Mungkin sebagian kita para orang tua ada yang belum menyadari betapa bahagianya ketika kita sebagai orangtua memiliki anak yang sholeh atau sholehah. Karena hanya anak yang sholeh dan sholehah yang bisa dan mau dengan sadar untuk mendoakan kedua orangtuanya sebagai salah satu sarana untuk berbakti.

Tidak mudah memang bagi kita para orangtua dapat menjadikan anak-anak kita seperti yang banyak dicita-citakan bahkan dalam harapan tiap do-a para orangtua. Tetapi perlu diingat kembali bahwa kita para orangtua pernah berada pada masa menjadi anak-anak juga. Dengan segala kepolosannya kita menjalankan peran sebagai anak dengan mengikuti segala bentuk cara mendidik orangtua kita saat itu.

Semua pasti masih terekam dengan jelas masa-masa saat kita yang sekarang menjadi orangtua dengan kala itu ketika kita masih menjadi anak-anak. Kita mendengar dan melihat harapan orangtua kita lewat do’a do’a nya agar kita menjadi anak yang berguna dimasa mendatang. Itu semua dilakukan oleh orangtua kita dengan sadar dan penuh kesungguhan.

Kini kita sudah berada pada fase menjadi orangtua dari anak-anak yang kita cintai. Berbagai macam cara kita tempuh agar anak-anak kita menjadi orang yang bukan hanya berguna tetapi juga berhasil dalam kapasitasnya masing masing dikehidupan mendatang sesuai dengan zamannya. Sudah menjadi hal yang lazim bila kita para orang tua memiliki harapan itu.

Lalu sudahkah kita melakukan semua harapan itu dengan sadar dan penuh kesungguhan lewat do-a do’a kita..?
Atau kita hanya menyerahkan pada orang lain yang cukup ilmu untuk sekedar menjadikan anak-anak kita seperti yang kita harapkan..?

Benarkah hanya dengan cukup mengajarkan dan menyuruh anak-anak kita menjalani “ritual” kebaikan dapat menjadikan anak-anak kita sholeh dan sholehah…?
Apakah kita para orangtua sudah lupa bahwa kita juga adalah peniru yang hebat saat kita menjadi anak-anak dahulu mengikuti semua perkataan dan perangai orangtua kita..?

Disinilah kuncinya ketika kita para orangtua hanya dapat memberi perintah tanpa menjelaskan apa faedahnya apa lagi tidak dibarengi dengan memberi contoh.
Juga saat kita melarang anak-anak kita sesuatu tanpa memberikan pengertian kenapa hal itu dilarang.
Atau saat kita marah pada anak-anak, kita tidak menjelaskan apa sebabnya kita marah dan tak pernah kita memberikan kesempatan si anak untuk membela dirinya.

Ternyata belajar itu bukan hanya kebutuhan untuk anak-anak kita. Belajar juga diperlukan untuk kita para orangtua yang kini sedang aktif menjalankan perannya sebagai orangtua.

Belajar bersama sama itu akan menghasilkan cara pandang tersendiri tentang hubungan kita dengan anak-anak. Si anak tidak lagi melihat bahwa kewajiban belajar itu hanyalah khusus untuknya. Tetapi belajar sesuatu itu juga dilakukan oleh kita para orangtua yang sedang belajar menjadi orangtua sesungguhnya.

Akhirnya kita akan melihat sekaligus mendengar ketika anak-anak kita sedang menengadahkan tangannya dengan do’a do’a yang keluar dari mulut mungilnya untuk kita para orangtua. Alangkah bahagianya kita para orang tua menyaksikan hal itu. Mungkin sama rasanya ketika do’a ini kita panjatkan untuk kedua orangtua kita saat kita masih anak-anak dulu. “Allohummaghfirlii waliwalidayya warhamhumaa kama robbayaanii shoghiiroo” (Doa Azzam)

“Ya Alloh,, sayangi Azzam,,, ampuni dosa ayah bunda, sayangi mereka seperti mereka menyayangi aku,,,” Aamiin..