Ada yang sedang ayah dan bunda pelajari beberapa pekan terakhir ini,,

Azzam kelihatannya suka ber rahasia rahasiaan,,  beberapa kali bunda lihat ada mainan Azzam rusak, Azzam ngga bilang atau minta bantu ayah dan hanya mencoba memperbaiki sendiri,, atau bunda lihat Azzam bereksperimen memutar mutar pinsil warnanya di truk kayu besar dan akhirnya pensil warnanya patah 1/3 bagiannya,,  bunda coba tanya apa ada yang bunda bisa bantu ketika bunda tau maiannya rusak,, pertama tama Azzam diam sampai akhirnya Azzam mau juga bercerita (karena Azzam memang tidak membuang atau menyembunyikan bagian yang rusaknya),, Begitu juga waktu bunda temukan patahan pinsil ditempat pinsil Azzam,, bunda tanya kapan pensil ini patah dan kenapa Azzam ngga cerita sama Ayah bunda,,?

Bunda dan Ayah sedang mencoba mengenal Azzam,, Azzam yang tumbuh karena pembiasaan pembiasaan yang dibangun oleh ayah bunda,, Seperti yang sudah bunda kira,, Azzam takut ayah atau bunda marah ketika dia melakukan kesalahan,,

Ayah dan bunda untuk beberapa waktu berdialog dan mencoba mereview seperti apa cara kami “menghukum” sampai  Azzam merasa takut pada kami untuk bercerita,, Dialog dan diskusi ayah bunda cukup panjang dan terus dibincangkan berhari -hari,,

Kami memang “menghukum” ketika Azzam lalai,, misalnya ketika Azzam keasyikan main dan dia tidak mengindahkan “living alarm” dari dirinya sendiri ketika mau pipis sehingga Azzam pipis dicelana (walaupun cuma sedikit),, kami menghukum dengan cara meminta Azzam duduk di kursi berpikir,, Kami juga mungkin mengingatkan dengan keras ketika Azzam bermain dengan cara menabrak nabrakkan mobil besi mainannya karena akan menyebabkan mobilnya mudah rusak (Azzam suka sekali bermain bola dengan mobil,, Dua mobil di dua tangannya saling menggiring “bola” (dari tutup botol),,

Ternyata cara “menghukum” kami memberi  bekas yang kurang baik atas Azzam,, Azzam jadi lebih suka menyembunyikan kesalahannya karena takut akan hukuman kami,,

Ayah dan Bunda benar benar merasa harus segera berubah dan membangun lingkungan bercerita dan iklim berdiskusi yang baik,,

Kami harus segera membentuk kepercayaan Azzam bahwa kami layak dipercaya,, dan bahwa Azzam pun layak kami percaya,,

Pelan pelan bunda dan ayah membangun,, bahwa bunda dan ayah tidak akan marah atas sebuah “kejujuran” dalam bahasa kami kami meminta Azzam untuk menceritakaan apaaa saja dengan sebenarnya dan kami berusaha untuk tidak menyebut Azzam dengan kata “berbohong”,,

Kami berusaha membangun kepercayaan bahwa semarah marahnya kami ketika Azzam melakukan kesalahan kami tetap ada disampingnya dan akan selalu berusaha untuk membantu setiap kesulitannya,, Berulang ulang disetiap kesempatan kami menanamkan bahwa kami bertiga akan saling berbagi dan saling menjaga sampai kelak Alloh tempatkan kami di SyurgaNya,,

Dan semarah marahnya kami ketika Azzam melakukan kesalahan, kami akan jauh lebih sediiiih ketika Azzam berkata tidak jujur atau berkata yang tidak sebenarnya,,

Kami berusaha menanamkan bahwa kami mempercayainya,, kami mempercayainya bahwa Azzam bisa belajar,, belajar untuk selalu berkata yang sebenarnya,,

Kesadaran ini terus menerus tumbuh,, beberapa kali kami gagal,, entah karena kami kembali harus “mengingatkan” Azzam ketika Azzam lalai pipis dicelana karena keasyikan main game, padahal sebelumnya bunda sudah mengingatkan Azzam untuk pipis lebih dulu,, Atau ketika Azzam berusaha menahan pipis di minimarket dan ngga tau kenapa tiba tiba Azzam sudah ngga tahan dan langsung pipis sebanyak banyaknya, padahal waktu kami belanja Azzam sibuk lari lari dan ngga  bilang mau pipis sama sekali, Atau ketika Azzam ngga langsung bilang waktu buku ensiklopedianya “ngga sengaja” tersobek tangan ,, Atau yang terakhir kemarin Azzam pipis dicelana waktu diajak ayah sholat Jumat (pekan lalu) padahal sebelumnya Ayah sudah tanya apa Azzam mau pipis, yang dijawab Azzam dengan kata tidak,,

Kami terus berusaha untuk bisa dipercaya,, bahwa dengan berkata yang sebenarnya, kami ngga akan marah dan kami ada untuk membantu Azzam,, Membangun kepercayaan dengan membuktikan bahwa, benar kami menghargai kejujurannya dan kami siap membantunya,,

Tulisan ini tertunda untuk diposting lebih dari sepekan,, bukan hanya karena koneksi yang buruk, tetapi ayah dan bunda menunggu persetujuan Azzam untuk bisa menaikan tulisan ini,,

Alhamdulillah,, Segala Puji bagi Alloh,, yang telah menghadiahkan banyaaaaakkk sekali momentum untuk belajar,, momentum momentum yang memudahkan kami untuk menerapkan kurikulum yang telah kami buat ,, momentum momentum untuk terus tumbuh dan berkembang,,  Meresapi ketersalingan kami untuk selalu berbagi dan menjaga,,

Semoga Alloh melimpahkan keberkahan atas kehidupan kami,, aamiin yaa Robbal ‘alamiin,,

Catt: saat postingan naik, Azzam bobo’ dalam pelukan bunda,, Azzam susah nafas karena hidungnya mampet, pilek,,  Allohumma ‘afini fii badani,, Syafakalloh nak,,