Tayangan acara “Suamiku Hebat” disalah satu stasiun TV swasta mungkin sebagian kita pernah melihatnya. Dari judul program acaranya diperlihatkan kepada pemirsa betapa repotnya para suami diberikan tugas dalam beberapa jam untuk menyusun jadual bersama anak-anak dirumah. Sedangkan si isteri diberikan waktu yang bersamaan untuk membuat jadual kebutuhan diri diluar kegiatan rutin mengurus rumah dan anak-anak.

Jadilah acara ini sebuah tayangan yang sedikit unik karena kebiasaan orang banyak mengurus anak dan rumah hanya dilakukan para isteri. Namun ketika isteri meninggalkan rutinitas rumahan  lalu dihibur dengan pergi untuk rehat sejenak seperti ke salon, shoping, makan diretoran, perawatan wajah dan lainnya nampak sekali kesegaran diwajah isteri seperti terbebas dari kewajiban.

Disisi lain dalam acara tersebut si suami seakan “terhukum”dengan menggantikan tugas isteri mengurus rumah dan anak-anaknya, mulai dari menyiapkan sarapan, main bersama, belajar bersama bahkan mengurusi hal-hal yang belum lazim dilakukan oleh sebagian suami.

Terlihat jelas ketimpangan dalam sebuah keluarga dalam acara ini. Tampak jelas para suami tak berdaya, pasalnya kebanyakan suami hanya merasa wajib mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak dan isteri.

Sedangkan isteri harus merasa rela mengerjakan semua tugas rumahan dari mengurus suami dan anak-anak, wajar banyak keluarga yang memakai jasa pembantu karena hanya urusan ini.

Kesibukan suami diluar rumah dengan alasan umum mencari nafkah pergi dari pagi pulang hingga malam hari, hal ini tentu akan melahirkan konsekwensi yang harus diterima oleh para isteri, sehingga nyaris semua interaksi dengan anak-anak lebih didominasi dari si Ibu.

Itu juga akan dilengkapi bila para suami punya kebiasaan diwaktu libur bekerja justru memilih melakukan kegiatan untuk rehat tidak bersama keluarga, seperti berkumpul dengan beragam komunitas yang hanya dilakukan kaum laki-laki.

Akhirnya anak-anak dirumah mendapatkan perhatian yang lengkap ketimpangannnya, bagaimana bila kedua orangtuanya juga sibuk mencari nafkah dengan sama-sama bekerja.

Jadilah anak-anak akan merasa kurang perhatiannya. Kasih sayang orangtua digantikan dengan hiburan TV atau main game saja. Berselancar di dunia maya yang tanpa batas menjadi sahabat, karena tak ada sekat informasi untuk kepantasan usia. Bila sudah begini akan dibawa kemana keluarga ini..?

Paparan diatas bukan sekedar acara hiburan semata, walau pelakunya adalah publik figur yang kerjanya memang untuk menghibur. Tetapi ada sudut pandang lain yang jelas dapat ditangkap untuk menyadarkan kita para orangtua. Agar kita senantisa menjalin komunikasi dan kerjasama antara suami dan isteri dalam menjalankan perannya sebagai orangtua bagi anak-anaknya.

Tidak akan berkurang derajat seorang suami sekaligus imam bagi istri dan anak-anaknya, ketika melakukan hal-hal yang biasa dikerjakan oleh istrinya seperti memasak, mencuci pakaian, menyapu halaman, memandikan anak, membasuh pupnya, bercengkrama dengan anak-anak, mengajarkan baca tulis dan lain sebagainya.

Bukankah Rasul salallohu ‘alaihi wasalam juga dengan senang hati mau melakukan pekerjaannya sendiri seperti menjahit terompahnya yang mulai usang, atau jubahnya yang sobek, mencari kayu bakar untuk memasak, bersenda gurau dengan istrinya, bercengkrama dengan cucu nya dan membawa serta sholat berjamaah ke mesjid dan itu tidak mengurangi kehormatan nya sebagai Kepala Negara pun sebagai panglima di medan perang,,,