Izzah atau harga diri adalah kehormatan yang mesti selalu dijaga apa lagi sebagai seorang muslim. Dengan kata lain kehormatan diri seseorang atas dasar keimanan adalah mutlak. Tetapi apakah setiap muslim menyadari tentang kehormatan dirinya diluar dari sosok manusia biasa. Disadari atau tidak hal ini tidak dapat dipisahkan dari diri seseorang. Berani lantang untuk kebenaran karena memiliki kebanggan sebagai seorang muslim adalah keyakinan.

Dinegri ini sebagai negara berpenduduk muslim terbesar didunia semestinya harga diri bangsa ini akan jadi perhitungan oleh bangsa lain. Tetapi kenyataan jauh dari harapan malah kini ditayangkan sebagai suguhan tiap pasang mata yang menggambarkan harga diri bangsa ini terkesan lucu berjudul Islam KTP . Apakah memang seperti itu kehidupan ummat muslim di negeri beribu pulau kaya yang pernah jadi rebutan bangsa-bangsa didunia karena berlimpahnya harta rempah dalam tanahnya.

Pemimpin berambut klimis bergaya parlente bermobil mewah sebagai wakil rakyat pun masih malu-malu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim sejati. Takut dianggap radikal apalagi dinegeri ini masih phobia dengan keIslaman seseorang yang kaffah karena takut dianggap teroris. Tak pelak lagi suasana dan iklim politikpun akan sangat pragmatis menjadikan ideologi sebagai komoditi. Kini jangan berharap lagi wahyu Tuhan akan turun untuk membela rakyat tetapi hanya untuk kepentingan si kuat.

Hasilnya manusia dinegri ini dari presiden hingga pengamen tak memperhitungankan lagi nilai luhur budi pada kehidupannya. Semua telah berubah menjadi dominan keinginan pribadi dan kekuasaan seperti hukum ditengah hutan. Walau konteksnya agak sedikit berbeda antara Presiden dan Pengamen walau dilihat dari skala kebutuhan. Akhirnya bukan salah Tuhan bila negeri ini sarat dengan cobaan yang tak henti padam bahkan mungkin tinggal menunggu hari eksekusi yang tak pernah tahu kapan akan datang untuk menerjang.

Penyebab terbesar adalah keyakinan yang berangsur pudar tak terwarisi pada kader bangsa dengan benar semenjak negara ini berdiri. Selanjutnya rasa syukur yang entah hilang kemana dari sekian banyak bait do’a-do’a di hati rakyatnya. Pemimpinnya tak berani mengajak rakyatnya untuk bersama-sama masuk surga. Malah dengan sengaja menggiring rakyatnya masuk kejurang neraka. Wakil rakyatnya pun mandul untuk lantang bersikap agar tak mudah terpedaya. Para pemudanya dibawa terbang ke awang-awang oleh jeratan narkoba.

Sampai kini tiap detiknya masih ada bayi suci yang lahir dari rahim pertiwi. Dan pada detik yang sama ada pula manusia yang mati terkubur ditanah loh jinawi . Ternyata Tuhan masih mau mengurus model manusia Indonesia. Dan ternyata Tuhan tak pernah repot untuk mengatur semua mahluk-mahluk ciptaannya. Generasi baru akan datang menggantikan yang telah usang. Yang hanya berpedoman pada keyakinan dari Yang Maha benar. Berani bertaruh nyawa agar Izzah tak kembali tergadaikan demi kemuliaan Islam.