Sejak Azzam mulai belajar ngomong,, mungkin sudah tak terhitung berapa banyak pertanyaan yang keluar dari lisan kecilnya,,

“Apa ini ayah,,?”,  “Apa itu bunda,,?”,  “Kenapa ini begini ayah?”, “Kenapa itu begitu bunda,,?”
Seperti anak seusianya, Azzam tumbuh dan belajar dari pertanyaan yang dia lontarkan,,
Azzam memang cenderung talkative mungkin karena waktu hamil bunda banyak mengisi penyuluhan dan pelatihan HIV dan AIDS dan penyakit kelamin ya,, (Iya bunda memang dulu staf program untuk penanggulangan Penyakit Kelamin dan HIV dan AIDS di sebuah LSM -Yayasan Kusuma Buana- di Jakarta, bunda bekerja sejak 2001 s/d 2008 setelah sebelumnya bekerja untuk penelitian program Kesehatan Reproduksi Remaja di kampus,, Kebayang cerewetnya kan,,) Mungkin kecerewetannya menurun ya,, he he,,

Kembali pada kecerewetan Azzam,, Untuk “menghadapi” kecerewetannya bunda dan ayah memang membutuhkan energi dan kesabaran yang besar,,

Azzam bisa bertanya pada waktu waktu yang mungkin “tidak tepat”,, Seperti satu hari Azzam tanya sama bunda yang sedang mencuci baju,,

“Bunda, apa itu kutu de-mo-dex,,?” tanya Azzam sambil menenteng buku educomicnya tentang Kuman dan Parasit, menghampiri bunda yang sedang mengucek baju (maklum bundanya mencuci manual,,he he,,),,

“Waah, nanti dulu nak, bunda masih nyuci nihh,,emang azzam liat dimana,,?” sahut bunda,,

“Ini,, disini,,” jawab Azzam,, “Tuh bener kan bacanya,,” lanjut Azzam,,

“Iya bener, tapi bunda belum baca,, bunda mesti belajar juga,,” jujur bunda mengaku,, (karena memang bundanya belum baca hal yang Azzam tanya dan sudah lupa mata kuliah Parasitologi jaman kuliah dulu,, he he,,)

“Ya udah Azzam kekamar dulu,, jangan disini nanti basah,,” lanjut bunda. Tapi bunda sejenak berfikir bahwa bunda tidak mau kehilangan momen untuk memompa semangat belajar Azzam,, Akhirnya bunda cuci tangan dan mem postpone pekerjaan mencuci,,

Atau diwaktu lain Azzam menghampiri ayahnya yang sudah siap berangkat kerja dengan pertanyaan “Ayah kenapa pesawat bisa terbang tinggi,,?”,, Ayah menyediakan beberapa menit waktunya untuk menjawab atau ayah me-nego-kan waktu untuk berdiskusi sama Azzam,,

Ayah mungkin yang memiliki ekstra kesabaran karena Azzam memang seperti punya “kenikmatan” sendiri kalau ngobrol sama Ayah,, sepulang kerja, ayah yang harus dengan sabar meladeni beragam cerita Azzam padahal ayah sudah seharian sibuk diluar rumah,,

Ya,, banyak pertanyaan yang keluar di banyak waktu,, Bunda dan Ayah sepakat untuk sebisa mungkin menghadirkan diri untuk bisa menjawab berbagai pertanyaannya,, mulai dari yang sederhana sampai yang ayah dan bunda tidak tahu jawabannya dan kami mencari jawabannya bersama sama,,

Kami memang sepakat untuk menanam semangat mencari tahu dan sebisa mungkin tidak mematahkan semangatnya hanya karena kami sedang merasa lelah,, Tidak mudah memang, kadang kadang kami juga mungkin merasa malas atau enggan menjelaskan,, tapi kami berusaha dan belajar,,

Azzam bertanya ketika kami bepergian,, Azzam bertanya berbagai pertanyaan ketika kami menonton TV,, Azzam bertanya ketika bermain,, Azzam bertanya ketika membaca buku Iqro nya,, Azzam bertanya dan bertanya,,

Pagi ini pun Azzam bertanya,, Sambil menunjuk kaca mata bunda Azzam bilang “Bunda, ini pupil ya,,?”,,

“Iya,,” jawab bunda “ini yang warna hitam namanya pupil atau disebut juga anak mata,,” lanjut bunda menerangkan,,

“Pupil itu anak mata,, kalo bapak mata yang mana,,??” tanya Azzam

Pertanyaan lanjutan yang Bunda tidak tahu jawabannya,, !!