Kelihatannya Presiden Indonesia mulai kehabisan akal untuk mencari cara agar narkoba bisa hilang tak lagi menjerat pemuda sebagai asset bangsa. Angka yang dikeluarkan BNN membuat merinding siapa saja sebenarnya yang setia menjadi pengguna dari zat hasil karya manusia ini. Yang muncul dipermukaan media hanya sedikit saja semisal penggagalan di bea dan  cukai dan sebatas bandar besar yang sudah punya nama. Tapi coba lihat yang belum sempat atau sengaja tak terdata oleh pemerintah karena masih ditutup rapat atas alasan harga diri bangsa.

Aparat terkesan tanggung atau mengikuti mood saja hingga sama seperti orang yang sedang menggigil sakaw minta serbuk putih atau kristal sama saja. Semua tau kalo bisnis narkoba adalah ladang emasnya dunia. Tinggal siapa yang pandai mencari untung dan siapa yang bodoh menjadi pelanggan setianya. Untuk ukuran dunia Indonesia adalah negara tersubur untuk peredaran dan produksi juga terdungu karena membiarkan rakyatnya terlena oleh buaian narkoba.

Bukan hanya dari bulan sabit emas atau segi tiga asia saja tetapi para rakyatnya sendiri yang membuka peluang besar untuk mengolah narkoba sebagai komoditi dalam negeri. Perputaran keuntungannya bisa menutup semua mulut, mata, juga telinga bahkan sampai ke meja jaksa. Penjara menjadi tempat ternyaman dan aman untuk berpesta siapa yang berani mengusik nyawa yang akan jadi taruhannya.

Coba bayangkan apabila Presiden nya, Mentri nya, MPR nya, DPR nya, DPRD nya, Gubernur nya, Walikota nya, Bupati nya, Polri nya, TNI nya, Camat nya, Lurah nya, Mahasiswa nya dan Rakyat nya sadar sesadar-sadarnya akan bahaya dan dampak dari narkoba terhadap masa depan Bangsa dan Negara. Bukan cuma itu semua lembaga dan jajaran dibawahnya dari Presiden sampai Rakyat WAJIB tes URIN BERSAMA…agar diketahui kandungan dan kadar jenis Narkoba apa saja yang masuk dalam tubuh kita.

Setelah semua itu berhasil dilakukan tinggal meunggu ketegasan dari penguasa. Akan diapakan hasil dari tes urin tersebut yang diketahui positif menggunakan narkoba dari orang-orang yang berada disetiap jajarannya. Tentunya jangan sampai jadi pekerjaan yang sia-sia pastinya.

Dengan begitu akan terbuka dan ditemukan cara serta solusi untuk menghentikan produksi dan peredaran narkoba karena telah didapatkan siapa saja pengguna setianya dari Presiden hingga Mentri, dari  Jendral hingga Kopral, dari Eksekutif hingga Yudikatif, dari Mahasiswa hingga Rakyatnya. Semua itu bukan lagi sekedar Seremonial belaka.

Pemimpin bernyali besarlah yang hanya bisa melakukan ini semua juga para raja-raja lokal hasil dari otonomi yang harus memulainya juga. Tanpa kesadaran dari orang yang hanya bisa memerintah mustahil narkoba bisa dihentikan peredarannya apalagi menyadarkan para pengguna.

Kini sudah tak berguna lagi meneteskan air mata. Kini sudah tak berguna lagi sesal dihati. Angka korban dan pebisnis gila akan makin terus bertambah. Yang harus ada hanyalah tekad yang berakar kuat. Yang bisa cepat dilakukan adalah teriakan tobat dari yang masih sekarat. Yang masi bisa dilakukan adalah pakai otak untuk berfikir dan bentengi diri serta keluarga dengan keimanan dan pengetahuan. Karena Narkoba adalah karya manusia tanpa makna yang hanya akan merusak ketentraman jiwa, keluarga bahkan Negara dan semuanya itu adalah ulah dari tangan manusia.

Bersegeralah…Bersegeralah… Bersegeralah… !!!