Sebagian generasi dinegri ini masih ingat benar sebuah catatan sejarah saat idealisme moral menjadi tonggak awal perubahan untuk Indonesia. Jutaan pemuda dan pemudi dipenjuru tanah air serentak merubuhkan tirani kediktatoran untuk dirubah menjadi demokrasi lewat suara lantang reformasi. Darah-darah segar pemuda menjadi tumbal terdepan demi terciptanya kesejahteraan rakyat saat itu.

Tiga belas tahun sudah masa itu terlewati. Para aktivis reformasi itu kini sudah tak lagi berteriak. Suara lantangnya seakan dibungkam oleh keteraturan demokrasi kekuasaan. Rakyat kini jarang terdengar untuk diatas namakan, hanya terngiang ketika akan mencari dukungan. Darah-darah pemuda kini hanya sebatas mengalirkan tepuk ria di layarkaca hanya demi acara tawa.

Ternyata ada fase yang terlewatkan setelah gempita reformasi diterima. Para pelaku orator moral saat itu semuanya pemuda disetiap kelompoknya. Jauh dari pengalaman hanya sebagai pendobrak pintu tirani. Keadaan ini yang terbawa oleh para pemuda ketika sejenak rehat untuk masa depan dirinya dengan memutuskan untuk menikah. Tanpa bekal konsep yang jelas dan tak tertuliskan sebagai MOU pernikahan sebagai bagian menyatukan dua isi kepala yang berbeda. Pemuda pemuda yang lantang dibarisan masa itu ternyata harus bergagap gagap menyusun nilai yang akan ditanamkan untuk menjadi nilai keluarga,,

Kejadiannya sama persis dengan para aktifis yang kini menduduki jabatan atas nama buah perjuangan untuk perubahan. Sebagai wakil rakyat mereka tak siap dengan  konsep nyata, sementara didalam keluarganya mereka mendidik anak anaknya seperti coba-coba. Lalu apa jadinya nanti jika anak-anak ini tumbuh. Akankah dapat kembali turun kejalan meneriakkan kembali visi perubahan menentang karya orang tuanya sendiri karena ditekan kekuasaan.

Yang perlu ditata kembali adalah bongkahan keluarga yang terlanjur pecah untuk disatukan kembali. Kesadaran menjadi orangtua adalah dasar yang perlu kembali disadarkan, sehingga kita akan selalu siap menghadapi setiap perubahan. Bahwa pemuda pemuda inilah yang sekarang sedang dititipkan generasi baru, yang harus bekerja keras untuk merencanakan dengan matang, mempersiapkan generasi mendatang yang akan kembali diluncurkan sebagai busur zaman.