Tak ada kesempatan atau tidak kebagian kesempatan untuk merubah nasib di kampung sendiri menjadi dasar yang umum terjadi untuk orang-orang pergi meninggalkan tanah kelahiran menuju daerah lain bahkan lintas negara demi mencari cara hidup yang mereka anggap layak, seperti jutaan srigala menyerbu kota besar sebab tempat asal serasa neraka.

Bisa jadi memang peluang yang sangat terbatas sehingga untuk menciptakan peluang itu hanya diambil dan dimiliki oleh segelintir orang yang punya akses kekuasaan, mungkin juga untuk sebagian  orang ada yang berani merubah cara hidupnya dari bergantung pada manusia untuk kembali hanya bergantung pada Sang Pemilk jiwa yang memang sudah sepantasnya, sehingga ketakutan menjalani peran hidup dapat diatasi dengan caranya sendiri sesuai dengan yang sudah digariskan.

Ketika tempat tujuan telah dipilih, jarak yang jauh pun telah ditempuh disitulah kisah ini berawal, segala prioritas kebutuhan menjadi sederet agenda yang terus memburu setiap perantau, dari bagaimana mencari kerja untuk mendapat penghasilan untuk tempat bernaung, sementara rasa lapar tak bisa ditahan dalam waktu yang lama, apa saja akan dilakukan apabila sudah berhadapan dengan urusan perut, klasik ,kuno, tapi inilah kenyataannya.

Keras memang jalan hidup yang sudah menjadi pilihan dan tau benar konsekuensi yang diterima, sabar menjadi penghilang dahaga, ikhtiar menjadi pengganjal lapar, do’a menjadi mimpi indah yang akan merubah nasib yang sedang dijalani.

Tak ada batas waktu untuk perantau menjalani hidupnya, kadang sampai nyawa ini terlepas dengan sendirinya.

Banjarmasin 06 januarai 2011 21;40 wita