Memiliki rumah memang menjadi harapan banyak orang. Banyak cara yang ditempuh untuk mendapatkan rumah yang sekaligus menjadi status sosial bagi pemiliknya. Masing-masing kita berhak untuk membangunnya karena bumi ini memang dihamparkan oleh Sang Pencipta untuk kita manusia yang hidup diatas tanahNya. Namun dalam kenyataannya ada banyak manusia yang serakah dalam membangun istananya didunia. Para tuan tanah menjadikan kita makin terhimpit demi desakan pembangunan yang tak pernah terencana. Bahkan untuk memberikan pori pada air saja tak diberikannya sehingga ketika Sang air marah manusia juga yang merasakan akibatnya. Terkadang sebagian dari kita tak peduli lagi melihat masih ada orang yang hidupnya bernaung dalam rumah berjalan, berpondasikan roda beratapkan plastik sampah dan beralaskan kardus bekas televisi mewah.

Bersyukurlah kita yang masih diberikan kenyamanan untuk tempat merebahkan kepala pada kasur busa. Bersyukurlah kita yang tak perlu setiap bulannya mengunci pintu rapat-rapat agar tak bertemu si pemilik rumah yang menagih uang sewa. Bersyukurlah kita yang dalam mimpi malamnya tak terbangunkan oleh derasnya air ketika banjir datang dan bersyukurlah kita yang memiliki rumah sendiri seberapapun ukurannya seperti apapun bentuknya karena semuanya itu hanya rumah sementara kita.

Rumah adalah tempat yang paling pertama dan utama untuk membentuk karakter isi penghuninya. Rumah juga adalah tempat berkumpul dan berbagi kebaikan sesama anggotanya. Didalam rumah ini kita mendapatkan pelajaran pertama tentang miniatur  bermasyarakat. Saling menghargai dan menghormati berawal dari rumah. Dari dalam rumahlah segala tahapan kehidupan bermula bukan sekedar menjadi tempat bernaung dari panas dan hujan saja.

Namun tidak sedikit dari kita yang belum menjadikan rumah sebagai basis pendidikan untuk anak-anaknya. Padahal orangtua adalah agen perubah yang harus  mempersiapkan anak-anaknya untuk dapat bertahan dari segala keliaran dunia. Orangtua adalah pendidik sebenarnya untuk anak-anaknya. Jangan malah kita sendiri yang menjadikan anak sebagai hiburan semata saja karena kelucuannya. Bermacam bidang ilmu dapat dipelajarinya bersama-sama. Karena hak belajar bukan hanya kewajiaban anak saja tetapi juga sama wajibnya bagi orang tua.

Mulailah persiapan dari sejak sebelum menjadi orang tua, artinya persiapan perencanaan mendidik anak mesti direncanakan dari mulai memilih pasangan hidup. Komitmen yang dibangun sebelum memiliki anak adalah bagaimana kita akan mendidik anak kita. Akan memakai metode pendidikan seperti apa. Atau pilihan gampang dan umum serahkan saja pendidikannya pada sekolah walaupun orangtua sendiri yang akan memetik buah dari benih yang ditanamnya.

Suasana didalam rumah dalam bentuk apapun untuk ukuran berapapun kita sendiri yang harus menciptakan. Akan seperti suasana dirumah sakit kah yang penghuninya selalu meminta tolong,,, bisa kita ciptakan. Akan seperti suasana kuburan kah yang kesunyiannya bikin kita merinding,,, bisa kita ciptakan. Akan seperti suasana ramainya pasar kah dengan hiruk pikuk orang didalamnya serta seisi rumah penuh dengan barang hiasan,,, bisa kita ciptakan. Akan seperti suasana arena pertandingan kah yang memperlihatkan saling tendang dan pukul ,,, bisa kita ciptakan. Atau ingin menjadikan suasana rumah kita seperti layaknya di surga yang penuh kedamaian dan kebahagiaan diantara semua penghuninya,,, sangat-sangat bisa. Semua adalah pilihan kita sebagai bagian dari penghuni didalamnya.

Maka jadikanlah rumah kita seperti tempat ibadah yang akan selalu mendapatkan naungan keberkahan dari do’a – do’a dan sujud penghuninya. Jadikanlah penghuni rumah itu seperti sekumpulan lebah yang selalu bekerja sama, mencari nafkah yang halal sebagai sumber makanan untuk menghasilkan manisnya madu kebaikan dalam keluarga. Jadikanlah rumah kita sebagai tempat belajar dan mengajar antara anak dan orangtua, suami dengan istrinya. Jadikanlah rumah kita sebagai pembentukan Akhlak untuk semua orang didalamnya yang dapat dirasakan juga oleh tetangganya. Jadikanlah rumah kita sebagai bagian tempat bertafakur dari besar dan luasnya dunia untuk mengkaji kebesaran Sang Pencipta. Juga jadikanlah rumah kita sebagai tempat persinggahan sementara untuk melanjutkan perjalanan panjang  menuju tempat peristirahatan sesungguhnya di Surga sana.