Ada ratusan negara berarti ada ratusan pemimpin dari milyaran manusia yang hidup didunia sekarang ini.

Bersatu dalam rotasi yang sama di planet yang sama, yang berbeda hanyalah keyakinan tentang siapa yang berhak untuk disembah karena telah menciptakan bumi ini sebagai tempat bernaung kita.

Saat ini semua pemimpin negara didunia sedang menjalani kenyataan fungsi sebagai khalifah dibumi dalam mengurus ummat sekaligus hamba ciptaanNya.

Semua ideologi yang pernah menjadi dasar negara telah melewati pasang surut dizamannya. Dari mulai zaman para Penyembah api sampai zaman Penyembah patung. Dan sampai akhirnya mata dunia terang benderang dengan kehadiran kemurnian Al Islam yang membawa manusia pada kejayaan.

Kini masa jaya itu sedang menjalani perannya dalam putaran roda kesunahan. Setelah sekian lama belum kembali terulang saat islam berada dipuncak kemenangan. Penantian dan pengharapan silih berganti dari para hati pendamba kerahmatan hingga ajal menjelang.

Para pemimpin didunia kini sangat brutal dalam mengurus dan melayani rakyatnya. Mudah sekali marah, gampang sekali tersinggung, terlalu enteng dalam menyelesaikan masalah, bila perlu menyikat habis kalau ada yang mau menggoyang singgasana kerajaannya.

Seakan akan sifat cinta itu telah hilang dari hati para pemimpin. Kesungguhan mencintai rakyatnya tidak terasakan seperti mencintai keluarganya dan dirinya sendiri.
Penyebab utamanya adalah ketika
manusia sekaligus Rosul Mulia itu kini tak lagi menjadi teladan dalam mengurus berbagai hal permasalan.

Yang timbul kini hanya kekecewaan para rakyat pada pemimpinnya. Bukan jawaban yang didapat oleh Ummat melainkan hinaan yang melekat pada hati rakyat.

Bagaimana jika dibalik,, Rosul saja yang ma’shum masih dengan bijak mau menanggapi kekecewaan sahabat dan orang orang yang disayanginya,,

Rosul saja yang dipandu langsung oleh Alloh, dikawal langsung oleh malaikat Jibril dan telah dijamin Syurga terbaik atasnya masih dengan senyum menanggapi kekecewaan orang orang disekelilingnya hatta istrinya sendiri.

Tak pernah sekalipun Rosulullah menunjukkan Kehebatan dirinya yang Suci atau Tanpa salah dihadapan Ummatnya.

Lantas siapakah kita manusia biasa yang kedekatan dengan Alloh nya pasang surut, tak pernah mendengar wahyu yang tersampaikan langsung sekalipun dan belum ada jaminan kemenangan Syurga langsung tanpa melalui neraka lebih dahulu,, Kemudian bisa bisanya kita marah atau murka mendengar orang orang tua, teman teman muda, murid murid atau sahabat sahabat kita kecewa cuma karena tidak sepakat dengan “Kebijakan” kita,,??

Siapakah kita yang tidak akan pernah bisa Ma’shum sanggup mengadili orang lain,,??

Padahal Rosul saja tak pernah mengadili dan menghukum para sahabat yang telah sama sama mengangkat pedang melawan kufar yang kecewa padanya ketika di Uhud sana.

Lalu dimana kerinduan ini akan dilabuhkan pada megahnya hati pemimpin yang mau dengan sabar mendengar semua keluhan jiwa jiwa rakyatnya,,,?

Lalu pada siapakah kehangatan batin ini dapat tersandarkan pada kemurnian jiwa dari kesejukan cinta pemimpinnya,,?

Aahhh… kerinduan ini masih belum terjawab,,,kerinduan pada pemimpin bijaksana,,, yang hatinya terisi dengan istighfar selalu kepadaNya,,, yang tampak nyata dalam kesederhanaan,,, suatu hari nanti…” Biidznillah “.