Menjaga kepercayaan adalah hal yang sederhana tetapi sarat ujian untuk menjalankannya. Kepercayaan itu tidak datang dengan sendirinya harus melalui sebuah proses sampai dapat dinyatakan orang tersebut layak untuk dipercaya. Banyak cara untuk membuktikan kepercayaan bahkan sampai diuji dengan banyak hal apakah orang itu bisa dipercaya atau tidak. Apalagi untuk orang-orang yang berada diposisi sebagai penentu kebijakan.

Ada yang lebih sederhana lagi ambil lah contoh sepasang suami dan istri. Apa jadinya bila krisis kepercayaan menjadi dilema yang tak terselesaikan dalam sebuah keluarga. Suami tak percaya pada istrinya dan begitu sebaliknya, malah mungkin ada antara anak dengan orang tua juga sebaliknya. Dapat dipastikan negara kecil bernama keluarga ini tak akan mendapatkan suasana harmonis apalagi romantis.

Ada juga sebagian orang memakai cara untuk menanamkan kepercayaan atau membeli kepercayaan dengan memberikan fasilitas. Dan berharap agar orang tersebut dapat menunjukan loyalitas kepada si pemberi fasilitas. Ini sering kita sebut sebagai loyalitas balas budi. Tetapi ternyata itu semua tidak menjamin seseorang menjadi loyal malah justru berbalik kadang menjadi pengkhianat.

Lalu apakah loyalitas itu dapat dibeli dari diri seseorang..? Ataukah mengharap kepercayaan juga bisa dipaksakan..? Jawaban saya tidak,..! Tentu ini hanya untuk orang-orang yang mempunyai kekuatan idealisme dan tidak termasuk untuk orang-orang bersifat sengkuni sesaat apalagi berkepanjangan hingga sulit ketika ingin melepaskan.

Kekuatan idealisme ini menjadi dasar yang sangat penting agar terhindar dari orang-orang yang biasa membeli kepercayaan dan kejujuran dari seseorang. Tanpa idealisme manusia seperti boneka yang tak memiliki ruh dalam bersikap, mudah terbaca dan sangat lemah pendirian. Lalu siapakah manusia yang memiliki idealisme seperti ini..? Apakah semua manusia memiliki idealisme..? Apa juga untungnya memiliki idealisme..?

Fitrah manusia adalah idealisme itu sendiri. Murni tanpa campuran, yang dikaruniakan Alloh pada setiap hamba ciptaanNya. Belum terkotori oleh kepentingan akal dan kebutuhan hati manusia untuk menjalankan perannya. Dia akan selalu menjadi radar hati untuk mendeteksi dengan mudah sinyal kebaikan dan keburukan yang sedang atau yang akan dihadapi. Kesuciannya harus tetap dijaga dan ketajamannya selalu perlu di asah. Berarti menjaga kemurnian idealisme adalah menjaga kesucian diri dan mempertahankannya adalah perjuangan mulia.