh lah Tuhan satu-satunya tak ada tuhan selain Dia. Begitu pengasihNya sampai kita diberikan bulan yang hanya pada bulan itu segala permintaan, semua permohonan, bahkan setumpuk pengampunan dan sederet pengharapan akan dikabulkan. Hanya untuk hamba-hambanya yang mengimani tiada tuhan selain Alloh. Pintu syurga akan dibuka lebar sedangkan pagar Neraka terkunci rapat pada bulan itu.

Betapa ruginya jika ada manusia yang sudah meyakini Alloh sebagai tuhan satu-satunya tetapi ia tak berhasil meraih semua curahan kasih sayangNya pada bulan yang penuh barokah itu. Padahal makna dari semua kehidupan ini dari awal sampai akhir akan bermuara kepadaNya. Semua yang pernah diciptakan akan hancur lebur, dan tak pernah kesulitan untuk menghidupkan kembali. Saat itulah kehidupan abadi mahluk akan dimulai.

Ramadhan seperti kepompong.
Terselimuti dari dunia kebiasaan ketika masih menjadi ulat. Nafsu dapat diredam dengan curahan rahmat. Syahwat dapat terganti dengan cucuran air mata taubat. Dalam cangkang Ramadhan semua do’a-do’a terkabulkan tanpa perantara. Ketika waktunya tiba, kepompong Ramadhan akan berubah menjadi kupu keshalihan. Saat keluarnya bewarna indah menyejukan mata. Keshalihannya menghiasi setiap hati manusia untuk bekal kehidupan sebelas bulan berikutnya.

Semoga dalam setiap kedatangannya kita selalu dapat berusaha untuk mendapatkan curahan rahmat Ramadhan suci ini. Agar kita tak masuk dalam golongan orang merugi yang hanya mendapat lapar dan dahaga di tiap Ramadhannya,,

Ramadhan Mubarok 1432 H

Narkoba Tak Butuh Seremonial,,,

Kelihatannya Presiden Indonesia mulai kehabisan akal untuk mencari cara agar narkoba bisa hilang tak lagi menjerat pemuda sebagai asset bangsa. Angka yang dikeluarkan BNN membuat merinding siapa saja sebenarnya yang setia menjadi pengguna dari zat hasil karya manusia ini. Yang muncul dipermukaan media hanya sedikit saja semisal penggagalan di bea dan  cukai dan sebatas bandar besar yang sudah punya nama. Tapi coba lihat yang belum sempat atau sengaja tak terdata oleh pemerintah karena masih ditutup rapat atas alasan harga diri bangsa.

Aparat terkesan tanggung atau mengikuti mood saja hingga sama seperti orang yang sedang menggigil sakaw minta serbuk putih atau kristal sama saja. Semua tau kalo bisnis narkoba adalah ladang emasnya dunia. Tinggal siapa yang pandai mencari untung dan siapa yang bodoh menjadi pelanggan setianya. Untuk ukuran dunia Indonesia adalah negara tersubur untuk peredaran dan produksi juga terdungu karena membiarkan rakyatnya terlena oleh buaian narkoba.

Bukan hanya dari bulan sabit emas atau segi tiga asia saja tetapi para rakyatnya sendiri yang membuka peluang besar untuk mengolah narkoba sebagai komoditi dalam negeri. Perputaran keuntungannya bisa menutup semua mulut, mata, juga telinga bahkan sampai ke meja jaksa. Penjara menjadi tempat ternyaman dan aman untuk berpesta siapa yang berani mengusik nyawa yang akan jadi taruhannya.

Coba bayangkan apabila Presiden nya, Mentri nya, MPR nya, DPR nya, DPRD nya, Gubernur nya, Walikota nya, Bupati nya, Polri nya, TNI nya, Camat nya, Lurah nya, Mahasiswa nya dan Rakyat nya sadar sesadar-sadarnya akan bahaya dan dampak dari narkoba terhadap masa depan Bangsa dan Negara. Bukan cuma itu semua lembaga dan jajaran dibawahnya dari Presiden sampai Rakyat WAJIB tes URIN BERSAMA…agar diketahui kandungan dan kadar jenis Narkoba apa saja yang masuk dalam tubuh kita.

Setelah semua itu berhasil dilakukan tinggal meunggu ketegasan dari penguasa. Akan diapakan hasil dari tes urin tersebut yang diketahui positif menggunakan narkoba dari orang-orang yang berada disetiap jajarannya. Tentunya jangan sampai jadi pekerjaan yang sia-sia pastinya.

Dengan begitu akan terbuka dan ditemukan cara serta solusi untuk menghentikan produksi dan peredaran narkoba karena telah didapatkan siapa saja pengguna setianya dari Presiden hingga Mentri, dari  Jendral hingga Kopral, dari Eksekutif hingga Yudikatif, dari Mahasiswa hingga Rakyatnya. Semua itu bukan lagi sekedar Seremonial belaka.

Pemimpin bernyali besarlah yang hanya bisa melakukan ini semua juga para raja-raja lokal hasil dari otonomi yang harus memulainya juga. Tanpa kesadaran dari orang yang hanya bisa memerintah mustahil narkoba bisa dihentikan peredarannya apalagi menyadarkan para pengguna.

Kini sudah tak berguna lagi meneteskan air mata. Kini sudah tak berguna lagi sesal dihati. Angka korban dan pebisnis gila akan makin terus bertambah. Yang harus ada hanyalah tekad yang berakar kuat. Yang bisa cepat dilakukan adalah teriakan tobat dari yang masih sekarat. Yang masi bisa dilakukan adalah pakai otak untuk berfikir dan bentengi diri serta keluarga dengan keimanan dan pengetahuan. Karena Narkoba adalah karya manusia tanpa makna yang hanya akan merusak ketentraman jiwa, keluarga bahkan Negara dan semuanya itu adalah ulah dari tangan manusia.

Bersegeralah…Bersegeralah… Bersegeralah… !!!

Izzah Yang Tergadaikan,,,

Izzah atau harga diri adalah kehormatan yang mesti selalu dijaga apa lagi sebagai seorang muslim. Dengan kata lain kehormatan diri seseorang atas dasar keimanan adalah mutlak. Tetapi apakah setiap muslim menyadari tentang kehormatan dirinya diluar dari sosok manusia biasa. Disadari atau tidak hal ini tidak dapat dipisahkan dari diri seseorang. Berani lantang untuk kebenaran karena memiliki kebanggan sebagai seorang muslim adalah keyakinan.

Dinegri ini sebagai negara berpenduduk muslim terbesar didunia semestinya harga diri bangsa ini akan jadi perhitungan oleh bangsa lain. Tetapi kenyataan jauh dari harapan malah kini ditayangkan sebagai suguhan tiap pasang mata yang menggambarkan harga diri bangsa ini terkesan lucu berjudul Islam KTP . Apakah memang seperti itu kehidupan ummat muslim di negeri beribu pulau kaya yang pernah jadi rebutan bangsa-bangsa didunia karena berlimpahnya harta rempah dalam tanahnya.

Pemimpin berambut klimis bergaya parlente bermobil mewah sebagai wakil rakyat pun masih malu-malu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim sejati. Takut dianggap radikal apalagi dinegeri ini masih phobia dengan keIslaman seseorang yang kaffah karena takut dianggap teroris. Tak pelak lagi suasana dan iklim politikpun akan sangat pragmatis menjadikan ideologi sebagai komoditi. Kini jangan berharap lagi wahyu Tuhan akan turun untuk membela rakyat tetapi hanya untuk kepentingan si kuat.

Hasilnya manusia dinegri ini dari presiden hingga pengamen tak memperhitungankan lagi nilai luhur budi pada kehidupannya. Semua telah berubah menjadi dominan keinginan pribadi dan kekuasaan seperti hukum ditengah hutan. Walau konteksnya agak sedikit berbeda antara Presiden dan Pengamen walau dilihat dari skala kebutuhan. Akhirnya bukan salah Tuhan bila negeri ini sarat dengan cobaan yang tak henti padam bahkan mungkin tinggal menunggu hari eksekusi yang tak pernah tahu kapan akan datang untuk menerjang.

Penyebab terbesar adalah keyakinan yang berangsur pudar tak terwarisi pada kader bangsa dengan benar semenjak negara ini berdiri. Selanjutnya rasa syukur yang entah hilang kemana dari sekian banyak bait do’a-do’a di hati rakyatnya. Pemimpinnya tak berani mengajak rakyatnya untuk bersama-sama masuk surga. Malah dengan sengaja menggiring rakyatnya masuk kejurang neraka. Wakil rakyatnya pun mandul untuk lantang bersikap agar tak mudah terpedaya. Para pemudanya dibawa terbang ke awang-awang oleh jeratan narkoba.

Sampai kini tiap detiknya masih ada bayi suci yang lahir dari rahim pertiwi. Dan pada detik yang sama ada pula manusia yang mati terkubur ditanah loh jinawi . Ternyata Tuhan masih mau mengurus model manusia Indonesia. Dan ternyata Tuhan tak pernah repot untuk mengatur semua mahluk-mahluk ciptaannya. Generasi baru akan datang menggantikan yang telah usang. Yang hanya berpedoman pada keyakinan dari Yang Maha benar. Berani bertaruh nyawa agar Izzah tak kembali tergadaikan demi kemuliaan Islam.

Idealisme,, Loyalitas,, dan Fasilitas…

Menjaga kepercayaan adalah hal yang sederhana tetapi sarat ujian untuk menjalankannya. Kepercayaan itu tidak datang dengan sendirinya harus melalui sebuah proses sampai dapat dinyatakan orang tersebut layak untuk dipercaya. Banyak cara untuk membuktikan kepercayaan bahkan sampai diuji dengan banyak hal apakah orang itu bisa dipercaya atau tidak. Apalagi untuk orang-orang yang berada diposisi sebagai penentu kebijakan.

Ada yang lebih sederhana lagi ambil lah contoh sepasang suami dan istri. Apa jadinya bila krisis kepercayaan menjadi dilema yang tak terselesaikan dalam sebuah keluarga. Suami tak percaya pada istrinya dan begitu sebaliknya, malah mungkin ada antara anak dengan orang tua juga sebaliknya. Dapat dipastikan negara kecil bernama keluarga ini tak akan mendapatkan suasana harmonis apalagi romantis.

Ada juga sebagian orang memakai cara untuk menanamkan kepercayaan atau membeli kepercayaan dengan memberikan fasilitas. Dan berharap agar orang tersebut dapat menunjukan loyalitas kepada si pemberi fasilitas. Ini sering kita sebut sebagai loyalitas balas budi. Tetapi ternyata itu semua tidak menjamin seseorang menjadi loyal malah justru berbalik kadang menjadi pengkhianat.

Lalu apakah loyalitas itu dapat dibeli dari diri seseorang..? Ataukah mengharap kepercayaan juga bisa dipaksakan..? Jawaban saya tidak,..! Tentu ini hanya untuk orang-orang yang mempunyai kekuatan idealisme dan tidak termasuk untuk orang-orang bersifat sengkuni sesaat apalagi berkepanjangan hingga sulit ketika ingin melepaskan.

Kekuatan idealisme ini menjadi dasar yang sangat penting agar terhindar dari orang-orang yang biasa membeli kepercayaan dan kejujuran dari seseorang. Tanpa idealisme manusia seperti boneka yang tak memiliki ruh dalam bersikap, mudah terbaca dan sangat lemah pendirian. Lalu siapakah manusia yang memiliki idealisme seperti ini..? Apakah semua manusia memiliki idealisme..? Apa juga untungnya memiliki idealisme..?

Fitrah manusia adalah idealisme itu sendiri. Murni tanpa campuran, yang dikaruniakan Alloh pada setiap hamba ciptaanNya. Belum terkotori oleh kepentingan akal dan kebutuhan hati manusia untuk menjalankan perannya. Dia akan selalu menjadi radar hati untuk mendeteksi dengan mudah sinyal kebaikan dan keburukan yang sedang atau yang akan dihadapi. Kesuciannya harus tetap dijaga dan ketajamannya selalu perlu di asah. Berarti menjaga kemurnian idealisme adalah menjaga kesucian diri dan mempertahankannya adalah perjuangan mulia.

Hidup Berkeluarga itu Petualangan Sesungguhnya…

Begitu mengasikan memang bila kita punya hoby berpetualang dialam bebas menikmati indahnya semesta kebesaran ciptaanNya. Gunung yang menjulang tinggi dengan udara bersih dipadu langit jingga ketika mentari mulai menampakan wajah. Laut yang dalam dengan pesonanya yang luar biasa mengundang decak kagum manusia didunia untuk menyelaminya. Semua itu diciptakan memang untuk manusia agar kita berfikir bahwa semuanya itu tidak ada yang sia-sia. Manusia itu sendiri hanya diminta untuk memanfaatkan, menjaga dan melestarikannya agar keseimbangan alam ini tetap ada.

Tetapi semuanya itu hanyalah kepuasan semu tanpa makna ketika kita menganggap pesona alam itu hanya untuk sekedar dinikmati. Padahal jagat raya ini begitu luas dan yang kita lihat dibumi ini hanya bagian kecil saja dari karya besar ciptaanNya. Lalu apa yang dapat kita petik dari semua keindahan yang pernah kita jelajahi. Bertambahkah keimanan kita tentang konsep penciptaan alam itu sendiri. Atau kita tanpa sadar beranggapan bangga dengan sedikit sombong telah berhasil menaklukkan alam. Padahal alam diciptakan bukan untuk ditaklukan melainkan kita tafakuri. Dengan begitu kita menjadi bijaksana dan mesti bersyukur ketika berkesempatan berada dirapatnya belantara, terjalnya tebing, gelapnya samudra juga saat berada di atas kaki langit.

Ada satu hal yang jarang sekali disadari bahwa menjalani kehidupan itu adalah sebuah petualangan. Petualangan yang sangat panjang karena bukan saja didunia tetapi akhir petualangan sesungguhnya adalah kehidupan setelah kematian. Semua perbekalan yang tak pernah cukup untuk menuju akhir dari perjalanan.

Kita menyadari alam ini terlalu luas, bahkan sangat luas oleh karenanya kita tak dapat mengarungi seorang diri. Kita perlu pendamping untuk menjadi teman sejati mengarungi petualangan hidup ini. Karena bukan menggunakan kompas biasa untuk menentukan arah dan tujuan. Jalurnya terbuka lebar untuk dilewati tinggal kita yang memilih akan menempuh jalan yang mana. Semua jalur tentang pilihan hidup ada konsekuensinya dan setiap pilihan itu bagian dari tanggung jawab.

Pilihan berkeluarga adalah pilihan yang tepat untuk bersama-sama mengarungi samudra hidup. Sesekali menikmati indahnya kehidupan dunia tak salah agar tak mudah lelah. Kerasnya hidup bagian dari tantangan petualangan sesungguhnya. Sementara halang rintangnya juga terlihat tak biasa seperti saat berada di hutan belantara atau di gelapnya samudra.

Tetapi itu semua akan terasa indah bila jiwa petualangan kita menyatu dalam meniti kehidupan ini bersama-sama. Karena keluarga adalah sebuah tim yang sedang mencoba menapaki perjalanan panjang menuju puncak kehidupan dan kehidupan berkeluarga adalah petualangan sesungguhnya.

Berbagi dan Saling Menjaga…

Adalah kebahagiaan… yang umum di cita-citakan oleh setiap keluarga dalam menjalani hidup dengan orang yang dikasihinya. Sangatlah lumrah ketika pasangan hidup mulai menjalani perannya dalam keluarga dilengkapi dengan datangnya anak sebagai pelengkap kebahagiaan. Namun tidaklah mudah untuk menghadirkan kebahagiaan itu tanpa kita sendiri yang menciptakannya.
Karena kebahagiaan hanyalah dapat dirasakan oleh hati bukan dari apa yang sudah didapat dengan mencari sumber kebahagiaan yang bukan esensi.

Sebagai contoh sebuah keluarga yang dari sisi ekonomi sangat-sangat cukup walau bagi saya justru berlebih. Dengan kedua suami istri berkarir dengan pendapatan yang lebih dari memadai, rumah megah, kendaraan mewah, anak sekolah dikelas dunia, seharusnya untuk ukuran hidup keluiarga seperti ini bisa disebut bahagia.

Namun ternyata suasana hidup seperti ini tak lagi modern untuk ukuran orang tua yang ingin mendidik anaknya mempunyai mental alamiah bukan dari kemudahan orangtuanya  untuk bisa hidup. Berbagai kasus yang sering kita dengar karena sibuknya orangtua diluar rumah hak anak untuk mendapat perhatian kasih sayang jadi sirna. Yang terjadi malah konflik internal keluarga yang sering berujung perceraian atau mengorbankan keegoisan salahsatu orangtua siapa dirumah siapa yang bekerja.

Ironis memang, ternyata kebahagiaan hidup yang didambakan oleh setiap anak itu sama, yaitu pendampingan orangtua yang ada disaat-saat anak membutuhkan keberadaan orangtuanya. Lalu kebahagiaan seperti apa yang diinginkan oleh setiap orangtua.

Ternyata kebahagiaan yang didambakan oleh setiap orangtua hanya bernilai materi dan status sosial untuk persaingan hidup dihadapan manusia. Mereka beranggapan bahwa kebahagiaan itu akan tercipta dengan sendirinya apabila semua kebutuhan untuk rumahtangga sudah terpenuhi, dari pekarangan rumah sampai dapur, dari lantai 1 sampai lantai 2.

Apakah untuk meraih kebahagiaan dalam hidup itu memerlukan persaingan, lalu siapa yang menciptakan persaiangan ini, atau malah kita sendiri yang menciptakan padahal anak-anak kita tak butuh itu semua. Yang dibutuhkan adalah perhatian kedua orangtuanya sesuai dengan kebutuhan demi perkembangan untuk mental dan jiwa si anak.

Sekarang apakah sebuah keluarga miskin dapat dikatakan bahwa keluarga itu tidak bahagia. Belum tentu, tinggal bagaimana keluarga ini dapat melihat bahwa kebahagiaan hidup itu tidak selalu datang oleh kemudahan materi. Malah justru pendidikan hidup dari keluarga seperti ini yang menjadikan anak-anaknya kuat dan keinginan bekerja kerasnya sangatlah nampak. Kebersamaan dengan segala kondisi yang dihadapi membuat jiwa terasa bersemangat karena kebahagiaan bagi mereka bukan kewajiban orangtua untuk menciptakan, tetapi semua bagian keluarga juga turut serta dengan selalu mensyukuri segala yang ada.

Jadi kebahagian itu tidak dapat diukur oleh kecukupan materi, dan kebahagiaan itu tidak datang sendiri. Kebahagiaan juga tidak dapat dipaksakan karena kebahagiaan adalah buah dari kesabaran. Kebahagiaan juga bukan kewajiban yang disalah artikan, kebahagiaan justru dapat diciptakan ketika saling berbagi dan saling menjaga mulai menjadi kebutuhan didalam keluarga itu sendiri.

Yang terpenting adalah anugerah kebahagiaan didunia ini dapat kita syukuri serta menjadikan ladang kebaikan bagi keluarga kita untuk meraih harapan besar demi kebahagiaan yang hakiki bersama-sama orang yang kita cintai.

Cita-Cita Bukan Sekedar Kiasan…

” Nak… berhentilah jangan sekolah bapakmu sudah tak kerja…Nak…jangan menangis memang begini keadaannya… Akibat jatah..ditoko-toko dan diparkiran… sudah bukan milik bapak lagi…”

Potongan bait syair dari lagu berjudul “Senandung Istri  Bromocorah” di album KPJ  ini adalah potret nyata ketidak berdayaan orangtua untuk memberikan hak mendapatkan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. Tetapi kita tak bisa menyalahkan orangtua secara sepihak, karena memang dinegri ini untuk anak menjadi pintar itu hanya akan didapat dibangku sekolah dan semuanya tidak bisa dicapai cuma-cuma alias bayar.

Kita pernah mengalami sebuah pertanyaan yang kita anggap biasa sewaktu kita kecil, nak cita-citamu kalo sudah besar mau jadi apa. Atau kita masih hapal ungkapan gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jadi apakah cita-cita itu hanya untuk anak-anak yang lahir dari keluarga mampu, sedangkan cita-cita yang keluar dari lidah anak jelata hanya dianggap sebagai mimpi yang tak pasti. Kini semua hanya tinggal sekedar untaian kata penghibur  si anak dihadapan orang tua.

Namun seberapa dalam cita-cita itu mempengaruhi untuk seorang anak menjalani proses hidupnya sembari menggapai cita-citanya. Apa bila berhasil dengan cita-citanya apakah si anak bahagia atau cukup orangtuanya saja yang bangga. Tetapi apabila tidak tercapainya cita-cita si anak apakah si anak harus berduka atau orangtuanya yang malah murka. Karena cita-cita itu adalah keinginan bawah sadar yang hadir ketika seorang anak itu ada di fase merekam apa yang didengar dan dilihat, bukan dari pengaruh keinginan sosok diluar diri seorang anak.

Selanjutnya bagaimana caranya agar cita-cita seorang anak itu dapat tercapai, apakah ketika anak tumbuh dewasa tak ada perubahan untuk cita-cita nya yang ditanam sejak kecil. Ternyata dikenyataannya banyak manusia yang merasa terbelenggu dengan cita-citanya sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi cita-cita seorang anak saat tumbuh menjadi dewasa terutama lingkungan keluarga dan  sosial yang membentuknya. Sehingga cita-cita itu dapat berubah bahkan hilang dengan sendirinya. Coba saja ingat-ingat kembali apa yang menjadi cita-cita kita saat kecil dan bandingkan dengan kenyataan sekarang tanpa menghilangkan proses tumbuh kembangnya diri kita.

Dari semuanya itu ada pesan cita-cita yang dapat ditawarkan sejak kecil dan tak akan berubah sampai seorang anak itu tumbuh menjadi dewasa sekaligus menjadi barometer diri si anak ketika mengalami fase perubahan diri dan cita-cita ini tak akan didapat pada disiplin ilmu apapun pada bangku sekolah tingkat manapun.

Untuk anakku,,,
Cita-cita itu adalah berusaha menjadi manusia yang dapat memberikan manfaat kebaikan untuk sesamanya demi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri sesuai dengan kodrat yang telah di tetapkan oleh Sang Pencipta agar dapat menjaga dan merawat  keseimbangan yang telah diberikan-Nya bagi manusia…

Eyang Kakung Sakit,,

Ayah’s FB Stat,,

ku yakin dan percaya waktu didunia ini terbatas…dan keyakinanku juga bahwa ada waktu yang tak ada batas…bila memang disini tak cukup waktu untuk dapat mencium tangan mu…kuharap disana nanti kau akan kembali bercerita untuk diriku…do’aku selalu ada untukmu dalam setiap sujudku…

 

Do’a Kami di Nadimu…

Ku tau dirimu pastikan bertanya mengapa diriku begitu mencinta…

Ku tau dirimu kadang merasa betapaku akan terus menjaga…

Ku tau dirimu kadang menyepi maka tak kubiarkan kau sendiri…

Kini kau akan mencoba mencari tau mengapa aku begitu…dan selalu begitu…

Semua itu karena sayangku padamu walau kau pernah merasa ragu…

Ku tak akan memaksamu untuk percaya padaku..karena ku tak mau kau merasa terbelenggu…

Apa adanya saja semua yang kau dan aku rasa…walau tanpa penyedap rasa untuk mencari bahagia…

Sudah saatnya ku berkata… untuk kau tinju sombongnya dunia…

Agar tak ada lagi asa yang akan membawa kita pada jurang nista…

Kupercaya padamu karena kau belahan jiwaku…

Kalau boleh ku berharap jangan ada keraguan pada dirimu…

Karena ku yakin do’aku selalu ada di nadimu…

Dari Ayah untuk Azzam 21 Maret  2011

Fitrah anak itu bebas seperti luasnya dunia…

Acara di trans 7 setiap hari siangnya menjadi suguhan yang menggambarkan betapa indahnya dunia masa anak-anak itu bebas bercengkrama dengan alam di sekitarnya,,ya Si Bolang,,itulah acara favorit si Azzam.

Tema yang dihadirkan begitu beragam yang menjadikan tokoh pada acara tersebut seolah kuat sejak dini karena langsung dididik oleh alam, jarang sekali terlihat peran orang tua disana walau konsep awalnya memang dikhususkan untuk mewariskan budaya bermain ala anak indonesia yang sebenarnya kini sangat jauh berbeda pada kenyataan.

Dunia anak memang dunia kesukaan dan kesenangan, Azzam sendiri banyak belajar dari acaranya Si Bolang apa saja yang menjadi tema cerita di perhatikannya sambil mengikuti gaya khas memakai topi dan membawa tas ransel kecilnya.. Sambil membawa apa saja yang menjadi alat bantu permainannya “Ayah..Bunda aku mau seperti Si Bolang boleh ngga…?

Itulah permintaan Azzam pada kami agar dia diizinkan main ala si Bolang walau ketika didalam rumah, tetapi ketika diluar rumah Azzam disuguhkan dengan “dunia “Si Bolang sebenarnya seperti anak-anank seusianya yang tak lagi dapat menikmati masa bermainnya hanya menunggu dan berkumpul disetiap perempatan lampu merah.

” Ayah..Bunda..anak-anak itu lagi apa,,lagi bermain juga sama seperti Si Bolang…??”
Itulah pertanyaan Azzam bila melihat teman sebaya nya dimana saja yang dilihatnya, dan kami menjawab anak-anak yang ada diperempatan lampu merah tadi sama seperti Si bolang, tapi mereka bukan sedang bermain tapi sedang mencari uang.

Ternyata jawaban kami itu tak menjadikan Azzam puas dia kembali bertanya..
” Aku boleh ga ikut mencari uang untuk aku tabung sendiri…biar aku bisa beli mainan pake uang ku sendiri…”

Mendengar pertanyan Azzam iku kami berkata.. “boleh..” sambil terus melaju dan bercengkrama kadang bercerita di atas kendaraan setia roda dua guna mengajarkan Azzam untuk melihat dunia sesungguhnya yang banyak terlihat dan terekam oleh matanya.

Kami memang orang tua biasa yang sedang  mencari cara yang tidak biasa dalam mencoba untuk akrab dengan Azzam dengan cara yang tidak biasa pula, yang penting  jiwanya dapat terhibur sambil menumbuhkan ketegaran pada hatinya yang mungkin akan diingat kelak saat Azzam tumbuh menjadi dewasa.

Kami ingin jiwa Azzam lepas dari “belenggu” keinginan orangtuanya, tanpa memaksa anak itu harus pintar, pandai, atau dipaksa untuk menguasai bidang tertentu. Kami hanya ingin Azzam itu kuat dan berhati lembut, dan membebaskan Azzam untuk mencoba mencari tahu apa yang dia mau kami hanya memfasiltasinya saja sambil berada dekatnya untuk menjawab semua pertanyaaan tentang penasarannya terhadap sesuatu.

Azzam kami bolehkan belajar apa saja tanpa dipaksa, dengan memberi sedikit stimulan agar dia sadar bahwa belajar itu akan bermanfaat untuk dirinya sendiri bukan untuk ayah bundanya.

Dan Azzam bebas memilih jam biologisnya sendiri juga tanpa dipaksa, sambil kembali menjelaskan semua yang akan dilakukan demi kebaikan nya sendiri, sebagai contoh ketika Azzam tak mau mandi kami hanya menjelaskan bahwa kulit kita itu mengeluarkan keringat dan keringat itu ada bakterinya yang bisa bikin kulit kita gatal apa lagi kalo Azzam habis bermian, kami bebaskan dia untuk berfikir dan memakai akal kecilnya sehingga dia sadar bahwa mandi itu adalah kebutuhan untuk badannya bukan karena paksaan ayah bundanya.

Cara ini pun berlaku untuk aktifitas lain nya seperti sholat, yang kami tanamkan bila kita ingin disayang Alloh kita perlu berdo’a dan Alloh itu suka kalo diminta. Sampai terkadang sering kami dengar permintaan do’a Azzam lebih banyak dari kami saat dia selesai melaksanakan sholat, sambil disebutkan dan mengangkat kedua tangan kecilnya untuk meminta segala jenis mainan, makanan, ingin kesana ingin kesini dan apa saja yang menjadi keinginan dikepalanya, walau diujung do’anya menjadikan hati kami terhibur oleh bait do’a untuk kedua orangtuanya.Bolang Kangguru

Dengan cara tersebut kami ingin mengajarkan pada Azzam konsep meminta dan bersyukur lewat berdo’a, karena tidak semua keinginannya mesti kami kabulkan sebelum dia berdo’a agar dia sadar bahwa rizki itu ada yang memberi dan kembali mengucap syukur dengan berterimakasih atas apa yang telah diberi untuk dirinya.

Beginilah kami, orangtua yang sedang belajar untuk menjadi orangtua, agar Azzam dapat mengerti kelak ketika dia diamanahkan kesempatan untuk menjadi orangtua seperti kami yang juga dapat belajar demi keluarganya sendiri.

Untuk Azzam dari AyahBunda.

Kepantasan yang Tidak Biasa,,

Ketika anak manusia hadir kedunia selalu diawali dengan tangisan bahkan di “paksa” untuk menangis oleh dukun beranak, spesialis dokter atau bidan.

Orang tua yang begitu haru menyaksikan buah hati belahan jantungnya melewati perjalanan panjang selama sembilan bulan dalam dunia rahim.

Tetapi kebanyakan orang disekelilingnya dengan rasa suka, bahkan banyak yang senang sambil tertawa melihat sosok manusia mungil merah yang belum bisa membuka mata seperti tak berdaya.

Itulah perjalanan awal setiap anak manusia yang sudah dari sananya dikemas dengan cara dan ritual yang sama, sempurna atas kebesaranNya.

Namun ketika anak manusia tiba saat waktu yang diberikan olehNya telah tak tersisa, untuk kembali pulang menghadap pada Sang Pencipta suasananya aga sedikit berbeda.

Ia tak lagi bisa berkata-kata, malah orang disekitar kini berganti menangis kadang sambil meratap menyesali kepergiannya tanpa mengerti semua yang bernyawa pasti tiada.

Hari ini…
Tak akan pernah ada lilin yang ditiup, yang akan menjadi titik awal dan akhir agar si kecil nanti mengerti apa yang telah dipilih sebagai bukti janji pada yang Maha Suci.

Hari ini…
Tak ada kue tar berlapis coklat yang lezat sebagai penghias simbol berkelas yang tak pernah ditanyakan atau dipesan apakah mengandung rum atau memang sudah menjadi bias.

Seandainya pada zaman itu manusia sempurna akhlak ini mengajari kita, mungkin kue tar berganti dengan berbahan gandum yang sehat yang diatasnya  berhias ranumnya kurma bergelas isi putihnya susu domba..sehat dan lebih lezat.

Tapi jangan berharap manusia sempurna itu ikut meniup lilin yang hanya dilakukan  si majusi penyembah api, tak akan pernah terjadi sampai hari ini bahkan sampai selesai waktu dibumi.

Hari ini…
Tak ada nyanyian dan tepuk tangan yang hanya sekedar ingin mengikuti kebiasan yang tak jelas makna dan manfaat walau sering dihadiri oleh kerabat.

Hari ini…
Yang ada hanya Do’a…

Harapan untuk diberikan keberkahan pada sisa umur yang ada agar hanya kebaikan saja yang tercatat olehNya tanpa berdusta mengotorinya..

Hari ini…

Kiranya pantas untuk saatnya kini meminta hanya pada yang Maha Sempurna.

Yaa Alloh,,,

cabutlah satu keburukan pada diriku dan karuniakan satu kebaikan untuk diriku..(Aamiin)

Jum’at 11 Maret 1977-2011 Daisypath Happy Birthday tickers

“Gara-Gara Pak Bondan”

Siapa yang tak kenal bapak yang satu ini, seorang yang juga pernah menjadi “Journalist Investigator” yang jarang diketahui oleh khalayak. Setiap sabtu pagi ketika semua orang terbangun dan menggunakan hari liburnya untuk rehat, disuguhkan dengan tema kuliner yang dapat dilakukan sambil berwisata. “Pokok’e Maknyus” itulah slogan acara yang membawa pak bondan menjadi ikon disemua rumah dan tempat makan yang menyajikan berbagai hidangan yang bisa membuat perut kita keroncongan ingin ikut mencoba.

Sambil keliling kampung, kota, bahkan sampai keluar negeri hanya untuk dapat mencicipi kuliner khas daerah yang sedang dikunkungi. Acara ini adalah tontonan penghibur bagi keluarga kami. Saat anak kami si Azzam masi berusia 16 bulanan dia ternyata sudah cukup nalar untuk mencoba menikmati sajian yang ada di televisi yang ada tepat didepan tempat tidurnya, nyaris setiap sabtu pagi setelah bangun tidur  hiburannya ‘ngeliatin’ pak bondan makan.

Pada awalnya kami tidak terlalu memperhatikan tingkah polah si Azzam saat menyaksikan acara wisata kulinernya pak bondan. Mungkin karena terlalu sering melihat bermacam hidangan dan ekspresi pak bondan saat mencicipi makanan itulah si Azzam mulai terlihat ketertarikannya. Suatu pagi seperti biasa pas acara pak bondan sedang dimulai si Azzam tanpak sibuk ikut mengambil peralatan makanannya di dapur, memang sudah kami biasakan untuk ia belajar mengambil dan menaruh alat-alat makannya itu sendiri.

Tiba-tiba si Azzam menyodorkan mangkuk kesayangannya itu kedepan televisi saat pak bondan sedang menyantap hidangan, sambil sesekali mengaduk-ngaduk mangkuk kosongnya dengan sendok. Berulang kali si Azzam bergumam dan masih kurang fasih ia menempelkan mangkuk nya ke televi sambil bilang “Mau…”Mau…’Mau”… Kontan kami berdua terperangah sambil saling bertatapan muka dan tidak bisa menahan ketawa melihat si Azzam “minta” diajak makan bareng artis favoritnya dalam acara wisata kulinernya pak bondan.

Sejak kejadian itu kami selalu menyiapkan hidangan favorit ala keluarga kami yaitu “nasi goreng + martabak mie” untuk menjadi menu kami sambil menikmati sajian acara di sabtu pagi.  “Sesekali si Azzam terlihat menirukan gaya pak bondan dengan bahasa sebisanya sambil mulutnya terus lahap mengunyah masakan yang dibuat oleh ayah bundanya…”

Kini si Azzam tak pernah lagi memilih-milih makanan, apapun yang dihidangkan ayah bundanya selalu habis dimakan tanpa sisa ( jadi tidak mubazir ). Apapun menunya selalu berakhir “Pokok’e Maknyus”. Si Azzam jadi tertarik oleh berbagai macam masakan, kadang ia suka ikut terlibat pergulatan ayah bundanya didapur yang sedang bingung menentukan akan memilih menu apa untuk dihidangkan. Kami pun merasa sangat terbantu dengan acaranya pak bondan, si Azzam jadi doyan makan dan tidak bosan. Tinggal kami yang memilihkan makanan apa saja yang boleh dan sehat juga baik dan halal tentunya untuk ia santap.

Ternyata cukup sederhana menjadikan suasana dalam rumah kita menjadi lebih bermakna. Dengan kemasan seadanya suasana biasa jadi punya nilai apabila kita dapat menjadikan sesuatu apapun itu dengan penuh rasa suka cita. Kini kami masi tetap menjalankan “ritual” makan bersama dengan menu favorit tentunya, bukan hanya di sabtu pagi saja tetapi setiap hari, sungguh menyenangkan,,. Terimakasih Tuhan.

“Ayamnya Belon Laper”

Bang jali kebingungan bukan kepalang, lantaran ongkos  buat naek ojeg yang cuma selembar mendadak  ilang dari atas TV. Sementara si Udin, anak pertama bang jali yang lagi belajar, punya hobi masukin duit kecelengan ayam punyanye. Saking keasikannya celengan ayamya bisa dimasukin apaan aja, si Udin belon ngerti kalo  duit kertas yang ada di atas TV punya bapaknya juga ikut dimasukin.

“ Uuudinn…ngeliat duit bapak ga diatas TV…? Kate bang jali ke si Udin yang lagi asik maenan celengan ayam. “ Udah… udah aku kasi makan ke ayam aku…” jawab si Udin. “ Kan udah bapak bilang…”kasi makan ayamnye pake duit recean aje…” Bang jali nimpalin si Udin. “Iya..tadi ayamnya aku tanya dulu…” mau makan ga…? ” katanya…ayamnya belon laper…” Jawaban si Udin bikin bang jali kelimpungan sambil terus nyari akal biar bisa tetap berangkat sampe ketempat kerjaan.

Sekelumit cerita dan dialog diatas mungkin pernah kita temui, dan kebetulan kami pernah mengalami kisah yang mirip. Sebagian orangtua mungkin pernah mengajarkan untuk hidup hemat, karena hemat bukan sekedar pepatah yang bisa menjadikan kaya. Seorang anak itu sangat mudah sekali menirukan apa saja yang dilihat dan didengar dari orang-orang terdekatnya. Bila baik yang ia dengar ia akan menirukan kebaikan itu, atau baik yang ia lihat akan lahir kebaikan pula dari apa yang ia lihat atau kebaliknya justru yang dapat menimbulkan “petaka’ dalam rumah.

Karena kita sudah terlalu sering mendengar dan melihat dari mana saja baik tanyangan televisi ataupun di media. Para orangtua dengan sadar telah mewariskan kekerasan dan ketidakbaikan yang langsung direkam oleh seorang anak yang berada dekat dengan lingkungan keluarganya. Apa jadinya bila seorang anak sudah dipaparkan suasana yang tidak pas untuk ia rekam di zaman kekanakannya….?

” Perlindungan yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap anaknya adalah melebihi kokohnya sebuah benteng pertahanan, ia tak akan tembus oleh kekuatan apapun “

“Sampan Kecil Kami”

Bismillahirrohmannirrohim…

Rumah dan Tangga, dua suku kata yang apa bila dipisah mempunyai makna arti yang berbeda. Rumah adalah sebuah bentuk yang fungsinya sebagai tempat bernaung dari panas dan hujan, sedangkan Tangga adalah sebuah alat untuk membantu agar bisa mencapai tempat tertentu yang lebih tinggi. Tetapi apa bila dua suku kata ini di gabungkan menjadi lain lagi arti dan maknanya. Rumah tangga diartikan seperti mencerminkan sebuah komunitas kecil yang terdiri dari manusia-manusia yang diawali oleh perasaan cinta lalu diikat oleh sebuah ikatan hati juga percampuran darah yang disebut keluarga. Di dalam Rumah tangga terbagi fungsi dari masing-masing anggotanya, ada Ayah, Ibu, dan anggota terkecilnya adalah Anak.

Seorang ayah akan menjadi “nahkoda” dalam mengarahkan kemana ‘sampan kecil ‘ ini akan berlayar dan menentukan tempat untuk berlabuh. Seorang ibu akan menjadi pendamping yang akan mengimbangi sang nahkoda dalam menentukan arah dan tujuan, dan sang anak menjadi penumpang setia yang akan selalu ikut serta kemana saja ‘sampan kecil ‘ ini berlayar tanpa perlu menanyakan kemana dan kapan akan berlabuh. Rumah tangga, ‘sampan kecil’, Ayah, Ibu, Anak, Nahkoda, Arah tujuan, Berlayar, Berlabuh, semua itu hanya contoh kecil nama lain dari keluarga dan kita semua pernah berada di posisi yang sama pada zaman dan waktu yang berbeda tentunya.

Perjalanan sebuah keluarga tidak semuanya berjalan sesuai rencana, karena ada faktor-faktor yang berada diluar kekuasaan manusia, juga bisa jadi karena perbedaan antara penentu kebijakan didalam keluarga itu sendiri. Sebelumnya seorang ayah sebagai kepala keluarga bebas menentukan arah untuk membawa ‘sampan kecilnya’ berlayar. Sedangkan seorang ibu bebas tidak dipaksa akan mendampingi ‘nahkoda’ atau memilih sebagai penumpang. Sementara seorang anak bebas untuk menikmati perjalanannya atau memilih sambil banyak bertanya kepada ‘sang nahkoda’ tentang arah tujuan ‘sampan kecil’ yang sedang dikendalikannya.

Uraian kisah diatas belum ditambah datangnya rintangan dalam perjalanan ‘sampan kecil’ tadi seperti,  angin, badai, ombak, kain layar yang sobek, tak ada kompas, lantai sampan yang bocor, dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi juga dapat ditemui. Lalu bagaimana seorang ayah, ibu dan anak menghadapi segala rintangan yang pasti datang menerpa ‘sampan kecilnya’ agar tidak karam,,,? Kita semua pasti punya cara dan jawaban sendiri bila kita berada pada kondisi dan posisi seperti diatas, tentu cara kami juga akan berbeda bila kondisi tersebut sedang menerpa ‘sampan kecil’ kami.

Semua yang telah menjadi bagian dari komunitas kecil dalam keluarga tadi hendaknya sudah saling mengenal satu sama lain. Seorang suami kenal betul siapa yang menjadi istrinya, seorang ayah akan mengenali siapa anaknya, tentu bukan sekedar kenal secara fisik tetapi mengenal lebih dalam apa yang menjadi karakter dasar dari anggota komunitas kecil ini. Ketika semua sudah belajar saling mengenal, bisa dipastikan kepercayaan itu akan timbul dengan sendirinya, tinggal bagaimana kita bisa pandai merawat kepercayaan yang ada pada masing-masing anggota keluarga.

Pastinya kita yang lebih tau kelebihan dan kekurangan anggota keluarga kita, kita juga yang lebih tau akan memberikan pendidikan seperti apa pada anak-anak kita, dan kita yang lebih tau akan dibentuk seperti apa keluarga kita, bukan orang lain…! Oleh karena itu kami sekarang sedang dalam fase belajar untuk menjadi orangtua. Belajar mengenali dan memahami fungsi kami sebagai manusia dewasa yang juga sekaligussebagai orangtua.

Belajar bukan hanya hak untuk anak semata tetapi kami juga membutuhkan pembelajaran untuk menjadi orangtua yang dapat menjadikan anak-anaknya bahagia secara lahir dan batin tanpa memaksa akan dibentuk seperti apa asset masa depan keluarga kami ini. Karena kami pernah ada dalam kisah yang lewat menjadi seorang anak dan memiliki orangtua, kini giliran kami yang ada pada posisi itu, dan ternyata tidak mudah untuk kami menjalankan peran sebagai orangtua.

Akhirnya penutup coretan kisah ini, do’akan kami agar kami dapat terus belajar dan terus belajar bersama-sama keluarga kecil kami tentang apa saja, dimana saja dengan sadar agar dapat bernilai manfaat setidaknya untuk anak-anak kami juga sebagai pertanggung jawaban kami di hadapan “Sang Pencipta”, dan kami sebagai orangtua yang baru belajar ini memohon do’a kelak anak-anak kami juga dapat belajar menjalankan perannya pada zaman yang pasti berbeda sebagai orangtua untuk keluarganya sendiri suatu saat nanti.

Banjarmasin 26 Februari 2011

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: