Mahakarya dari sastra bahasa yang paling tinggi dan sempurna adalah wahyu yang tercatat dalam satu kitab bernama Al-Quran. Lugas tanpa basa-basi, mudah dimengerti bagi siapa saja yang mau mengkaji. Untaian katanya sangat lembut dan bukan khayalan tetapi kenyataan dari awalan sampai akhiran. Itulah karya Tuhan untuk semua yang mengaku hambanya  yang pasti selamat bila dijadikan panduan petunjuk jalan dalam menempuh kehidupan, bahkan ada kehidupan setelah kematian dan bukan sekedar perintah atau larangan.

Kini berapa banyak manusia yang benar-benar yakin dan bukan sekedar percaya untuk menjadikan Al-Quran ini sebagai panduan dalam menjalani kehidupan.
Kitab ini bukan hanya khusus untuk kalangan agama tertentu saja melainkan rentetan kisah yang menterjemahkan tentang hakikat hidup dan kehidupan sebelum manusia ada bahkan sebelum alam semesta ini terbentuk, grand design ini telah tertulis dengan sempurna.

Tak terbatas geografis bahkan antara kehidupan nyata dengan kehidupan sesudahnyanya. Lalu seberapa perlukah manusia menjadikan kitab ini sebagai rujukan dan panduan atau malah tak lagi cocok karena sudah usang dan tak sesuai dengan zaman. Ada sosok manusia yang sempurna dan pernah ada dan hidup dimasanya yang memang dipandu langsung oleh Penciptanya. Ia sebagai pelaku sejarah sekaligus saksi nyata untuk semua manusia, percaya atau tidak itu hanya urusan hati, maka dari itu dengarlah suara hati ini dengan sebenar-benarnya agar dapat berfikir bukan sekedar mengandalkan retorika akal.

Dari urusan pribadi, sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya, kehidupan, kematian, surga, neraka, pujian, perintah, larangan, laki-laki, perempuan, langit, bumi, alam semesta, dunia, akhirat, siang, malam, panas, hujan, bahkan sampai penyakit hati yang teramat dalam tertulis dengan jelas sebagai obat penawar. Lalu apakah masih diperlukan untuk bukti lanjutan agar lebih dalam untuk meyakinkan. Jawabannya boleh dan silahkan, dan ada satu cara apabila kita mencoba resikonya kita tak akan dapat kembali hidup seperti semula yaitu MATI.

Itu sebabnya kematian itu dianggap sebagai perjalanan yang mengerikan, menakutkan, menyedihkan, memilukan, karenanya para manusia banyak yang tak siap dengan pemutus segala kenikmatan ini. Padahal semua yang bernyawa pasti mati. Dan kematian itu dapat menghampiri siapa saja dimana saja walau dia berlindung dalam sebuah benteng yang kokoh kematian pasti dapat menembusnya.

Sekarang apa yang perlu kita persiapkan untuk menyambut kematian. Sebagian orang ada yang merencanakan ingin mengakhiri kehidupannya dengan caranya sendiri sejalan dengan keyakinannya. Berarti kematian itu dapat direncanakan tentu dengan konsistensi yang tak mudah sesuai dengan penggunaan usia yang diberi.

Kita semua pasti ingin proses kematian kita lancar tak ada halangan bahkan ada yang meminta seperti bait lagu ” killing me softly “. Dan perlu diingat tak ada batasan usia, strata, ataupun golongan karena tanpa diundang pun kematian pastikan datang menghampiri kita dan nyawa adalah hak tubuh maka jangan memaksa untuk menghilangkannya.