Alhamdulillah,, setelah tertunda baru menulis separuh, terus ikut Ayah penelusuran ke tempat Batubara di Binuang dan Tapin, terus sibuk sibuk bergelut dengan laporan kantor ayah,, akhirnya bisa melanjutkan menulis dan mempost “Kecerdasan Musikal”

Akhir pekan ini memang Ayah ajak bunda dan Azzam jalan jalan ketempat yang ngga biasa,, kami lihat tempat mengeruk batubara,, Hmm apa ya kalimat yang pantas,, Subhannalloh wal hamdulillah karena Alloh anugrahi Indonesia dengan kekayaan yang luarrr biasa sekaligus miris,, sedih,, lihat bumi Alloh ini dikeruk sedemikian rupa dan dibiarkan rusak,,,

Azzam dan ayah bunda pastinya, belajar lewat mengamati, merasai dan menginternalisasi,, Ya, Alloh memberi kami kesempatan belajar lewat keajaiban ayat ayat kauninya,, Sebuah kesempatan yang kami syukuri karena dari mentadaburi ayat ayat yang dihamparkan dihadapan kami membuat kami merasa semakin memerlukan penjagaan dan pengawasan Alloh, Ya,, kami bukan siapa siapa, hanya bagian keciiiillll (dengan ukuran super nano mungkin) dari ciptaan Alloh yang sedang diperjalankan di bumi-Nya untuk belajar mengenal-Nya,, mengenal lebih dekat dan berlindung memohon penjagaan dibawah naungan-Nya,,

Azzam pun kami yakin belajar luar biasa amat banyak dari perjalanan perjalanan kami berpindah dari satu tempat ketempat lain,, Azzam belajar bersosialisasi dengan orang orang yang berbahasa berbeda (kami kemarin diantar oleh Om Basyirun yang asli orang Hulu Sungai Banjarmasin), Azzam juga berinteraksi dengan anak anak teman teman ayah yang bahasa Indonesianya juga masih meraba raba karena mereka lebih terbiasa berbahasa daerah,,

Azzam belajar tentang kekayaan alam Indonesia bukan hanya dari buku, tetapi dari apa yang dilihatnya langsung,, Sepanjang perjalanan kami kemarin melewati tepi sungai Martapura yang adalah penghasil Intan terbesar Indonesia, kami melewati perkebunan karet, perkebunan kelapa sawit, kebun durian, sawah tadah hujan (yang cuma mengandalkan hujan setahun sekali) dan buanyak tambang batubara,,,

Kami juga mampir ke pasar tradisional di Binuang dan berkenalan dengan berbagai macam buah hutan yang dijual dipinggir jalan (ayah beli buah “Kapu”, buah asal hutan kalimantan -buahnya tebal, isinya seperti buah menteng kalau dijakarta, rasanya asam manis-) dan,, kemarin adalah untuk pertama kalinya Azzam makan buah Durian,,!! Durian asli Kalimantan baru petik pohon lho,, he he,,

Iya buat Azzam baru pertama kali makan dan untuk Ayah setelah bertahun tahun ngga makan durian akhirnya Sabtu kemarin mereka makan Durian dipinggir jalan,,, Setelah berhasil memaksa bunda dengan usaha yang sangat keras akhirnya mereka makan juga,,,

Bunda memang ngga tahan sama Durian jadi selama Ayah dan Azzam makan bunda tetap di mobil tapi masih bisa ngambil gambar mereka yang asik makan,, Hmm sepanjang pulang, bunda mabok bau Durian,, padahal ngga makan, cuma nyium bau sisanya,, Ahh ngga mau lagi,,, cukuuuppp,,,!!

Well, yang sueneng buanget ya Azzam, karena Azzam udah sering lihat Durian di TV mulai dari acara Laptop si Unyil sampai acara mengolah Durian jadi makanan macem macem, sampe sampe Azzam kenal kolak daging Durian dan selai Durian,, dan baru kali ini diizinkan bunda makan,,

Hmm Alhamdulillah,, terima kasih Alloh atas seluruh nikmat yang kami rasai bersama,,

Tetap semagat belajar ya nak,, belajar dengan seluruh indra dan belajar dari kesempatan yang Alloh berikan,,