Siapa yang tak kenal bapak yang satu ini, seorang yang juga pernah menjadi “Journalist Investigator” yang jarang diketahui oleh khalayak. Setiap sabtu pagi ketika semua orang terbangun dan menggunakan hari liburnya untuk rehat, disuguhkan dengan tema kuliner yang dapat dilakukan sambil berwisata. “Pokok’e Maknyus” itulah slogan acara yang membawa pak bondan menjadi ikon disemua rumah dan tempat makan yang menyajikan berbagai hidangan yang bisa membuat perut kita keroncongan ingin ikut mencoba.

Sambil keliling kampung, kota, bahkan sampai keluar negeri hanya untuk dapat mencicipi kuliner khas daerah yang sedang dikunkungi. Acara ini adalah tontonan penghibur bagi keluarga kami. Saat anak kami si Azzam masi berusia 16 bulanan dia ternyata sudah cukup nalar untuk mencoba menikmati sajian yang ada di televisi yang ada tepat didepan tempat tidurnya, nyaris setiap sabtu pagi setelah bangun tidur  hiburannya ‘ngeliatin’ pak bondan makan.

Pada awalnya kami tidak terlalu memperhatikan tingkah polah si Azzam saat menyaksikan acara wisata kulinernya pak bondan. Mungkin karena terlalu sering melihat bermacam hidangan dan ekspresi pak bondan saat mencicipi makanan itulah si Azzam mulai terlihat ketertarikannya. Suatu pagi seperti biasa pas acara pak bondan sedang dimulai si Azzam tanpak sibuk ikut mengambil peralatan makanannya di dapur, memang sudah kami biasakan untuk ia belajar mengambil dan menaruh alat-alat makannya itu sendiri.

Tiba-tiba si Azzam menyodorkan mangkuk kesayangannya itu kedepan televisi saat pak bondan sedang menyantap hidangan, sambil sesekali mengaduk-ngaduk mangkuk kosongnya dengan sendok. Berulang kali si Azzam bergumam dan masih kurang fasih ia menempelkan mangkuk nya ke televi sambil bilang “Mau…”Mau…’Mau”… Kontan kami berdua terperangah sambil saling bertatapan muka dan tidak bisa menahan ketawa melihat si Azzam “minta” diajak makan bareng artis favoritnya dalam acara wisata kulinernya pak bondan.

Sejak kejadian itu kami selalu menyiapkan hidangan favorit ala keluarga kami yaitu “nasi goreng + martabak mie” untuk menjadi menu kami sambil menikmati sajian acara di sabtu pagi.  “Sesekali si Azzam terlihat menirukan gaya pak bondan dengan bahasa sebisanya sambil mulutnya terus lahap mengunyah masakan yang dibuat oleh ayah bundanya…”

Kini si Azzam tak pernah lagi memilih-milih makanan, apapun yang dihidangkan ayah bundanya selalu habis dimakan tanpa sisa ( jadi tidak mubazir ). Apapun menunya selalu berakhir “Pokok’e Maknyus”. Si Azzam jadi tertarik oleh berbagai macam masakan, kadang ia suka ikut terlibat pergulatan ayah bundanya didapur yang sedang bingung menentukan akan memilih menu apa untuk dihidangkan. Kami pun merasa sangat terbantu dengan acaranya pak bondan, si Azzam jadi doyan makan dan tidak bosan. Tinggal kami yang memilihkan makanan apa saja yang boleh dan sehat juga baik dan halal tentunya untuk ia santap.

Ternyata cukup sederhana menjadikan suasana dalam rumah kita menjadi lebih bermakna. Dengan kemasan seadanya suasana biasa jadi punya nilai apabila kita dapat menjadikan sesuatu apapun itu dengan penuh rasa suka cita. Kini kami masi tetap menjalankan “ritual” makan bersama dengan menu favorit tentunya, bukan hanya di sabtu pagi saja tetapi setiap hari, sungguh menyenangkan,,. Terimakasih Tuhan.