Bismillahirrohmannirrohim…

Rumah dan Tangga, dua suku kata yang apa bila dipisah mempunyai makna arti yang berbeda. Rumah adalah sebuah bentuk yang fungsinya sebagai tempat bernaung dari panas dan hujan, sedangkan Tangga adalah sebuah alat untuk membantu agar bisa mencapai tempat tertentu yang lebih tinggi. Tetapi apa bila dua suku kata ini di gabungkan menjadi lain lagi arti dan maknanya. Rumah tangga diartikan seperti mencerminkan sebuah komunitas kecil yang terdiri dari manusia-manusia yang diawali oleh perasaan cinta lalu diikat oleh sebuah ikatan hati juga percampuran darah yang disebut keluarga. Di dalam Rumah tangga terbagi fungsi dari masing-masing anggotanya, ada Ayah, Ibu, dan anggota terkecilnya adalah Anak.

Seorang ayah akan menjadi “nahkoda” dalam mengarahkan kemana ‘sampan kecil ‘ ini akan berlayar dan menentukan tempat untuk berlabuh. Seorang ibu akan menjadi pendamping yang akan mengimbangi sang nahkoda dalam menentukan arah dan tujuan, dan sang anak menjadi penumpang setia yang akan selalu ikut serta kemana saja ‘sampan kecil ‘ ini berlayar tanpa perlu menanyakan kemana dan kapan akan berlabuh. Rumah tangga, ‘sampan kecil’, Ayah, Ibu, Anak, Nahkoda, Arah tujuan, Berlayar, Berlabuh, semua itu hanya contoh kecil nama lain dari keluarga dan kita semua pernah berada di posisi yang sama pada zaman dan waktu yang berbeda tentunya.

Perjalanan sebuah keluarga tidak semuanya berjalan sesuai rencana, karena ada faktor-faktor yang berada diluar kekuasaan manusia, juga bisa jadi karena perbedaan antara penentu kebijakan didalam keluarga itu sendiri. Sebelumnya seorang ayah sebagai kepala keluarga bebas menentukan arah untuk membawa ‘sampan kecilnya’ berlayar. Sedangkan seorang ibu bebas tidak dipaksa akan mendampingi ‘nahkoda’ atau memilih sebagai penumpang. Sementara seorang anak bebas untuk menikmati perjalanannya atau memilih sambil banyak bertanya kepada ‘sang nahkoda’ tentang arah tujuan ‘sampan kecil’ yang sedang dikendalikannya.

Uraian kisah diatas belum ditambah datangnya rintangan dalam perjalanan ‘sampan kecil’ tadi seperti,  angin, badai, ombak, kain layar yang sobek, tak ada kompas, lantai sampan yang bocor, dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi juga dapat ditemui. Lalu bagaimana seorang ayah, ibu dan anak menghadapi segala rintangan yang pasti datang menerpa ‘sampan kecilnya’ agar tidak karam,,,? Kita semua pasti punya cara dan jawaban sendiri bila kita berada pada kondisi dan posisi seperti diatas, tentu cara kami juga akan berbeda bila kondisi tersebut sedang menerpa ‘sampan kecil’ kami.

Semua yang telah menjadi bagian dari komunitas kecil dalam keluarga tadi hendaknya sudah saling mengenal satu sama lain. Seorang suami kenal betul siapa yang menjadi istrinya, seorang ayah akan mengenali siapa anaknya, tentu bukan sekedar kenal secara fisik tetapi mengenal lebih dalam apa yang menjadi karakter dasar dari anggota komunitas kecil ini. Ketika semua sudah belajar saling mengenal, bisa dipastikan kepercayaan itu akan timbul dengan sendirinya, tinggal bagaimana kita bisa pandai merawat kepercayaan yang ada pada masing-masing anggota keluarga.

Pastinya kita yang lebih tau kelebihan dan kekurangan anggota keluarga kita, kita juga yang lebih tau akan memberikan pendidikan seperti apa pada anak-anak kita, dan kita yang lebih tau akan dibentuk seperti apa keluarga kita, bukan orang lain…! Oleh karena itu kami sekarang sedang dalam fase belajar untuk menjadi orangtua. Belajar mengenali dan memahami fungsi kami sebagai manusia dewasa yang juga sekaligussebagai orangtua.

Belajar bukan hanya hak untuk anak semata tetapi kami juga membutuhkan pembelajaran untuk menjadi orangtua yang dapat menjadikan anak-anaknya bahagia secara lahir dan batin tanpa memaksa akan dibentuk seperti apa asset masa depan keluarga kami ini. Karena kami pernah ada dalam kisah yang lewat menjadi seorang anak dan memiliki orangtua, kini giliran kami yang ada pada posisi itu, dan ternyata tidak mudah untuk kami menjalankan peran sebagai orangtua.

Akhirnya penutup coretan kisah ini, do’akan kami agar kami dapat terus belajar dan terus belajar bersama-sama keluarga kecil kami tentang apa saja, dimana saja dengan sadar agar dapat bernilai manfaat setidaknya untuk anak-anak kami juga sebagai pertanggung jawaban kami di hadapan “Sang Pencipta”, dan kami sebagai orangtua yang baru belajar ini memohon do’a kelak anak-anak kami juga dapat belajar menjalankan perannya pada zaman yang pasti berbeda sebagai orangtua untuk keluarganya sendiri suatu saat nanti.

Banjarmasin 26 Februari 2011