RSS

Category Archives: Kurikulum Home Education Azzam

Muwashofat Panduan Stimulasi Azzam,,,

Sebenernya muwashofat ini sudah dibuat sebelum ayah dan bunda menyusun kurikulum berdasarkan Qur’an dan hadits,, Muwashofat ini semula dibuat sederhana (hanya sebagai guideline, karena bundanya merasa perlu arah) dan tidak diniatkan punya waktu khusus sebagai target,,

Pada waktu membuat catatan seperti ini

    1. Aqidah: Mengenal Alloh, Mengenal Rasulullah, mengenal AlQuran
    2. Ibadah: Sholat. Menghafal Al Quran: Al fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas, Menghafal Doa,  Mengenal dasar membaca Quran (Iqro)
    3. Akhlaq/ kebiasaan baik: Berdoa sebelum aktivitas, berinfaq,  merapikan mainan setelah bermain, membuang sampah ditempatnya, membantu waktu diminta dan atau menawarkan bantuan
    4. Kemandirian: Bisa tidur sendiri, ketoilet dan pake baju sendiri, makan sendiri.
    5. Sosialisasi: Terbisa bilang “terima kasih”, “tolong”, meminta maaf (bersikap baik pada orang lain), cium tangan pada orang tua, mengucapkan salam, memperkenalkan diri sendiri (konsep aku)
    6. Membaca: Mengenal alphabet, merangkai suku kata, membaca kata, membaca kalimat.
    7. Matematika: Mengenal simbol angka, mengenal konsep jumlah, menjumlah dan mengurangi, membaca jam, mengenal nilai uang
    8. English: Face, body, color, house, etc
    9. Science and Concept: konsep pagi, siang, sore, Nama Hari, Nama Bulan
    10. Motorik Kasar: Lari, Lompat satu kaki, lempar dan nendang bola, BERENANG
    11. Motorik halus: Mewarnai dan menggambar, Menggunting dan mengelem, menggambar bentuk khusus, menulis

sama sekali ngga punya time line,, Dengan sadar Ayah dan Bunda hanya berusaha menstimulus Azzam dan berusaha memaksimalkan potensi yang sudah Alloh karuniakan pada Azzam,,

Sampai akhirnya kami merasa harusnya bisa memiliki panduan yang jelas berdasarkan apa apa yang dinashkan dalan Quran dan Hadits,, Kami merasa telah dibukakan pintu oleh Alloh untuk menyusun kurikulum kami dengan dasar yang jelas,, Alhamdulillah,, kami berproses dan dengan pertolongan Alloh kami berusaha terus berproses,,

Sesudah membuat catatan, bunda berusaha memasukkan dalam tabel supaya (menurut bunda) lebih enak dilihat

Lagi lagi, usia untuk kami rasanya tidak akan terlalu mengikat,, (kecuali sesuatu itu sudah di contohkan dalam hadits yang sudah kami resapi dari kurikulum yang kami tulis sebelumnya)

Seperti untuk hafalan Al Qur’an, awalnya bunda dan ayah ngga punya target sama sekali untuk harus menghafal seberapa banyak,, Tetapi ternyata Alloh karunaiakan lain,, Azzam (subhannalloh) bisa menghafal dengan cukup cepat,, Diusianya sekarang (4 th) Azzam sudah menghafal sampai Surat Az Zalzalah (start dari An Nas) itupun hampir karena lebih banyak mendengar (baik yang dipakai ayah dalam sholat, murotal, atau “senandung” bunda sambil nemenin Azzam main),,

Untuk doa doa pun seperti itu,, doa doa yang ditulis dalam tabel sudah seluruhnya Azzam hafal dan insyaalloh selalu dibaca pada waktunya dan doa ditabel itu ditambah terus karena Azzam belum 5 tahun,, Semua doa dihafal Azzam karena sejak Azzam bayi, ayah dan bunda sudah selalu melantunkan doa ditelinganya dan bukan karena bunda atau ayah meminta Azzam menghafal doa doa itu,, Karena Doa itu adalah kebutuhan bukan sekedar “hafalan” yang harus disetor,,

Pun untuk keterampilan membaca Indonesia, membaca Iqro atau Al Qur’an, semuanya mengalir mengikuti karunia potensi yang Alloh berikan,,

Segala puji bagi Alloh,,

Wahai Robbul ‘Aliim,, kami sadari benar pajang jalan kami,, Panjang jalan untuk berusaha menyiapkan diri menunggu satu masa yang Kau janjikan seperti yang telah terucap dari lisan manusia mulia Muhammad saw.

Dari shahabat Hudzaifah:

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثَمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكاً عَاضًّا فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكاً جَبْرِيًّا فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. ثُمَّ سَكَتَ

“Akan ada masa kenabian pada kalian selama yang Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Allah menghendaki. Lalu akan ada masa khilafah di atas manhaj nubuwwah selama Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada masa kerajaan yang sangat kuat selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada masa kerajaan (tirani) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi masa kekhilafahan di atas manhaj nubuwwah.“ Kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad, No 17.680, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam As Silsilah Ash-Shahihah no. 5)

Waktu itu pasti datang,, Khilafah ‘ala Minhaj an Nubuwwah,, jika tidak dimasa kami Ayah dan Bunda, insyaalloh masa itu akan datang dimasanya Azzam,, Kami hanya ingin menyiapkan Azzam agar dimasanya nanti dia bisa bermanfaat untuk ummat dengan karyanya,, Insyaalloh,,,

Tidak mudah,, Tapi dengan penjagaan-Mu duhai Robbul Hafiidz,, kami yakin akan terpelihara,, Dengan kehendak dan karunia-Mu wahai Robbul Wahhaab,, semua menjadi mudah,,

Ridhoi kehidupan kami Alloh,, agar kelak syurga-Mu menyambut kami dengan ridho pula,, aamiin yaa robbal ‘alamiin,,

 

Tags: ,

Kurikulum Homeschooling Azzam : 3. Adab dan Sopan Santun (bagian 3),,,

Merasa Cukup dan Puas dengan karunia Rizki dari Alloh (Qona’ah)

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya”  HR Muslim (no. 1054)

والذين يؤتون ما آتوا وقلوبهم وجلة أنهم إلى ربهم راجعون

Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina’.”QS Al-Mukmin: 60,

Dengan bahasa yang sederhana mencoba menanamkan sifat Qona’ah (merasa cukup dengan apa yang ada) pada Azzam dalam berkeinginan,,

Baik ketika menginginkan sesuatu yang dia minta pada ayah dan bunda atau ketika melihat milik orang lain,, membiasakan berdoa dan menabung ketika berkeinginan

Juga terbiasa untuk mandiri dalam mengerjakan sesuatu (tidak mudah meminta tolong ketika mampu mengerjakan sendiri)

Melatih Azzam untuk merasa cukup dengan apa apa yang telah Alloh karuniakan,,

ولا تتمنوا ما فضل الله به بعضكم على بعض للرجال نصيب مما اكتسبوا وللنساء نصيب مما اكتسبن واسألوا الله من فضله إن الله كان بكل شيء عليما

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.QS An Nisa’ :  32

Tidak Sombong/berjalan dimuka bumi dengan angkuh

ولا تصعر خدك للناس ولا تمش في الأرض مرحا إن الله لا يحب كل مختال فخور

واقصد في مشيك واغضض من صوتك إن أنكر الأصوات لصوت الحمير

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.(18). Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (19) QS Luqman: 18, 19

Tidak mengganggu orang lain dengan lisan dan tangan

“Seorang muslim yang baik adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR Al Bukhari)

Membiasakan Azzam untuk bisa menjaga lisan dan tangan,, Tidak suka mengolok olok atau berkata kasar dan tidak menggunakan tangannya untuk menyakiti orang lain.

Hadits Arbain ke 29

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ، قَالَ : لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ   عَظِيْمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيْرٌ عَلىَ مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ : تَعْبُدُ اللهَ لاَ تُشْرِكُ  بِهِ شَيْئاً، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ  الْبَيْتَ، ثُمَّ قَالَ : أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ   اللَّيْلِ، ثُمَّ قَالَ : } تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ.. –حَتَّى بَلَغَ-  يَعْمَلُوْنَ{ُ ثمَّ قَالَ : أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ وُعَمُوْدِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ؟ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ. ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ فَقُلْتُ : بَلىَ  يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالِ : كُفَّ  عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمَ بِهِ ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ   يَكُبَّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ : عَلىَ مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ . [رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث  :

Dari Mu’az bin Jabal radhiallahuanhu dia berkata : Saya berkata : Ya Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam surga dan menjauhkan saya dari neraka, beliau bersabda: Engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah ta’ala, : Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji. Kemudian beliau (Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam) bersabda: Maukah engkau aku beritahukan tentang pintu-pintu surga ?; Puasa adalah benteng, Sodaqoh akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail), kemudian beliau membacakan ayat (yang artinya) : “ Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….”. Kemudian beliau bersabda: Maukah kalian aku beritahukan pokok dari segala perkara, tiangnya dan puncaknya ?, aku menjawab : Mau ya Nabi Allah. Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah Jihad. Kemudian beliau bersabda : Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu ?, saya berkata : Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda: Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata: Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?, beliau bersabda: Ah kamu ini, adakah yang menyebabkan seseorang terjungkel wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka .

(Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih)

Berkata yang baik atau diam, menghormati tetangga dan memuliakan tamu

Hadits Arbain ke 15

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ   [رواه البخاري ومسلم]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw bersabda, ”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari)

Memberi dan Berbagi dengan tidak menyebutkan apa yang telah diberikan

”Adapun orang yang memberikan hartanya dan bertakwa, serta membenarkan keyakinan yang benar berikut balasannya, maka akan Kami mudahkan baginya keadaan yang mudah. Adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya tidak butuh kepada Allah, serta mendustakan keyakinan yang benar berikut balasannya, maka akan Kami mudahkan baginya keadaan yang sukar.” (Al-Lail: 5-10)
”Orang-orang yang bakhil dan menyuruh orang lain untuk berbuat bakhil, serta menyembunyikan karunia yang telah Allah berikan kepada mereka, dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir adzab yang menghinakan.” (An Nisa`: 37)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Perumpamaan orang yang bakhil dan orang yang suka berinfak seperti dua orang yang memakai jubah besi yang dia masukkan dari dada hingga kerongkongannya. Adapun orang yang suka berinfak, setiap kali dia berinfak jubahnya bertambah longgar dari kulitnya, sampai akhirnya menutupi jari-jemarinya dan menghapus jejak langkahnya (karena panjangnya, pen.). Adapun orang yang bakhil, setiap kali dia akan berinfak, maka menyempitlah baju besi itu, dia ingin melonggarkannya, tapi jubah itu tetap tidak bertambah longgar.” (HR. Al-Bukhari no. 1443)

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang pada saat itu tidak ada jual beli, tidak ada hubungan kasih sayang dan tidak ada pula syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim.” (Al-Baqarah: 254)

Melatih Azzam untuk tidak bakhil karena sesungguhnya apa yang kami punya adalah karunia Alloh swt. Dan Alloh akan memberi balasan yang jauuuh lebih baik dari apa yang kami keluarkan,,

قل إن ربي يبسط الرزق لمن يشاء من عباده ويقدر له وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه وهو خير الرازقين

 “Dan apa pun yang kalian infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rizki.” (Saba`: 39)

مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مئة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al baqarah : 261)

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(Al baqarah : 262)

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (Al Baqarah : 263)

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(Al Baqarah 264)

Dan seterusnya sampai ayat 274

“Maka bertakwalah kalian kepada Allah sekuat kemampuan kalian, dengar dan taatlah kalian kepada-Nya, serta infakkanlah harta yang baik bagi diri kalian, dan barangsiapa dilindungi dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (At-Taghabun: 16)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada suatu hari yang dimasuki oleh seorang hamba, kecuali pada hari itu ada dua malaikat yang turun. Salah seorang dari mereka berdoa, ‘Ya Allah, berikan ganti pada orang yang menginfakkan hartanya.’ Yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kemusnahan harta pada orang yang tidak mau memberi’.” (HR. Al-Bukhari no. 1442)

Rasul teladan yang mulia,,,

Rasul tak pernah menolak apabila beliau diminta. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

“Tak pernah sekalipun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu kemudian beliau mengatakan ‘tidak’.” (HR. Muslim no. 2311)

Diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

”Ada seseorang meminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kambing sebanyak antara dua bukit. Beliau pun memenuhi permintaannya. Maka orang itu mendatangi kaumnya sambil berkata, ’Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad itu suka memberi dengan pemberian yang dia sendiri tidak khawatir akan fakir!’ Anas mengatakan, ’Tadinya orang itu masuk Islam karena menginginkan dunia, sampai akhirnya setelah masuk Islam, Islam lebih dia cintai daripada dunia seisinya’.” (HR. Muslim no. 2312)

’Abdullah bin ’Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan, ketika Jibril menemui beliau. Jibril biasa menemui beliau setiap malam sepanjang bulan Ramadhan, lalu mengajari beliau Al-Qur’an. Maka ketika itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan untuk memberikan kebaikan daripada angin yang bertiup kencang.” (HR. Al-Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan, hadits ini memiliki beberapa faedah, di antaranya penjelasan tentang besarnya kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta disenanginya memperbanyak kedermawanan ini pada bulan Ramadhan. (Syarh Shahih Muslim, 15/68)

Tidak berlaku boros / mubadzir

Selain membiasakan untuk qona’ah, tidak meminta minta, tidak “menginginkan” apa yang dimiliki orang lain, senang berbagi, Azzam juga dibiasakan untuk tidak berlaku mubadzir dan tidak berlebih lebihan, dari sini kami membiasakan Azzam menabung jika ada uang yang tercecer di rumah dan jika Azzam menginginkan sesuatu,,

Insya alloh Azzam dilatih untuk Mujahadatun Linafsihi (Continence) Bermujahadah dalam nafsunya

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al Araf ; 31)

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.(26). Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (27) (QS Al Isra’ ; 26 – 27)

Adab menjaga kebersihan diri

Dari Aisyah r.a, Rosululloh SAW bersabda : Islam itu agama yang bersih, maka hendaknya kamu menjadi orang yang bersih, sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih (HR.Tabrani)

Sesungguhnya Allah baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, murah hati dan senang kepada kemurahan hati, dermawan dan senang kepada kedermawanan. Karena itu bersihkanlah halaman rumahmu dan jangan meniru-niru orang-orang Yahudi. (HR. Tirmidzi)

Fitrah manusia ada lima yaitu dikhitan (disunat), mencukur rambut kemaluan, menggunting (merapikan) kumis, memotong kuku (kuku tangan dan kaki) serta mencabuti bulu ketiak. (HR. Bukhari)

Wahai Abu Hurairah, potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang. (HR. Ahmad)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, “Siwak merupakan kebersihan bagi mulut  sekaligus keridhaan bagi Rabb.” (HR Ahmad)

Dari Ali bin Abi Thalib RA berkata telah bersabda Rasulullah SAW: Kalau seandainya tidak akan merepotkan ummatku, maka aku akan perintahkan kepada mereka membersihkan gigi pada setiap wudhu (HR Thabrani). Dari Abi Hurairah RA ‘sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : Seandainya tidak akan merepotkan ummatku, maka aku akan perintahkan kepada mereka untuk membersihkan gigi (bersiwak) pada setiap akan shalat. (HR Bukhari dan Muslim).

Nabi Muhammad SAW mencontohkan bersiwak setiap kali bangun tidur, termasuk saat bangun malam. (Riwayat Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)

Dari Ali ibn Thalib Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah memerintahkan kami bersiwak: ‘Sesungguhnya seorang hamba jika berdiri menunaikan shalat, malaikat lalu mendatanginya, berdiri di belakangnya mendengar bacaan al-Qur`an dan mendekat. Malaikat terus mendengar dan mendekat sampai ia meletakkan mulutnya di atas mulut hamba tersebut, hingga tidaklah dia membaca satu ayat pun kecuali malaikat berada di rongganya.” (Riwayat Baihaqi)

Sesungguhnya banyak siksa kubur dikarenakan kencing maka bersihkanlah dirimu dari (percikan dan bekas) kencing. (HR. Al Bazzaar dan Ath-Thahawi)

Janganlah kamu kencing di air yang tidak mengalir kemudian kamu berwudhu dari situ. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Dari Abi Hurairah, Rasul bersabda: Apabila salah seorang di antaramu bangun dari tidur, maka janganlah ia memasukkan tangannya kepada wadah (yang ada makanannya) sebelum ia mencucinya tiga kali. Maka sesungguhnya ia tidak tahu ke mana tangannya itu pada waktu ia tidur (Muttafaqun ‘alaihi).

Alhamdulillah,,, Semoga Alloh mudahkan kami untuk terus mentarbiyah Akhlaq kami,, aamiin,,,

Insyaalloh sedang mencoba menyusun (sambil menjalankan),,,

Kurikulum Homeschooling Azzam : 4. Menyuruh anak untuk beribadah ketika telah memasuki usia 7 tahun,,, dan

Kurikulum Homeschooling Azzam : 5. Mendidik anak untuk mencintai Rasul, keluarganya dan membaca Al Quran,,,

Yaa Robbul ‘aliim,, mudahkan dan berkahi proses belajar kami,, Tambahkanlah ilmu dan pemahaman yang akan mengantarkan kami menuju jannahMu,, Aamiin yaa Robbal ‘alamiin,,

 

Tags: , ,

Kurikulum Homeschooling Azzam : 3. Adab dan Sopan Santun (bagian2),,,

“Apabila anak  telah mencapai 6 tahun, maka hendaklah diajarkan adab sopan santun” (HR. Ibnu Hibban)

Adab makan minum

يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. (Al-Baqarah: 172).

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu.” (HR. Bukhari no. 5376, Bab Membaca Basmalah ketika Makan dan Makan dengan Tangan Kanan; Muslim no. 2022, Bab Adab Makan-Minum dan Hukumnya)

Ketika lupa membaca Basmallah di awal

 “Apabila salah seorang diantara kalian hendak makan, maka ucapkanlah: ‘Bismilah.’ Dan jika ia lupa untuk mengucapkan Bismillah di awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillahi Awwalahu wa Aakhirahu (dengan menyebut nama Allah di awal dan diakhirnya).’” (HR. Daud)

“Barangsiapa telah selesai makan hendaknya dia berdo’a: “Alhamdulillaahilladzi ath’amani hadza wa razaqqaniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin. Niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Daud, Hadits Hasan)

“Aku tidak makan dengan bertelekan/bersandar, sesungguhnya aku seorang hamba, aku makan sebagaimana seorang hamba makan dan aku duduk sebagaimana seorang hamba duduk.” (HR. Al-Bukhari)

Abu Hurairah radhiallahu anhu menjelaskan: “Rasulullah shallallahu alaihi wasalam tidak pernah mencela makanan, apabila beliau menyukainya ingin beliau memakannya, jika tidak suka , beliau meninggalkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan menggunakan tiga jari.” (HR. Muslim, HR. Daud)

“Apabila salah seorang diantara kalian telah selesai makan maka janganlah ia mengusap tangannya hingga ia menjilatinya atau minta dijilati (oleh Isterinya, anaknya).” (HR. Bukhari Muslim)

Dari Ka’ab radhiallahu anhu , ia berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasalam makan dengan menggunakan tiga jari dan tatkala selesai beliau menjilat ketiga jarinya itu.”(HR. Muslim)

 “Apabila sepotong makananmu jatuh, maka ambillah dan bersihkanlah apabila ada bagian yang kotor, kemudian makanlah (setelah bersih), jangan membiarkan makanan itu diambil oleh syaitan.” (HR. Muslim).

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk menghirup udara (bernafas) di dalam gelas (ketika minum) dan meniup di dalamnya.” (HR. At Tirmidzi dan Al-Bukhari dengan lafazh lain)

Dari Abu Hurairah radiallahuanhu, ia berkata: “Rasulullah melarang seseorang minum dari mulut tempat minuman atau teko.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu bejana yang lebih buruk daripada memenuhi perutnya. Cukuplah bagi anak Adam dengan beberapa suap untuk menopang punggungnya. Apabila tidak bisa, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, hasan shahih).

Adab tidur

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘allaihi wasallam membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” [Hadist Riwayat Al-Bukhari No. 568 dan Muslim No. 647 (235)]

“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat.” (HR. Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710).

“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan ‘bismillah’, karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” (HR. Al Bukhari No. 6320, Muslim No. 2714, At-Tirmidzi No. 3401 dan Abu Dawud No. 5050).

Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710). “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350).

Do`a Sebelum Tidur

“Bismikallohumma amutu wa ahya” artinya: Dengan namaMu aku mati dan aku hidup. (HR.Bukhari Muslim)

Mengatupkan dua telapak tangan lalu ditiup dan dibacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas kemudian dengan dua telapak tangan mengusap dua bagian tubuh yang dapat dijangkau dengannya dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan, hal ini diulangi sebanyak 3 kali (HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari XI/277 No. 4439, 5016 (cet. Daar Abi Hayan) Muslim No. 2192, Abu Dawud No. 3902, At-Tirmidzi)

Doa Bangun Tidur

“Alhamdullilahilladzi ahyana ba`da ma amatana wa iliahi nusyur.” artinya, “Segala puji bagi Alloh yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami dan kepada-Nya-lah kita dikembalikan.”
(HR. HR. Al-Bukhari No. 6312 dan Muslim No. 2711)

“Maka bangunlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari tidurnya kemudian duduk sambil mengusap wajah dengan tangannya.” (HR. Muslim No. 763)

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak. (HR. Al Bukhari No. 245 dan Muslim No. 255)

“Apabila salah seorang di antara kamu bangun tidur, janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana, sebelum ia mencucinya tiga kali.” (HR. Al-Bukhari No. 162 dan Muslim No.278)

Anak laki-laki dan perempuan hendaknya dipisahkan tempat tidurnya setelah berumur 6 tahun. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi)

Tidak diperbolehkan tidur hanya dengan memakai selimut, tanpa memakai busana apa-apa. (HR. Muslim)

Jika bermimpi buruk, jangan sekali-kali menceritakannya pada siapapun kemudian meludah ke kiri tiga kali (diriwayatkan Muslim IV/1772), dan memohon perlindungan kepada Alloh dari godaan syaitan yang terkutuk dan dari keburukan mimpi yang dilihat. (Itu dilakukan sebanyak tiga kali) (diriwayatkan Muslim IV/1772-1773). Hendaknya berpindah posisi tidurnya dari sisi sebelumnya. (diriwayatkan Muslim IV/1773). Atau bangun dan shalat bila mau. (diriwayatkan Muslim IV/1773).

Tidak diperbolehkan bagi laki-laki tidur berdua (begitu juga wanita) dalam satu selimut. (HR. Muslim)

Adab masuk keluar kamar mandi

Doa masuk kamar mandi

Dari  Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila akan masuk WC membaca do’a.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَ الْخَبَائِثِ

“Allohumma inni a`udzubika minal khubutsi wal khobaits” “Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan” [Hadits Riwayat Bukhari no.142,5963 dan Muslim no.375]

Saat masuk gunakan kaki kiri dulu, keluar gunakan kaki kanan dulu

Doa keluar kamar mandi

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah keluar dari WC beliau membaca do’a’.

Ghufraanaka    Artinya : Aku mohon ampun kepadaMu” [Hadits Riwayat Ahmad VI/155, Abu Dawud no.30, Tirmidzi no.7 dan Ibnu Majah no.300]

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah keluar dari WC beliau membaca do’a’.

“Allhamduillahi al-ladzii adzhaba ‘annii al-adzaa wa ‘aafanii.”  Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan gangguan (kotoran) dariku dan telah menjadikan diriku dalam keadaan sehat. [Hadits Riwayat Ibnu Majah no. 301]

Adab buang air dan berhadats

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang dari kalian buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya. Akan tetapi hendaknya ia menyamping dari arah kiblat.” (HR. Al-Bukhari No. 394 dan Muslim No. 264)

Adab berpakaian

Dari Aisyah Ummul Mukminin beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukan yang kanan ketika bersuci, bersisir dan memakai sandal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi mengatakan, “Hadits ini mengandung kaidah baku dalam syariat, yaitu segala sesuatu yang mulia dan bernilai maka dianjurkan untuk mendahulukan yang kanan pada saat itu semisal memakai baju, celana panjang, sepatu, masuk ke dalam masjid, bersiwak, bercelak, memotong kuku, menggunting kumis, menyisir rambut, mencabut bulu ketiak, menggundul kepala, mengucapkan salam sebagai tanda selesai shalat, membasuh anggota wudhu, keluar dari WC, makan dan minum, berjabat tangan, menyentuh hajar aswad dan lain-lain. Sedangkan hal-hal yang berkebalikan dari hal yang diatas dianjurkan untuk menggunakan sisi kiri semisal masuk WC, keluar dari masjid, membuang ingus, istinjak, mencopot baju, celana panjang dan sepatu. Ini semua dikarenakan sisi kanan itu memiliki kelebihan dan kemuliaan.” (Syarah Muslim, 3/131)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian memakai sandal, maka hendaklah dimulai yang kanan dan bila dicopot maka hendaklah mulai yang kiri. Sehingga kaki kanan merupakan kaki yang pertama kali diberi sandal dan kaki terakhir yang sandal dilepas darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adab keluar masuk rumah

Doa saat keluar rumah

Bismillahi tawakaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illa billah

Artinya: “Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah.” (HR. Abu Daud, Tirmidzy dan Nasai)

Doa saat masuk rumah

Allahuma inni as aluka khoiral muulaji wa khoiral mukhroji bismillahi walajnaa wa bismillahi khorojnaa wa alalloohi rabbina tawakkalnaa

Artinya: “Ya Allah, aku minta kepadaMu baiknya rumah yang kumasuki dan rumah yang kutinggalkan. Dengan nama Allah kami masuk rumah, dengan nama Allah aku keluar rumah, serta kepada-Nya aku berserah diri. ” (dalil,,,???)

“,,,Maka apabila kamu memasuki  rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam kepada) dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” QS An Nur: 61

Adab masuk pasar

Doa masuk pasar

“La ilaha illallah wahdahu lasyarikalahu al-mulku wa lahu alhamdu yuhyi wa yumitu wa huwa hayyun layamutu bi yadihi al-khair wa huwa’ala kulli syaiin qadir.”

artinya,” Tiada ilah selain Alloh tiada sekutu bagi-Nya Dan Alloh adalah Maha Penguasa dan segala pujian hanya milik Alloh yang menghidupkan dan mematikan dan Alloh Hayyun tidaklah mati dan di tangan Alloh semua kebaikan dan Dialah Alloh atas setiap taqdir.” (HR. Ibnu Majah)

Adab ketika hujan, mendengar petir dan merasakan angin bertiup

Doa ketika hujan turun

“Allohumma shoyyiban naafi`an.”  artinya,”Ya Alloh turunkanlah hujan yang memberi manfaat.  (HR. Bukhari)

Doa ketika hujan sudah reda

“Muthirna bi fadhillillahi wa rohmatihi”  artinya, “Diturunkan hujan pada kami dengan fadhilah Alloh dan dengan rohmat-Nya. (H.R Bukhari dan Muslim)

Doa angin bertiup

“Allohumma inni as aluka khoiroha wa audzubika min syariha”  artinya. “Ya Alloh aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

ويسبح الرعد بحمده والملائكة من خيفته ويرسل الصواعق فيصيب بها من يشاء وهم يجادلون في الله وهو شديد المحال

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya (QS Ar Ra’d : 13).

Abdullah bin Az Zubair mendengar petir, dia menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan,

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

‘Subhanalladzi yusabbihur ro’du bihamdihi wal malaikatu min khiifatih’ (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).

 Adab masuk keluar masjid

Rasulullah shallallahu `alaihi wassalam bersabda
“Apabila salah seorang di antara kamu masuk masjid hendaklah ia mengucapkan salam atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian membaca doa : “Allaahummaftah lii abwaaba rahmatika.”
Artinya : Ya Alloh, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu. (HR.Muslim)

Doa keluar masjid

Allaahumma innii as’aluka min fadhlika
Artinya : Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu karunia-Mu. (HR. Muslim, Abu Daud, an-Nasa’I dan Ibnu Majah)

Insyaalloh disambung bagian 3,,

 

Tags: , ,

Kurikulum Homeschooling Azzam : 3. Adab dan Sopan Santun (bagian1),,,

 “Apabila anak  telah mencapai 6 tahun, maka hendaklah diajarkan adab sopan santun” (HR. Ibnu Hibban)

Berterimaksih

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من صنع إليه معروف فقال لفاعله: جزاك اللَّه خيراً، فقد أبلغ في الثناء

“Barangsiapa yang diberikan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dia ucapkan ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu)’ kepada orang yang memberi kebaikan. Sungguh hal yang demikan telah bersungguh-sungguh dalam berterimakasih.”

(HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi).

“Tidaklah berterima kasih kepada Allah siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia!” Demikian sabda Rasulullah saw. dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dengan sanad yang sahih dalam al-Adab al-Mufrad, hadis no: 218.

Mengucapkan salam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda yang artinya:
“Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Dan maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu jika kalian mengerjakannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkan salam diantara kalian.” (HR. Muslim)

Dari ‘Imran bin Hushain radiallau ‘anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan , ‘Assalaamu’alaikum’. Maka dijawab oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia duduk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sepuluh’. Kemudian datang lagi orang yang kedua, memberi salam, ‘Assalaamu’alaikum wa Rahmatullaah.’ Setelah dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia pun duduk, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Dua puluh’. Kemudian datang orang ketiga dan mengucapkan salam: ‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh’. Maka dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia pun duduk dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tiga puluh’.”
(Hadits Riwayat Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad , Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dan beliau meng-hasankannya).

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “(Hendaklah) orang yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 127]

Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah S.a.w bersabda, “(Hendaklah) orang yang naik kendaraan memberi salam kepada orang yang berjalan kaki, (sedangkan) orang yang berjalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk, dan kelompok yang sedikit memberi salam kepada yang banyak”. [HR. Bukhari  juz 7, hal. 127]

“Yang lebih baik dari keduanya adalah yang memulai salam.” (HR. Bukhori: 6065, Muslim: 2559)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dari ‘Abdullah bin Amr bin Ash radiallahu ‘anhuma, ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Islam bagaimana yang bagus?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Engkau memberi makan ( kepada orang yang membutuhkan), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhori: 2636, Muslim: 39)

Adab pada orang tua

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. QS Luqman : 14

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّـهُ وَبِالْوَلِدَيْنِ إِحْسَـناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا() وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.(23)  Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.(24)  (QS Al Isra’ : 23, 24)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (An Nisa: 36)

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rosululloh, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Alloh?’ Beliau menjawab, ‘mendirikan sholat pada waktunya,’ Aku bertanya kembali, ‘Kemudian apa?’ Jawab Beliau, ‘berbakti kepada orang tua,’ lanjut Beliau. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Alloh.’” (HR. Al Bukhori no. 5970)

Adab pada orang yang lebih tua atau lebih muda

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.”  (HR Bukhari dalam Al-Adab, Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 271)

Nabi saw. bersabda dalam hadits Malik bin Al-Huwairits:

“Bila waktu shalat telah tiba maka hendaklah salah seorang kalian mengumandangkan adzan dan orang yang paling tua mengimami shalat kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 628)

Disebutkan dalam hadits lain, bahwa Nabi saw. bersabda (yang) artinya:

“Yang mengimami manusia adalah orang yang pandai membaca (memahami) Al-Qur’an. Bila dari sisi bacaan Al-Qur’an mereka sama maka yang paling tahu tentang sunnah. Bila pengetahuan mereka tentang sunnah sama maka yang paling dahulu berhijrah. Bila dalam hijrah mereka sama maka yang paling tua umurnya.” (HR. Muslim)

Adab pada sesama muslim

Dari Abu Hurairoh radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima; menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, menghadiri undangan dan mendoakan orang yang bersin.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Insyaalloh disambung bagian 2,,

 

Tags: ,

Kurikulum Homeschooling Azzam : 2. Taat kepada Alloh (mentaati perintah menjauhi larangan),,,

Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa ia berkata : “Ajarkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan takut berbuat maksiat kepada Allah serta suruhlah anak-anak kamu untuk mentaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Karena hal itu akan memelihara mereka dan kamu dari api neraka”.

Untuk kami, seluruh ketaatan pada Alloh akan terbangun seiring dengan pengenalan kami pada Alloh,,, Ketaatan pada Alloh adalah tolak ukur syahadah kami,,

Merasai pengawasan Alloh

QS Al Baqarah : 255

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

QS Ali imran : 29

Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kami berusaha mengalirkan pengawasan yang sebenarnya, Pengawasan (murroqobah) Alloh atas diri Azzam. Kami sadar, murroqobbatulloh  lah yang pada akhirnya akan menjaga Azzam dari segenap keburukan yang akan dihadapinya,,

Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin dilakukan,, Menghadirkan kesadaran pada diri dan jiwa Azzam bahwa ia selalu diawasi dan dilihat oleh Alloh setiap waktu dan dalam setiap kondisi apapun,, Kamilah yang harus lebih dahulu merasakan dan dengan sendirinya Azzam akan menyerap energi murroqobatullah dari diri diri kami,,

Kami berharap hanya pada Alloh karena Allohlah yang maha menjaga hambaNya,,

Kami titip seluruh langkah pada Al Muhaimiin sang Maha Memelihara, Al ‘Aziz Maha Perkasa, Al Hafiidz Maha pemelihara , hanya padaNya lah kami meminta perlindungan, penjagaan dan pemeliharaan,, Kami meminta agar diri kami terlindung dari fitnah dunia hanya padaNya, kami memohon kekuatan untuk menghadapi ujian hanya pada Nya,, Alloh lah sebaik baik Penjaga dan Pemelihara,,

Kami mulai dengan menetapkan satu point yang kami anggap paling penting untuk mendasari langkah Azzam yaitu:

Berkata yang sebenarnya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 119)

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,“Peganglah kejujuran karena sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan menunjukan kepada surga. Seseorang selalu jujur dan memelihara kejujuran hingga tercatat di sisi Allah termasuk orang yang jujur. Dan hindarilah dusta karena kedustaan menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan menunjukkan kepada neraka. Seseorang selalu berdusta dan terbiasa berbuat dusta hingga tertulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim)

Insyaalloh masih akan terus disusun seiring perkembangan usia dan pemahaman Azzam,,

Rabbannaa mudahkan kami,, aamiin,,

 

Tags: , , , ,

Kurikulum Homeschooling Azzam : 1. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ,,,

Kami membuka pendidikan berbasis rumah kami dengan Kalimat Laa Ilaaha Illalloh,,

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi SAW. bahwa beliau bersabda :

“Bacakanlah kepada anak-anak kamu kalimat pertama dengan La Ilaha Illa Allah”.

وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar”.QS Lukman : 13

Tauhidullah

Mendekatkan Azzam (mengenalkan Azzam) pada Alloh Penciptanya dan memurnikan ketaatan hanya padaNya,,,  adalah tugas utama dan pertama kami sebagai orang tua,, maka kami, dengan memohon kekuatan dan penjagaan Alloh, perlahan melangkah,,

Membuka kebesaran Alloh lewat ayat ayat Qouli dan Kauni,, agar kami semakin tunduk,,

Kami harus mengalirkan ayat demi ayat,, Kami sadar ketundukan kami pada Alloh adalah energi nyata yang akan bisa diserap Azzam,, Maka kami harus terlebih dahulu mengevaluasi kebenaran pemaknaan kami akan Alloh dan sudahkah kami benar benar tunduk tanpa reserve,,

Ketundukan kami pada Alloh pada setiap gerak dan langkah hidup adalah contoh yang lebih nyata dari kata kata,, Bagaimana mungkin kami meminta Azzam untuk tunduk pada Alloh sementara kami sebagai orangtuannya  membangkang,,??

Oleh karenanya kami berproses bersama,, Saling belajar, saling  mendoakan dan saling mengingatkan,,

Rububiyatullah

Kami mengimani Alloh sebagai satu satunya Pencipta, Pemberi Rizqi  dan Pengatur segala urusan makhluq-Nya

قل من رب السماوات والأرض قل الله قل أفاتخذتم من دونه أولياء لا يملكون لأنفسهم نفعا ولا ضرا قل هل يستوي الأعمى والبصير أم هل تستوي الظلمات والنور أم جعلوا لله شركاء خلقوا كخلقه فتشابه الخلق عليهم قل الله خالق كل شيء وهو الواحد القهار

Artinya : Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS. Ar Ra’du : 16)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya : “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan pengelihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31)

“Alloh , Dialah yang mengirim angin lalu angin itu menggerakkan awan dan Alloh membentangkannnya menurut kehendak-Nya dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Apabila hujan itu mengenai hamba-hamba yang dikehendaki-Nya maka mereka pun merasa gembira.”
(QS. Ar Ruum :48)

Alloh sebagai Rabb,, Tidak ada yang bisa mengaku sebagai Nya,, Kisah Nabi Ibrahim (dengan raja Namruz)

“Sesungguhnya Alloh menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari arah barat. Maka orang (raja) kafir itu pun diam tidak bisa menjawab dan Alloh tidak memberi petunjuk  pada orang yang dzalim” (QS Al Baqarah: 258)

Uluhiyatullah

Kami mengimani Alloh sebagai satu satunya yang berhak di Ibadahi.

فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات والله يعلم متقلبكم ومثواكم

Artinya : “Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS. Muhammad : 19)

ُإياك نعبد وإياك نستعين

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (QS Al Fatihah : 5)

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163

Artinya : “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al An’am : 162 – 163)

قل الله أعبد مخلصا له ديني

Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. (QS Az Zumar : 14)

” Segala puji bagi Alloh yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak memiliki penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia (Alloh) dengan pengagungan sebesar-besarnya.”
(QS.Al Isro`:111).

“Termasuk tanda-tanda kekuasan Alloh adalah malam dan siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian sujud pada matahari dan bulan, tetapi sujudlah kepada Alloh yang menciptakan keduanya, jika kalian benar-benar mengibadahi-Nya.”
(QS. Fushilat:37)

Asma’ wa sifat

Dan kami mengimani Alloh, meniadakan yang setara dan semisal bagi dzat Alloh dalam sifat dan perbuatan-Nya.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4

Artinya : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas : 1 – 4)

Kami mengimani seluruh sifat yang Alloh sifatkan atas dzatNya

Kami mengimaniNya sebagai As-Samii’ Maha Mendengar, Al-Bashiir  Maha Melihat,Al ‘Aliim Maha Mengetahui bahwa tidak ada sesuatupun terlepas dari ilmuNya,  maka kami merasa murroqobahNya menyertai kami,, Kami takut pada Nya dan kami akan memaksa diri kami (suka ataupun tidak) berusaha sekuat tenaga untuk tidak bermaksiat pada Nya,,

Kami mengimaniNya sebagai Al Muhaimiin Maha Memelihara, Al ‘Aziz Maha Perkasa, Al Hafiidz Maha pemelihara maka kami hanya meminta perlindungan, penjagaan dan pemeliharaan padaNya,, kami meminta agar diri kami terlindung dari fitnah dunia hanya padaNya, kami memohon kekuatan untuk menghadapi ujian hanya pada Nya,, Alloh lah sebaik baik Penjaga dan Pemelihara,,

Kami mengimaniNya sebagai Al Baasith Maha Melapangkan, maka kami hanya meminta kelapangan hidup dunia dan akhirat pada Nya,,

Kami mengimani Alloh sebagai yang Al Wahhab memberi nikmat karunia, yang menganugerahi, dan yang hanya di tanganNya segala kebaikan, dan Al Qadiir Dia Mahakuasa atas segalanya, Dia Ar Razzaaq yang memberi rizki, Al Muqiit Yang Maha Pemberi Kecukupan, Al Barr  yang membalas dengan kebaikan, dan memuliakan hambaNya yang mukmin, yang seluruh asmaNya membawa kami pada mahabbah kepada Nya dan ber-taqarrub kepadaNya serta mencari apa yang ada di sisiNya,,

Kami mengimani Alloh sebagai Al Khaafidh yang Maha Merendahkan, Ar Raafi’ Maha Meninggikan, Al Mu’izz Maha Memuliakan, Al Mudziill Maha Menghinakan maka kami hanya peduli dengan penilaianNya kepada kami dan kami tidak peduli pada penilaian manusia,,

Kami mengimani Alloh sebagai sebagai Al Ghaffar Maha Pengampun, Ar Rahiim Maha Penyayang,  Al Kariim Maha Mulia, Ar Rauuf  Maha Belas Kasih, At Tawwaab senang pada taubat hambaNya, Al ‘Afuww mengampuni semua dosa dan menerima taubat orang yang bertaubat  maka semua itu membawa kami kepada taubat, istighfar juga membawa kami pada berbaik sangka dan tidak berputus asa pada rahmatNya,,

“Hasbiyallohu Laa Ilaaha illa huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa Robbul ‘arsyil ‘adzim” (QS 9, 129)

Cukuplah Alloh dengan segala asma dan sifatnya bagi kami, Tiada Illah kecuali Dia yang patut disembah dan diibadahi,, dan diberikan wala’ kami,, hanya padaNya lah kami bertawakal dan menyerahkan segala urusan sebesar atau sekecil apapun,, karena Dialah Robb Arsy yang Agung,,

Rukun Iman

Dasar

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

[رواه مسلم]

 Arti hadits / ترجمة الحديث :

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (Riwayat Muslim)

Mengimani Rasul saw.

Muhammad bin `Abdullah bin `Abdul Mutholib  shalallahu `alaihi wassalam. Keturunan Bani Hasyim dari suku Quraisy dari bangsa Arab.

Ayahnya bernama `Abdulloh bin `Abdul Mutholib meninggal sewaktu Muhammad saw. dalam kandungan dan bundanya bernama Aminah binti Wahb meninggal dan dimakamkan di Abwa` (saat ziarah ke makam ayahnya) pada saat Muhammad saw. berusia 2 tahun. Muhammad saw. disusui oleh Halimatus Sa`diyah.

Sepeninggal bundanya Muhammad saw. diasuh oleh kakeknya bernama `Abdul Mutholib sampai usia 8 tahun.
Sepeninggal kakeknya kemudian diasuh oleh pamannya bernama Abu Tholib.

Muhammad  shalallahu `alaihi wasaalam adalah seorang yang jujur lagi amanah sehingga dijuluki “Al Amin”.

Pada berumur 25 tahun beliau menikah dengan Khodijah binti Khuwailid yang kelak melahirkan 6 anak.
Muhammad diangkat menjadi Nabi saat di gua Hiro (QS. Al-Alaq:1-5) pada usia 40 tahun. Diangkat menjadi Rosul dengan QS. Mudatstsir. Rasul berda`wah selama 13 tahun di Mekah untuk menyeru kaumnya agar beribadah kepada Alloh saja tapi kebanyakan kaumnya menolak.

Akhirnya Alloh memerintahkan beliau bersama sahabatnya hijrah ke Madinah dan atas kehendak Alloh da`wah beliau berhasil dan setelah 10 tahun da`wah beliau diterima seluruh bangsa Arab. Setelahnya Rasul saw. kembali lagi ke kota Mekah dan beliau wafat sesudah melaksanakn Haji Wada`.

Rukun Islam

Dasar

“Agama yang benar dan diridhoi Alloh adalah Islam.”
(QS. Al Maidah:85)

“Barang siapa yang mencari agama selain Islam maka akan tertolak dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”
(QS. Al Maidah:19)

“Dan masuklah kalian kedalam Islam secara menyeluruh dan janganlah mengikuti jalan syaithon karena syaithon itu musuh yang nyata.”
(QS. Al Baqoroh:208)

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.[رواه الترمذي ومسلم ]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim)

Perlahan kami berproses,, memaknai dengan se-benar benar-nya dan berusaha mengamalkan dengan perbuatan se-sungguh sungguh-nya,,

Wahai Rabbul ‘aliim,, kami sadari benar kefaqiran ilmu dan kelemahan diri kami,, Hanya padaMu kami bermohon,, Yaa Wahhaab, karuniakan pada kami keluasan dan keberkahan ilmu,, Lindungi dan Jaga kami dari kelalaian kami Yaa Waliyy,, Kabulkan doa doa kami wahai Robbul Mujiib,, hanya pada Mu kami menyandarkan diri,, Allohu Robbul ‘arsyil ‘adzim,,

“Robbanaa atmimlanaa nuuronaa waghfirlanaa, innaka ‘alaa kulli syaiin qodiir,,”  ”Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Aamiin yaa robbal ‘alaamiin,,

 

Tags: , , ,

Kurikulum Homeschooling Azzam : “Jagalah Allah, Dia akan menjagamu,,,”

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا غُلَامُ أَوْ يَا غُلَيِّمُ أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِنَّ فَقُلْتُ بَلَى فَقَالَ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ قَدْ جَفَّ الْقَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ فَلَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ جَمِيعًا أَرَادُوا أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَإِنْ أَرَادُوا أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Dari Ibnu Abbas dia berkata: Aku dibonceng Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan beliau berkata, “Nak, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, semoga Allah memberimu manfaat dengannya.” Aku berkata: Ya Nabi berkata, “Jagalah Allah, Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, kamu akan menjumpai Nya ada di hadapanmu. Kenalilah Dia dalam keadaan lapang, Dia akan mengenalimu di waktu sempit. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Pena telah kering terhadap semua yang ada, maka jika seluruh makhluk ingin memberimu manfaat (menolongmu) dengan sesuatu yang tidak ada dalam takdir Allah untukmu, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Dan jika mereka ingin membahayakan dirimu dengan sesuatu yang tidak ada dalam takdir Allah padamu, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Ketahuilah, sesungguhnya dalam kesabaran terhadap hal yang tidak kamu sukai ada banyak sekali kebaikan. Sesungguhnya kemenangan datang bersama dengan kesabaran. Sesungguhnya solusi datang bersama dengan kesulitan. Dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dia berkata: hasan shahih)

Nasihat panjang ini diberikan Rasulullah pada Abdullah bin Abbas,, Pada saat Rasul meninggal, usia Abdullah Ibnu Abas baru 13 tahun, hal ini berarti Rasul menasihati Ibnu Abbas ketika usianya kurang dari 13 tahun,,, (silahkan merujuk pada http://cahayasiroh.com/parentingnabawiyah/index.php/artikel/pendidik/12-antara-dua-nasehat-rasulullah-bagian-1 dan kisah tentang pemuda luar biasa ini ada di http://www.tarbiyah.net/tokoh/26-abdullah-bin-abbas-pemuda-yang-luas-ilmunya)  Subhannalloh,, Sebuah nasihat panjang untuk usia anak anak,,,

Rasulullah adalah manusia tauladan, nasihatnya tidak akan pernah salah dan tidak akan pernah diberikan pada orang yang salah,, begitupun nasihat yang diberikannya pada Ibnu Abbas,, Rasul tahu persis bahwa nasihat ini layak diberikan untuk anak anak seusia Ibnu Abbas,,

Dengan metode penyampaian nasihat luar biasa untuk anak anak (memboncengi, menyapanya dengan sapaan “Nak” dan menyentuhnya dengan doa), Rasul menasehati Ibnu Abbas kecil dengan nasehat yang isinya luar biasa,,

Nasihat yang sepenuh isinya berisi tentang Tauhidullah,,

Pelajaran luar biasa bagi kami yang masih belajar untuk bisa mendidik anak kami,,

Satu keyakinan kami bahwa nasehat tauhidullah itu mampu dicerna oleh Ibnu Abbas dengan baik,, maka yang menjadi pemikiran adalah proses belajar panjang apa yang telah diterima oleh Ibnu Abbas sehingga diusia 13 tahun ia telah mampu menyerap nasihat yang mungkin bagi kita para orang tua saja masih jauhh dari memahaminya,,

Ya,, Ibnu Abbas telah melalui proses Ma’rifatullahnya dengan luar biasa sehingga diusia kurang dari 13 tahun, Rasul telah mempercayakannya menerima nasihat Tauhidullah yang begitu indah,,

Inilah kurikulum yang kami pilih untuk Azzam,, Karena kami memang mendasarkan pendidikan Azzam berdasarkan Al Quran dan As Sunnah (seperti tulisan terdahulu di menjadi-murabbi-abadi-untuk-azzam/)

Sebagai orang tua yang mengambil metode Home Schooling sebagai metode belajar, maka tanggung jawab menyusun kurikulum acuan ada di tangan kami sendiri,, Kamilah yang harus lebih dulu belajar (Rabbana dengan segala keterbatasan ilmu kami,, bimbing kami yaa Alloh,,,) memahami bagaimana Alloh dan RasulNya mengajarkan untuk membina jundi jundi Islam yang siap menerima Al Islam seutuhnya tanpa reserve,, Bagaimana mendekatkan Azzam pada fitrah Tuhannya,,

  • Jagalah Allah, Dia akan menjagamu.
  • Jagalah Allah, kamu akan menjumpai Nya ada di hadapanmu.
  • Kenalilah Dia dalam keadaan lapang,
  • Dia akan mengenalimu di waktu sempit.
  • Jika kamu minta, mintalah kepada Allah.
  • Jika kamu minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.
  • Pena telah kering terhadap semua yang ada, maka jika seluruh makhluk ingin memberimu manfaat (menolongmu) dengan sesuatu yang tidak ada dalam takdir Allah untukmu, mereka tidak akan sanggup melakukannya.
  • Dan jika mereka ingin membahayakan dirimu dengan sesuatu yang tidak ada dalam takdir Allah padamu, mereka tidak akan sanggup melakukannya.
  • Ketahuilah, sesungguhnya dalam kesabaran terhadap hal yang tidak kamu sukai ada banyak sekali kebaikan.
  • Sesungguhnya kemenangan datang bersama dengan kesabaran.
  • Sesungguhnya solusi datang bersama dengan kesulitan.
  • Dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Satu persatu, kalimat demi kalimat kami resapi,, Dan dengan sadar kami tahu kamilah yang harus mengenalkan Azzam pada Tauhidullah, Kamilah yang harus menjaga fitrah jiwa Azzam sebersih ketika jiwa Azzam ditanya oleh Alloh, Rabb nya,, Alastu bi rabbikum? Bala, syahidnaApakah Aku ini Tuhan kalian? Ya benar, kami menjadi saksi, bahwa Engkau adalah Tuhan kami,, (QS Al A’raf : 172),,

Kamilah yang harus mengenalkan pada Tauhid Rububiyatullah, Tauhid Uluhiyatullah dan Tauhid Asma wa sifat,, Kamilah yang harus mendekatkan Azzam pada kejernihan fitrahnya,, Kami sadar bahwa kami yang harus lebih dulu memahami agar bisa kami mengalirkannya pada Azzam,,

Kami memang sedang pelan pelan menyusun kurikulum,, Walaupun untuk keluarga Home Schooler, pendidikan bukan semata mata harus dipatok pada kurikulum baku,, Kami tetap membuat acuan pendidikan Azzam berdasarkan Al Qur’an dan Hadits,,

Kami membuka pendidikan berbasis rumah kami dengan Kalimat Laa Ilaaha Illalloh,,

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi SAW. bahwa beliau bersabda :

“Bacakanlah kepada anak-anak kamu kalimat pertama dengan La Ilaha Illa Allah”.

Ataupun seperti nasihat ayah teladan yang namanya diabadikan dalam Al Quran, Luqmanul Hakim,,

وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم

“Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman; 13) dan seterusnya sampai akhir ayat (ayat 34) yang keseluruhannya mengandung pelajaran yang besar bagi kami (pun Orang tua lainnya) yang sedang belajar untuk mendidik anak kami,,

Kami juga mencoba mengalirkan ruh ketaatan pada Alloh sesuai nasihat Rasul saw.

Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa ia berkata : “Ajarkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan takut berbuat maksiat kepada Allah serta suruhlah anak-anak kamu untuk mentaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Karena hal itu akan memelihara mereka dan kamu dari api neraka”.

Kami berusaha berproses bersama dalam menghayati pengawasan dan penjagaan Alloh disetiap helaan nafas,, Untuk Azzam pun kami telah mengenalkannya pada “pengawasan melekat” Alloh atas dirinya,, (catatan belajar kami ada di mengalirkan-energi-maiyatulloh-pada-azzam/)

Kami juga membuat acuan berdasarkan Hadits terutama yang memiliki patokan waktu (atau yang memperjelas usia tamyiz – mampu membedakan yang baik dan buruk-, dan usia taklif –baligh-), seperti patokan waktu dalam mengajarkan adab sopan santun,,

“Apabila anak telah mencapai 6 tahun, maka hendaklah diajarkan adab sopan santun” (HR. Ibnu Hibban)

Bagi kami perintah untuk mengajarkan adab sopan santun bukanlah perintah ringan, karena perintah itu berkaitan dengan perintah mengenalkan adab adab yang telah diajarkan oleh Rasul saw. Maka kami dua orang tuanyalah yang harus lebih dahulu memahami, menjalankan dan mencontohkan pada Azzam,,

Seperti adab makan yang memang Rasul contohkan langsung (disampaikan) pada anak,,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu.” (HR. Bukhari no. 5376, Bab Membaca Basmalah ketika Makan dan Makan dengan Tangan Kanan; Muslim no. 2022, Bab Adab Makan-Minum dan Hukumnya)

Atau patokan waktu memerintahkan Sholat bagi anak,,

Al Hakim dan Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Amr bin Al-‘Ash ra. Dari Rasulullah saw. Beliau bersabda

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

Perintahkanlah anak-anakmu menjalankan ibadah shalat pada usia 7 tahun. Pukullah mereka pada usia 10 tahun, dan pisahkan juga mereka dari tempat tidur mereka (HR Hakim) (Sunan Abi Dawud kitab as-shalat bab mata yu`marul-ghulam bis-shalat no. 495. Hadits hasan shahih).

Bagi kami, perintah untuk memerintahkan anak menjalankan ibadah sholat bukan hanya sekedar memerintahkan anak,, Kitalah kedua orangtuanya yang harus lebih dahulu mencontohkan dan mengajarkan (mempersiapkan anak) hal hal apa saja yang berkaitan dengan sempurnanya Sholat, dimulai dari mengajarkannya berwudhu, berhadats, mengenal aurat, mengenal thaharah,,,, Inilah yang harus kami persiapkan sebelum Azzam berusia 7 tahun,,

Begitupula dalam menginternalisasi nasihat Rasulullah untuk Abdullah Ibnu Abbas,, kamilah yang bertanggung jawab mempersiapkan Azzam sehingga diusianya kelak (InsyaAlloh) menjelang 13 tahun, Azzam (dan kami tentunya) telah bisa menyerap nasihat mulia itu,,

Kami pun berusaha untuk bisa menunanikan nasihat Rasul Saw.,,

At-Thabrani meriwayatkan dari Ali ra. bahwa Nabi bersabda :

“Didiklah anak-anak kamu pada tiga perkara : Mencintai Nabi kamu, mencintai ahli baitnya dan membaca Al-Quran . Sebab, orang yang memelihara Al Qur’an itu berada dalam lindungan singgasana Allah pada hari dimana tidak ada perlindungan selain daripada perlindunga-Nya beserta para Nabi-Nya dan orang-orang suci”.

Begitulah kami menyusun kurikulum Home Education untuk Azzam ,,,,, perlahan,, dengan segala keterbatasan ilmu kami,,   (Insyaalloh http://ayahbundaazzam.wordpress.com/category/kurikulum-home-education-azzam/ ini kurikulum yang telah dibuat,,)

Rabbanaa kami rasai benar kefakiran ilmu kami,, Wahai Rabbul ‘Aliim mudahkanlah kami dalam belajar,, berkahilah kami dengan ilmu yang mendekatkan kami pada ketundukan pada Mu,, Aamiin,,

 

Tags: , ,

Menjadi Murabbi Abadi Untuk Azzam,,

Adalah sebuah tanggung jawab yang harus dengan sadar diemban,, karena dengan kesadaran penuhlah seorang murabbi akan tahu apa apa yang harus dipersiapkannya,, Kesadaran ini sesungguhnya telah Alloh susupkan dalam hati sejak sebelum Azzam lahir, tetapi Kesadaran untuk mempersiapkan diri mungkin terasa berjalan dengan lambat,, diantara kelambatan berjalan inilah ternyata Alloh menyediakan kesempatan demi kesempatan untuk mensyukuri apa yang setahap demi setahap dipelajari,,

Mengenal Azzam dari hari ke hari adalah proses yang luar biasa, mengenalnya mendorong ayah dan bunda untuk terus belajar,,

Menjadi Murabbi adalah bukan sebuah tanggung jawab main main,, menulis apa apa yang ayah dan  bunda lalui dalam proses belajar adalah salah satu cara menunjukkan kesungguhan karena, satu saat nanti kami lupa maka tulisan tulisan ini akan menjadi salah satu penginggat bagi keluarga kami,,

Kami adalah Muslim maka pendidikan bagi kami adalah sebuah jalan untuk menaiki tangga tangga menuju kehidupan yang lebih baik berdasarkan Al Quran dan As Sunnah,,

Hal mendasar yang membedakan pendidikan bagi kami dengan pendidikan umum adalah kami melandaskan pendidikan (yang kami sebut sebagai Tarbiyah) pada tiga landasan utama,,

Landasan  pertama dalam Tarbiyah Islamiyah adalah berAqidahkan Islam,,

Aqidah dalam Islam adalah mengEsakan Alloh (Tauhidullah).

Bagi kami segala langkah hidup kami haruslah belandaskan pada menerima Alloh sebagai satu satunya Pencipta, Pemberi Rizqi  dan Pengatur segala urusan makhluq-Nya (Tauhid Rububiyatullah)

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ

Artinya : “Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. (QS. Ar Ra’du : 16)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya : “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31)

Menerima Alloh sebagai satu satunya yang berhak di Ibadahi (Tauhid Uluhiyatullah).

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya : “Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad : 19)

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163

Artinya : “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al An’am : 162 – 163)

قل الله أعبد مخلصا له ديني

Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. (QS Az Zumar : 14)

Dan menerima Alloh, meniadakan yang setara dan semisal bagi dzat Alloh dalam sifat dan perbuatan-Nya (tauhid Asma wa sifat)

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4

Artinya : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas : 1 – 4)

Landasan kedua adalah al-ibadah ash-shahihah atau ibadah yang benar terhadap Alloh sesuai dengan syariat yang tercantum dalam Al Quran dan Sunnah Nabi saw.

Dan landasan ketiga adalah al qiyamu al Khuluqiyah atau membangun nilai akhlak.

Seluruh proses belajar kami ini kami tujukan untuk mentauhidkan Alloh, berusaha semaksimal mungkin Mengikuti Manhaj Alloh (Al Qur’an dan As Sunnah) dan berusaha memenuhi amanah Alloh untuk memakmurkan bumi sesuai dengan manhaj-Nya,,

Dengan dasar inilah kami berproses bersama,, Perlahan,, setahap demi setahap,,

Kami memilih Home Based Learning sebagai metode yang kami rasa bisa membawa kami berproses pada tujuan tujuan kami,, Apakah kami mengganggap diri kami cukup untuk mendidik Azzam ,,?? Tidak,, kami masih jauhh dari cukup,, karena itulah kami berproses bersama,,

Kami memang tidak menitipkan pendidikan Azzam pada sekolah karena kami merasa Sekolah (untuk usia Azzam saat ini) tidak lah lebih baik dari Rumah untuk menetapan pondasi awal terutama untuk mengalirkan makna Tauhidullah,,

Kami memang bukan pengajar hebat, untuk itulah kami tidak berhenti untuk belajar,, Satu hari nanti, insyaAlloh kami akan membawa Azzam pada guru guru yang memang Alloh karuniakan keluasan Ilmu untuk mendidik Azzam,, Tugas kami sekarang bukan menjadikan Azzam manusia yang tahu segalanya, tapi tugas kami adalah bagaimana agar Azzam mencintai proses belajar dan bisa belajar dengan bahagia,, Kami berharap ketika kecintaan terhadap belajar telah tumbuh dan menjadi akhlak, Azzam akan siap menimba Ilmu dari guru guru yang sebenarnya,,

Semoga langkah langkah kami dalam belajar ini mendekatkan kami pada Alloh Ta’ala dan semoga Alloh memberkahi seluruh langkah dan usaha kami,, Aamiin,,

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (H.R Muslim)

 

Tags: , , ,