” Nak… berhentilah jangan sekolah bapakmu sudah tak kerja…Nak…jangan menangis memang begini keadaannya… Akibat jatah..ditoko-toko dan diparkiran… sudah bukan milik bapak lagi…”

Potongan bait syair dari lagu berjudul “Senandung Istri  Bromocorah” di album KPJ  ini adalah potret nyata ketidak berdayaan orangtua untuk memberikan hak mendapatkan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. Tetapi kita tak bisa menyalahkan orangtua secara sepihak, karena memang dinegri ini untuk anak menjadi pintar itu hanya akan didapat dibangku sekolah dan semuanya tidak bisa dicapai cuma-cuma alias bayar.

Kita pernah mengalami sebuah pertanyaan yang kita anggap biasa sewaktu kita kecil, nak cita-citamu kalo sudah besar mau jadi apa. Atau kita masih hapal ungkapan gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jadi apakah cita-cita itu hanya untuk anak-anak yang lahir dari keluarga mampu, sedangkan cita-cita yang keluar dari lidah anak jelata hanya dianggap sebagai mimpi yang tak pasti. Kini semua hanya tinggal sekedar untaian kata penghibur  si anak dihadapan orang tua.

Namun seberapa dalam cita-cita itu mempengaruhi untuk seorang anak menjalani proses hidupnya sembari menggapai cita-citanya. Apa bila berhasil dengan cita-citanya apakah si anak bahagia atau cukup orangtuanya saja yang bangga. Tetapi apabila tidak tercapainya cita-cita si anak apakah si anak harus berduka atau orangtuanya yang malah murka. Karena cita-cita itu adalah keinginan bawah sadar yang hadir ketika seorang anak itu ada di fase merekam apa yang didengar dan dilihat, bukan dari pengaruh keinginan sosok diluar diri seorang anak.

Selanjutnya bagaimana caranya agar cita-cita seorang anak itu dapat tercapai, apakah ketika anak tumbuh dewasa tak ada perubahan untuk cita-cita nya yang ditanam sejak kecil. Ternyata dikenyataannya banyak manusia yang merasa terbelenggu dengan cita-citanya sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi cita-cita seorang anak saat tumbuh menjadi dewasa terutama lingkungan keluarga dan  sosial yang membentuknya. Sehingga cita-cita itu dapat berubah bahkan hilang dengan sendirinya. Coba saja ingat-ingat kembali apa yang menjadi cita-cita kita saat kecil dan bandingkan dengan kenyataan sekarang tanpa menghilangkan proses tumbuh kembangnya diri kita.

Dari semuanya itu ada pesan cita-cita yang dapat ditawarkan sejak kecil dan tak akan berubah sampai seorang anak itu tumbuh menjadi dewasa sekaligus menjadi barometer diri si anak ketika mengalami fase perubahan diri dan cita-cita ini tak akan didapat pada disiplin ilmu apapun pada bangku sekolah tingkat manapun.

Untuk anakku,,,
Cita-cita itu adalah berusaha menjadi manusia yang dapat memberikan manfaat kebaikan untuk sesamanya demi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri sesuai dengan kodrat yang telah di tetapkan oleh Sang Pencipta agar dapat menjaga dan merawat  keseimbangan yang telah diberikan-Nya bagi manusia…