Adalah kebahagiaan… yang umum di cita-citakan oleh setiap keluarga dalam menjalani hidup dengan orang yang dikasihinya. Sangatlah lumrah ketika pasangan hidup mulai menjalani perannya dalam keluarga dilengkapi dengan datangnya anak sebagai pelengkap kebahagiaan. Namun tidaklah mudah untuk menghadirkan kebahagiaan itu tanpa kita sendiri yang menciptakannya.
Karena kebahagiaan hanyalah dapat dirasakan oleh hati bukan dari apa yang sudah didapat dengan mencari sumber kebahagiaan yang bukan esensi.

Sebagai contoh sebuah keluarga yang dari sisi ekonomi sangat-sangat cukup walau bagi saya justru berlebih. Dengan kedua suami istri berkarir dengan pendapatan yang lebih dari memadai, rumah megah, kendaraan mewah, anak sekolah dikelas dunia, seharusnya untuk ukuran hidup keluiarga seperti ini bisa disebut bahagia.

Namun ternyata suasana hidup seperti ini tak lagi modern untuk ukuran orang tua yang ingin mendidik anaknya mempunyai mental alamiah bukan dari kemudahan orangtuanya  untuk bisa hidup. Berbagai kasus yang sering kita dengar karena sibuknya orangtua diluar rumah hak anak untuk mendapat perhatian kasih sayang jadi sirna. Yang terjadi malah konflik internal keluarga yang sering berujung perceraian atau mengorbankan keegoisan salahsatu orangtua siapa dirumah siapa yang bekerja.

Ironis memang, ternyata kebahagiaan hidup yang didambakan oleh setiap anak itu sama, yaitu pendampingan orangtua yang ada disaat-saat anak membutuhkan keberadaan orangtuanya. Lalu kebahagiaan seperti apa yang diinginkan oleh setiap orangtua.

Ternyata kebahagiaan yang didambakan oleh setiap orangtua hanya bernilai materi dan status sosial untuk persaingan hidup dihadapan manusia. Mereka beranggapan bahwa kebahagiaan itu akan tercipta dengan sendirinya apabila semua kebutuhan untuk rumahtangga sudah terpenuhi, dari pekarangan rumah sampai dapur, dari lantai 1 sampai lantai 2.

Apakah untuk meraih kebahagiaan dalam hidup itu memerlukan persaingan, lalu siapa yang menciptakan persaiangan ini, atau malah kita sendiri yang menciptakan padahal anak-anak kita tak butuh itu semua. Yang dibutuhkan adalah perhatian kedua orangtuanya sesuai dengan kebutuhan demi perkembangan untuk mental dan jiwa si anak.

Sekarang apakah sebuah keluarga miskin dapat dikatakan bahwa keluarga itu tidak bahagia. Belum tentu, tinggal bagaimana keluarga ini dapat melihat bahwa kebahagiaan hidup itu tidak selalu datang oleh kemudahan materi. Malah justru pendidikan hidup dari keluarga seperti ini yang menjadikan anak-anaknya kuat dan keinginan bekerja kerasnya sangatlah nampak. Kebersamaan dengan segala kondisi yang dihadapi membuat jiwa terasa bersemangat karena kebahagiaan bagi mereka bukan kewajiban orangtua untuk menciptakan, tetapi semua bagian keluarga juga turut serta dengan selalu mensyukuri segala yang ada.

Jadi kebahagian itu tidak dapat diukur oleh kecukupan materi, dan kebahagiaan itu tidak datang sendiri. Kebahagiaan juga tidak dapat dipaksakan karena kebahagiaan adalah buah dari kesabaran. Kebahagiaan juga bukan kewajiban yang disalah artikan, kebahagiaan justru dapat diciptakan ketika saling berbagi dan saling menjaga mulai menjadi kebutuhan didalam keluarga itu sendiri.

Yang terpenting adalah anugerah kebahagiaan didunia ini dapat kita syukuri serta menjadikan ladang kebaikan bagi keluarga kita untuk meraih harapan besar demi kebahagiaan yang hakiki bersama-sama orang yang kita cintai.