Acara di trans 7 setiap hari siangnya menjadi suguhan yang menggambarkan betapa indahnya dunia masa anak-anak itu bebas bercengkrama dengan alam di sekitarnya,,ya Si Bolang,,itulah acara favorit si Azzam.

Tema yang dihadirkan begitu beragam yang menjadikan tokoh pada acara tersebut seolah kuat sejak dini karena langsung dididik oleh alam, jarang sekali terlihat peran orang tua disana walau konsep awalnya memang dikhususkan untuk mewariskan budaya bermain ala anak indonesia yang sebenarnya kini sangat jauh berbeda pada kenyataan.

Dunia anak memang dunia kesukaan dan kesenangan, Azzam sendiri banyak belajar dari acaranya Si Bolang apa saja yang menjadi tema cerita di perhatikannya sambil mengikuti gaya khas memakai topi dan membawa tas ransel kecilnya.. Sambil membawa apa saja yang menjadi alat bantu permainannya “Ayah..Bunda aku mau seperti Si Bolang boleh ngga…?

Itulah permintaan Azzam pada kami agar dia diizinkan main ala si Bolang walau ketika didalam rumah, tetapi ketika diluar rumah Azzam disuguhkan dengan “dunia “Si Bolang sebenarnya seperti anak-anank seusianya yang tak lagi dapat menikmati masa bermainnya hanya menunggu dan berkumpul disetiap perempatan lampu merah.

” Ayah..Bunda..anak-anak itu lagi apa,,lagi bermain juga sama seperti Si Bolang…??”
Itulah pertanyaan Azzam bila melihat teman sebaya nya dimana saja yang dilihatnya, dan kami menjawab anak-anak yang ada diperempatan lampu merah tadi sama seperti Si bolang, tapi mereka bukan sedang bermain tapi sedang mencari uang.

Ternyata jawaban kami itu tak menjadikan Azzam puas dia kembali bertanya..
” Aku boleh ga ikut mencari uang untuk aku tabung sendiri…biar aku bisa beli mainan pake uang ku sendiri…”

Mendengar pertanyan Azzam iku kami berkata.. “boleh..” sambil terus melaju dan bercengkrama kadang bercerita di atas kendaraan setia roda dua guna mengajarkan Azzam untuk melihat dunia sesungguhnya yang banyak terlihat dan terekam oleh matanya.

Kami memang orang tua biasa yang sedang  mencari cara yang tidak biasa dalam mencoba untuk akrab dengan Azzam dengan cara yang tidak biasa pula, yang penting  jiwanya dapat terhibur sambil menumbuhkan ketegaran pada hatinya yang mungkin akan diingat kelak saat Azzam tumbuh menjadi dewasa.

Kami ingin jiwa Azzam lepas dari “belenggu” keinginan orangtuanya, tanpa memaksa anak itu harus pintar, pandai, atau dipaksa untuk menguasai bidang tertentu. Kami hanya ingin Azzam itu kuat dan berhati lembut, dan membebaskan Azzam untuk mencoba mencari tahu apa yang dia mau kami hanya memfasiltasinya saja sambil berada dekatnya untuk menjawab semua pertanyaaan tentang penasarannya terhadap sesuatu.

Azzam kami bolehkan belajar apa saja tanpa dipaksa, dengan memberi sedikit stimulan agar dia sadar bahwa belajar itu akan bermanfaat untuk dirinya sendiri bukan untuk ayah bundanya.

Dan Azzam bebas memilih jam biologisnya sendiri juga tanpa dipaksa, sambil kembali menjelaskan semua yang akan dilakukan demi kebaikan nya sendiri, sebagai contoh ketika Azzam tak mau mandi kami hanya menjelaskan bahwa kulit kita itu mengeluarkan keringat dan keringat itu ada bakterinya yang bisa bikin kulit kita gatal apa lagi kalo Azzam habis bermian, kami bebaskan dia untuk berfikir dan memakai akal kecilnya sehingga dia sadar bahwa mandi itu adalah kebutuhan untuk badannya bukan karena paksaan ayah bundanya.

Cara ini pun berlaku untuk aktifitas lain nya seperti sholat, yang kami tanamkan bila kita ingin disayang Alloh kita perlu berdo’a dan Alloh itu suka kalo diminta. Sampai terkadang sering kami dengar permintaan do’a Azzam lebih banyak dari kami saat dia selesai melaksanakan sholat, sambil disebutkan dan mengangkat kedua tangan kecilnya untuk meminta segala jenis mainan, makanan, ingin kesana ingin kesini dan apa saja yang menjadi keinginan dikepalanya, walau diujung do’anya menjadikan hati kami terhibur oleh bait do’a untuk kedua orangtuanya.Bolang Kangguru

Dengan cara tersebut kami ingin mengajarkan pada Azzam konsep meminta dan bersyukur lewat berdo’a, karena tidak semua keinginannya mesti kami kabulkan sebelum dia berdo’a agar dia sadar bahwa rizki itu ada yang memberi dan kembali mengucap syukur dengan berterimakasih atas apa yang telah diberi untuk dirinya.

Beginilah kami, orangtua yang sedang belajar untuk menjadi orangtua, agar Azzam dapat mengerti kelak ketika dia diamanahkan kesempatan untuk menjadi orangtua seperti kami yang juga dapat belajar demi keluarganya sendiri.

Untuk Azzam dari AyahBunda.