Ungkapan tersebut diatas tidak mewakili sifat dari bahasa suku tertentu. Namun makna dari ungkapan itu sendiri yang menjadi fenomena ditengah masyarakat kita. Budaya konsumtif yang tak pernah tau pangkal dan ujungnya menjadi dasar yang selalu menghampiri setiap kebutuhan manusia. Mulai dari kebutuhan sandang, pangan dan papan semua itu memang kebutuhan yang paling sederhana demi keberlangsungan hidup.

Lain hal ketika semua kebutuhan pokok untuk hidup sudah dapat dipenuhi, bagaimana apabila sebaliknya. Kemajuan zaman dan perubahan gaya hidup sangat mempengaruhi untuk sebagian orang. Apalagi bila tak berlandaskan ilmu yang dapat menjadi penyaring dari derasnya informasi global. Tak dapat disangkal kita pasti akan hanyut terbawa moderenisasi yang bisa membuat lupa makna kesederhanaan.

Keinginan akan menjadi sumber penderitaan. Tak peduli lagi darimana sumber datangnya rezeki. Tak didengar lagi memberi itu dapat menerangkan hati. Iri telah menjadi falsafah hidup agar dapat selalu memiliki. Ingin bahagia malah susah yang didapat karena keinginan yang memaksa untuk berbuat. Semuanya itu hanya untuk terlihat oleh mata manusia saja.

Terlalu banyak contoh yang dapat digambarkan, seperti pinjaman uang dengan bunga jeratan rentenir ketika menikahkan anak dengan memilih suguhan pesta semalam suntuk demi atas nama keluarga,,,juga sama ketika terpaksa membelikan laptop untuk si buyung yang merengek agar dapat seperti teman sekelasnya disekolah dasar, walau sebenarnya sewa kontrakan menunggu jawaban  wajib tiap bulannya ,,,Atau ada pula Si ibu muda yang sangat bangga bila lipatan dompetnya terbuka saat belanja terlihat berjajar deretan kartu kredit dari berjenis bank yang ada hanya untuk setiap mata, padahal ibu muda itu harus kucing-kucingan dengan penagih gagah yang setia menunggu dimuka rumah.

Cara menjalani hidup yang “dipaksakan” akan menjadikan kita keluar dari jati diri manusia itu sendiri. Ia tak akan kenal lagi indahnya berbagi apalagi memberi. Ia juga akan lupa bersyukur yang akan membawa menjadi kufur. Semakin hari akan semakin termotifasi untuk menjadi manusia yang berlebih. Bila dirumahtangga perannya dimainkan suami, sudah pasti isteri dan anak yang akan mengikuti demi pilihan hidup sehari-hari.

Alloh tak pernah melarang kita untuk menjadi kaya, dan semiskin-miskinnya manusia pasti terjamin karena sudah ada ketetapan tentang rizkinya. Tinggal bagaimana kita mengelola nikmat kaya atau miskin itu dengan bijaksana karena semua berasal dariNya dan akan kembali padaNya.
Semua yang kita punya adalah titipan, sama seperti manusia saat lahir kedunia tak memakai sehelai benang pun dan tak ada yang terbawa ketika jasad masuk keliang tanah ketika kita meninggalkan dunia.

Akhirnya kita semua mesti kembali sadar, bahwa waktu untuk hidup didunia ini hanya sekejab saja. Pilihlah jalan yang dapat membawa kita megumpulkan bekal untuk hidup yang lebih kekal. Disana semua tempat dipenuhi keberkahan tak seperti didunia sekarang yang penuh dengan kepalsuan.

Beduk lohor ketan diragiin…
Ngadonin tape kaga boleh mere…
Kalo cuma lantaran nyari kesohor…
Bakalan rugi lu jadi orang kaye…